Dikunyah atau Buru-Buru? Rahasia di Balik Ritme Musik Restoran

Berri Brilliant Albar • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:09 WIB
Ilustrasi Makan di Restoran (Foto: rawpixel from Pixabay)
Ilustrasi Makan di Restoran (Foto: rawpixel from Pixabay)

Penulis: Berri Brilliant Albar, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas

PADEK.JAWAPOS.COM–Pernahkah Anda makan di restoran cepat saji dan merasa ingin segera menghabiskan makanan lalu pergi? Atau sebaliknya, saat berada di kafe estetis, Anda merasa betah berjam-jam mendengarkan petikan gitar akustik sambil perlahan menyeruput kopi yang sudah dingin?

Banyak dari kita mengira hal itu murni karena suasana, rasa makanan, atau kenyamanan kursi. Namun, ilmu neuromarketing, atau sains yang mempelajari cara otak merespons strategi pemasaran, punya jawaban lain yang lebih halus: ini semua gara-gara tempo musik.

Tanpa kita sadari, otak manusia memiliki kecenderungan alami untuk menyelaraskan diri dengan lingkungan sekitar. Ketika telinga kita menangkap gelombang suara, otak akan memprosesnya dan mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh untuk menyesuaikan ritme, termasuk ritme kunyahan dan gerakan tangan saat makan.

Musik Cepat: “Makan, Bayar, Lalu Silakan Pergi”

Restoran cepat saji (fast food) adalah master dalam taktik ini. Mereka sering memutar musik dengan tempo cepat atau upbeat (di atas 100 BPM). Mengapa? Riset klasik dari Profesor Ronald Milliman yang dipublikasikan dalam Journal of Consumer Research menunjukkan bahwa musik bertempo cepat memicu respons psikologis yang membuat orang bertindak lebih cekatan dan tergesa-gesa.

Efek dominonya luar biasa bagi bisnis:

Bagi restoran yang mengandalkan volume penjualan dan antrean panjang, semakin cepat Anda pergi, semakin banyak omzet yang mereka dapatkan dari pelanggan berikutnya.

Musik Lambat: Trik Bikin Betah dan Belanja Lebih Banyak

Berbanding terbalik dengan kedai kopi atau restoran mewah (fine dining). Mereka justru sengaja memutar musik bertempo lambat (di bawah 70 BPM).

Saat musik lambat mengalun, otak menangkap sinyal bahwa lingkungan dalam kondisi aman dan santai. Studi neurosains konsumen menunjukkan bahwa stimulus auditori yang tenang ini menurunkan tingkat kewaspadaan otak dan membuat gelombang otak lebih rileks. Dampaknya:

Secara psikologis, benteng pertahanan kita untuk berhemat melunak karena otak berada dalam fase nyaman (pleasurable state).

Menjadi Konsumen yang Lebih “Sadar”

Jadi, musik di restoran itu sebenarnya bukan sekadar pelengkap suasana sepi atau hiburan bagi pelayan toko. Musik merupakan bagian dari strategi pemetaan ruang visual dan auditori yang sangat efektif untuk memengaruhi kenyamanan sekaligus perilaku belanja kita.

Berikutnya, saat Anda melangkah masuk ke tempat makan, coba pasang telinga baik-baik. Dengarkan temponya, lalu tanyalah pada diri sendiri, “Apakah saya benar-benar lapar, atau ritme makan saya sedang diselaraskan oleh lagu ini?” (*)

Editor : Heri Sugiarto
Perilaku Konsumen neuromarketing Musik restoran Ritme makan Strategi Pemasaran