Menjunjung Marwah dalam Balutan Tradisi: 14 Dosen Perempuan Unand Menjadi “Anak Daro” di Lustrum XIV

Oknovia Susanti • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 19:00 WIB
Dosen perempuan Unand tampil sebagai anak daro dalam Lustrum XIV, menghidupkan kembali filosofi busana adat dan marwah perempuan Minang.
Dosen perempuan Unand tampil sebagai anak daro dalam Lustrum XIV, menghidupkan kembali filosofi busana adat dan marwah perempuan Minang.

Oleh Dr. Ir. Oknovia Susanti, S.T., M.Eng., IPM, ASEAN Eng.

Puncak perayaan Dies Natalis ke-70 (Lustrum XIV) Universitas Andalas yang diselenggarakan pada 14 September 2026 di Pangeran Beach Hotel, Padang, lalu, berlangsung memukau. Sebanyak 14 anak daro tampil memesona dalam balutan busana adat Minangkabau yang megah, bersulam indah, dan sarat akan marwah.

Deretan anak daro yang menyalakan panggung malam itu memiliki keistimewaan tersendiri. Mereka bukanlah remaja, melainkan para dosen perempuan Universitas Andalas yang datang dari beragam disiplin ilmu dan bidang keahlian.

Ke-14 akademisi yang memperagakan keanggunan busana adat tersebut adalah Dr. Dra. Mairawita Marlis Rahman, M.Si.; Dr. Ir. Oknovia Susanti, S.T., M.Eng., IPM, ASEAN Eng.; Prof. Dr. Solfiyeni Karimi, M.P.; Prof. Apt. Fatma Sri Wahyuni, Ph.D.; Dr. Nani Mulyati, S.H., M.C.L.; Prof. Dr. dr. Rima Semiarty, MARS, FISPH, FISCM, SpKKLP, SubspCOPC; Dr. Yussy A. Mannas, S.H., M.H.; Dr. Elva Ronaning Roem, M.Si.; Prof. Henny Herwina, M.Si., M.Sc., Ph.D.; Dr. Ir. Eka Candra Lina, S.P., M.Si., IPM; Prof. Shinta Indah, S.Si., M.T., Ph.D.; Prof. Dr. dr. Rizanda Machmud, M.Kes., FISPH, FISCM, SpKKLP, SubspFOMC; Sari Lenggogeni, S.E., M.M., M.Par., PgDipl., Ph.D.; serta Prof. Dr. Ir. Reni Mayerni, M.P.

Acara ini menyajikan ragam pakaian pengantin Minang yang masing-masing menyimpan cerita dan makna tersendiri. Salah satunya adalah suntiang Solok. Perpaduan gaun hitam dan mahkota emas menghadirkan karakter visual sekaligus filosofi yang sangat khas.

Berbeda dari mahkota daerah lain, suntiang Solok memiliki tingkat kerapatan kembang goyang (kambang) yang khas, terdiri atas tujuh hingga sembilan tingkat yang dirangkai dengan amat teliti. Kilau emasnya memberikan kesan mewah dan klasik tanpa mengabaikan nilai keagungan adat. Bobot suntiang menjadi simbol tanggung jawab seorang istri dan bundo kanduang dalam menjaga kehormatan kaum.

Kemampuan pengantin untuk tetap berdiri tegak dan tersenyum anggun di bawah beban suntiang mencerminkan ketabahan dan keteguhan hati. Suntiang bukan sekadar perhiasan, melainkan lambang martabat seorang gadis yang disunting sebagai ratu sehari untuk membawa nama baik keluarganya.

Demikian pula dengan tikuluak di Ranah Minang. Tikuluak atau tingkuluak adalah penutup kepala tradisional perempuan Minangkabau yang dibuat dari selendang atau kain sarung tenun. Lebih dari sekadar pelindung atau pelengkap busana, tikuluak merupakan simbol kehormatan, status sosial, dan filosofi hidup sebagai limpapeh rumah nan gadang.

Membicarakan perempuan dan pakaian dalam tradisi Minangkabau berarti membicarakan dua hal yang bertali erat dan tak terpisahkan. Dalam konteks sosial dan adat Ranah Minang, perempuan merupakan pilar utama sebagai bundo kanduang yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan keanggunan.

Citra tersebut menemukan wujudnya ketika perempuan mengenakan busana adat. Lebih dari sekadar kain dan hiasan, setiap elemennya merupakan visualisasi dari pandangan hidup “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.

Setiap lekuk, sulaman, hingga hiasan kepala bukan sekadar pelengkap estetika. Di dalamnya terpaut nilai keluhuran budi pekerti, raso jo pareso, malu jo sopan, keteguhan hati, serta tanggung jawab menjaga nama baik keluarga dan kaum.

Berbusana adat bagi perempuan Minangkabau adalah sebuah ritual untuk menghadirkan kembali memori kolektif kita sebagai bangsa. Dalam balutan busana adat yang anggun, perempuan Minang tidak sekadar hadir mengisi ruang-ruang baralek atau menjadi pajangan visual yang diukur dari kemewahan pakaiannya. Di balik semua itu, terdapat makna mendalam tentang siapa sesungguhnya diri mereka.

Dalam setiap jelujur tenun dan sulamannya, terpaut falsafah tahu di nan ampek, kepekaan raso jo pareso, serta kerendahan hati malu jo sopan. Setiap kombinasi warna dan motifnya seakan menjadi kitab terbuka yang mengajarkan bahwa kecantikan tidak hanya terpancar dari rupa, tetapi juga dari budi pekerti, pikiran, tutur kata, dan keberadaan yang memberi nilai.

Perempuan Minang bukan sekadar penerus garis keturunan. Ia adalah limpapeh rumah nan gadang—tiang utama penyangga rumah adat, sekaligus penjaga keutuhan dan kesejahteraan keluarga.

Dari pangkuan merekalah generasi baru pertama kali mengecap pendidikan moral; belajar mengenali batas antara yang patut dan yang sumbang. Mereka menanamkan fondasi adat, ajaran agama, kesantunan, rasa malu, serta budi pekerti yang luhur demi masa depan kaumnya.

Parade pakaian adat itu telah usai, namun pesan yang tertinggal tak lantas pudar. Di balik setiap helai yang dikenakan, tersimpan amanah untuk menjunjung tinggi nama rumah gadang, memelihara bisik petuah leluhur, serta merawat nilai-nilai yang menuntun hubungan kita—baik dengan sesama manusia maupun dengan Sang Pencipta.

Panitia mungkin menamainya “Symphony of Minang Heritage”, namun bagi saya, ia adalah pertemuan yang indah antara ilmu, perempuan Minang, dan kebudayaan—sebuah perjumpaan yang memperlihatkan bahwa tradisi tidak sekadar diwariskan, tetapi juga dihidupkan kembali oleh mereka yang terus belajar, berkarya, dan mengabdi. (*)

Editor : Hendra Efison
dosen perempuan Anak Daro Budaya Minangkabau universitas andalas busana adat