Anatomi Keren: Mengapa Sepatu Tipe High-Top Selalu Terlihat Lebih Berkarakter?

Berri Brilliant Albar • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 11:03 WIB
Ilustrasi Sepatu Tipe High-Top (Foto: SplitShire from Pixabay)
Ilustrasi Sepatu Tipe High-Top (Foto: SplitShire from Pixabay)

Penulis: Berri Brilliant Albar, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas

PADEK.JAWAPOS.COM–Jika kita membuka lemari sepatu atau mengamati tren di jalanan, ada satu hukum tak tertulis dalam dunia streetwear dan mode: alas kaki berpotongan tinggi (high-top) selalu berhasil mencuri perhatian lebih besar. Sepatu seperti Converse All Star High yang legendaris, Air Jordan 1 Mid/High, hingga ketangguhan boots dari Dr. Martens dan Palladium selalu memiliki aura yang berbeda dibandingkan dengan saudara kembar mereka yang berpotongan rendah (low-top).

Ketika seseorang memakai alas kaki tipe high, ada kesan berani, modis, dan penuh karakter yang langsung terpancar. Mengapa sepasang sepatu yang tingginya melewati mata kaki beberapa sentimeter ini bisa memiliki dampak psikologis yang begitu besar terhadap persepsi "keren"?

1. Rekayasa Proporsi dan Hukum Visual Framing

Secara psikologi visual, sepatu high-top bekerja sebagai alat rekayasa arsitektur tubuh manusia. Dalam estetika mode, pergelangan kaki adalah titik transisi kritis. Sepatu berpotongan rendah memotong garis kaki tepat di bawah mata kaki, yang sering kali membuat siluet tubuh terlihat biasa saja.

Sebaliknya, sepatu high-top atau boots membingkai (framing) pergelangan kaki hingga betis bagian bawah secara utuh. Potongan tinggi ini menciptakan kontinuitas visual yang mempertegas struktur kaki, memberikan ilusi kaki yang lebih kokoh, jangkung, dan proporsional. Secara tidak sadar, mata manusia menyukai garis kontur yang tegas dan mengalir.

Alas kaki tipe high mengubah fungsi dari sekadar penutup kaki menjadi "fondasi visual" yang mengikat seluruh pakaian dari atas ke bawah.

2. Romantisme Sejarah: Sinyal Pemberontakan dan Kejayaan

Daya pikat alas kaki tipe high tidak bisa dipisahkan dari sejarah penggunanya. Dalam teori perilaku konsumen, kita tidak hanya membeli produk fisik, melainkan juga membeli cerita dan identitas di baliknya (identity loyalty).

Ketika kita memakai sepatu-sepatu ini, otak kita secara otomatis mengasosiasikan diri dengan para ikon budaya tersebut. Kesan keren itu muncul karena potongan high bertindak sebagai sartorial signaling, sebuah sinyal budaya yang berisik, memberi tahu dunia bahwa si pemakai paham akan sejarah modenya dan berani tampil beda di tengah lautan orang yang memakai sepatu low-top yang aman dan konvensional.

3. Efek Psikologis Hug to the Ankle (Pelukan pada Pergelangan)

Alasan ketiga bersifat sensorik dan neuromarketing. Mengenakan sepatu tinggi atau boots memberikan sensasi fisik yang sangat spesifik, yaitu rasa "terkunci" dan terlindungi di bagian pergelangan kaki (ankle support).

Secara evolusioner, proteksi fisik pada sendi tubuh memicu rasa aman yang lebih tinggi di otak. Sensasi pelukan erat dari bahan kanvas atau kulit tebal pada sepatu tipe high ini secara psikologis mentransfer sinyal "kekuatan" dan ketegapan.

Dampaknya? Pemakai sepatu high-top secara tidak sadar akan berjalan dengan postur tubuh yang lebih tegak, langkah kaki yang lebih mantap, dan tatapan yang lebih percaya diri. Keren, pada akhirnya, adalah pancaran dari rasa aman yang dirasakan oleh tubuh.

Konsekuensi Estetika: Drama di Security Checkpoint Bandara

Tentu saja, predikat keren ini tidak datang tanpa kompensasi pengorbanan. Ada satu momen krusial ketika kebanggaan memakai sepatu high-top atau boots ini mendadak diuji: pemeriksaan keamanan bandara.

Ketika Anda harus melewati metal detector di bandara, petugas AVSEC hampir pasti akan meminta Anda untuk melepas sepatu tinggi tersebut karena strukturnya yang tebal atau memiliki komponen logam. Di saat penumpang lain yang memakai sepatu slip-on atau low-top bisa melenggang pasrah dengan cepat, Anda harus rela menepi, duduk, dan menghabiskan waktu beberapa menit untuk melonggarkan tali sepatu yang panjang demi membukanya.

Ini adalah sebuah kerumitan kecil yang nyata. Namun, bagi pencinta estetika, kerepotan sesaat di bandara adalah harga yang sangat murah untuk membayar penampilan yang berkarakter sepanjang perjalanan.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Alas Kaki

Memilih alas kaki tipe high adalah sebuah fashion statement yang disengaja. Ia membutuhkan sedikit usaha lebih, mulai dari cara mengikat tali yang lebih rumit, mencocokkan potongan celana yang pas, hingga kesabaran ekstra saat bepergian. Namun, justru di situlah letak kemewahannya: keindahan yang menuntut usaha selalu dihargai lebih tinggi.

Jadi, tidak perlu heran mengapa Converse tinggi, Jordan, hingga boots Dr. Martens dan Palladium selalu terlihat lebih memikat. Karena mereka tidak diciptakan hanya untuk menemani Anda berjalan di atas tanah, melainkan untuk menegaskan kepada dunia ke mana arah karakter dan langkah kaki Anda melangkah. (*)

Editor : Heri Sugiarto
Perilaku Konsumen Sepatu high-top Psikologi fashion Tren streetwear Fashion statement