Penulis: Berri Brilliant Albar, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas
PADEK.JAWAPOS.COM–Pernahkah Anda makan di restoran cepat saji dan merasa ingin segera menghabiskan makanan lalu pergi? Atau sebaliknya, saat berada di kafe estetis, Anda merasa betah berjam-jam mendengarkan petikan gitar akustik sambil perlahan menyeruput kopi yang sudah dingin?
Banyak dari kita mengira hal itu murni karena suasana, rasa makanan, atau kenyamanan kursi. Namun, ilmu neuromarketing, atau sains yang mempelajari cara otak merespons strategi pemasaran, punya jawaban lain yang lebih halus: ini semua gara-gara tempo musik.
Tanpa kita sadari, otak manusia memiliki kecenderungan alami untuk menyelaraskan diri dengan lingkungan sekitar. Ketika telinga kita menangkap gelombang suara, otak akan memprosesnya dan mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh untuk menyesuaikan ritme, termasuk ritme kunyahan dan gerakan tangan saat makan.
Musik Cepat: “Makan, Bayar, Lalu Silakan Pergi”
Restoran cepat saji (fast food) adalah master dalam taktik ini. Mereka sering memutar musik dengan tempo cepat atau upbeat (di atas 100 BPM). Mengapa? Riset klasik dari Profesor Ronald Milliman yang dipublikasikan dalam Journal of Consumer Research menunjukkan bahwa musik bertempo cepat memicu respons psikologis yang membuat orang bertindak lebih cekatan dan tergesa-gesa.
Efek dominonya luar biasa bagi bisnis:
- Mengunyah lebih cepat: Pengunjung akan mengunyah makanan mereka dengan ritme yang lebih buru-buru.
- Perputaran meja (table turnover) tinggi: Karena makan lebih cepat, pengunjung akan selesai lebih cepat dan segera mengosongkan meja.
Bagi restoran yang mengandalkan volume penjualan dan antrean panjang, semakin cepat Anda pergi, semakin banyak omzet yang mereka dapatkan dari pelanggan berikutnya.
Musik Lambat: Trik Bikin Betah dan Belanja Lebih Banyak
Berbanding terbalik dengan kedai kopi atau restoran mewah (fine dining). Mereka justru sengaja memutar musik bertempo lambat (di bawah 70 BPM).
Saat musik lambat mengalun, otak menangkap sinyal bahwa lingkungan dalam kondisi aman dan santai. Studi neurosains konsumen menunjukkan bahwa stimulus auditori yang tenang ini menurunkan tingkat kewaspadaan otak dan membuat gelombang otak lebih rileks. Dampaknya:
- Makan lebih lambat: Kita menikmati setiap gigitan, mengobrol lebih lama, dan betah berdiam diri.
- Tagihan lebih bengkak: Menariknya, penelitian Milliman juga menemukan bahwa ketika latar belakang musik melambat, penjualan makanan tambahan atau minuman justru melonjak hingga 40%.
Secara psikologis, benteng pertahanan kita untuk berhemat melunak karena otak berada dalam fase nyaman (pleasurable state).
Menjadi Konsumen yang Lebih “Sadar”
Jadi, musik di restoran itu sebenarnya bukan sekadar pelengkap suasana sepi atau hiburan bagi pelayan toko. Musik merupakan bagian dari strategi pemetaan ruang visual dan auditori yang sangat efektif untuk memengaruhi kenyamanan sekaligus perilaku belanja kita.
Berikutnya, saat Anda melangkah masuk ke tempat makan, coba pasang telinga baik-baik. Dengarkan temponya, lalu tanyalah pada diri sendiri, “Apakah saya benar-benar lapar, atau ritme makan saya sedang diselaraskan oleh lagu ini?” (*)
Editor : Heri Sugiarto