81 Tahun Sumatera Barat: Merawat Tuah, Membangun Ranah, Menjaga Marwah

Ulul Azmi • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 11:37 WIB
Ir Ulul Azmi, Ketua Kerukunan Keluarga Sumatera Barat (KKSB) Kota Pekanbaru.
Ir Ulul Azmi, Ketua Kerukunan Keluarga Sumatera Barat (KKSB) Kota Pekanbaru.

Oleh: Ir. Ulul Azmi, S.T., M.Si., CST., IPM., ASEAN Eng.
Ketua Kerukunan Keluarga Sumatera Barat (KKSB) Kota Pekanbaru | Praktisi Keinsinyuran dan Keselamatan Publik

Tanggal 1 Oktober bukan sekadar momentum bertambahnya usia Sumatera Barat. Bagi masyarakat Minangkabau, baik yang berada di ranah maupun di rantau, hari jadi Sumatera Barat semestinya menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan kampung halaman: apa yang telah kita bangun, apa yang masih tertinggal, apa yang harus kita benahi, dan ke mana Sumatera Barat hendak kita bawa.

Sumatera Barat memiliki modal yang tidak kecil. Alam yang kaya, budaya yang kuat, masyarakat yang kritis, tradisi pendidikan yang panjang, serta jaringan perantau yang tersebar di berbagai daerah, bahkan hingga mancanegara. Namun, modal besar tersebut harus mampu diterjemahkan menjadi kemajuan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Sebagai praktisi keinsinyuran sekaligus bagian dari masyarakat Minangkabau di rantau, saya melihat pembangunan Sumatera Barat ke depan perlu semakin berani menempatkan kualitas, keselamatan, keberlanjutan lingkungan, ketahanan terhadap bencana, dan konektivitas sebagai satu kesatuan.

Kita hidup di wilayah dengan karakter geografis yang tidak sederhana. Pegunungan, lembah, sungai, dan garis pantai merupakan anugerah sekaligus menghadirkan tantangan. Kondisi tersebut menuntut pembangunan yang tidak boleh dilakukan dengan pendekatan biasa-biasa saja.

Jalan, jembatan, bangunan publik, kawasan permukiman, sistem transportasi, hingga pengelolaan lingkungan harus dirancang bukan hanya untuk selesai dibangun, tetapi untuk aman, berfungsi dalam jangka panjang, dan mampu menghadapi berbagai risiko.

Di sinilah keinsinyuran memiliki tanggung jawab yang besar.

Seorang insinyur tidak semata berbicara mengenai beton, baja, mesin, ataupun teknologi. Di balik setiap rancangan terdapat keselamatan manusia. Di balik setiap infrastruktur terdapat kehidupan masyarakat yang bergantung kepadanya. Karena itu, pembangunan Sumatera Barat harus semakin kuat berlandaskan kajian teknis, mitigasi risiko, keselamatan publik, serta keberlanjutan lingkungan.

Bagi masyarakat Minangkabau, alam memiliki kedudukan istimewa. Kita sejak lama mengenal filosofi “Alam takambang jadi guru”. Filosofi tersebut hari ini seharusnya tidak berhenti sebagai ungkapan budaya. Ia harus diterjemahkan ke dalam cara kita mengelola pembangunan.

Banjir, longsor, galodo, dan berbagai bencana hidrometeorologi yang terjadi dari waktu ke waktu harus menjadi bahan evaluasi bersama. Memang tidak semua bencana dapat dicegah, tetapi risiko dan dampaknya dapat dikurangi apabila pembangunan dilakukan dengan memahami karakter wilayah, menjaga daerah aliran sungai, mempertahankan fungsi hutan dan daerah resapan, serta menjalankan tata ruang secara konsisten.

Kita juga perlu memberikan perhatian serius terhadap pembukaan kawasan yang tidak terkendali, kerusakan daerah aliran sungai, sedimentasi, persoalan sampah, serta aktivitas pertambangan dan penebangan yang tidak sesuai ketentuan. Illegal mining dan illegal logging tidak boleh dibiarkan menjadi warisan persoalan bagi generasi berikutnya.

Ketika hulu kehilangan fungsi ekologisnya, masyarakat di hilir dapat menerima akibatnya. Ketika lereng kehilangan daya dukung, ketika aliran air berubah, atau ketika pembangunan mengabaikan karakter tanah dan lingkungan, pada akhirnya manusia yang menanggung risikonya.

Selama ini perhatian kita sering menjadi sangat besar setelah bencana terjadi. Ke depan, perhatian yang sama besarnya harus diberikan kepada pencegahan sebelum bencana terjadi. Dalam perspektif keselamatan dan keinsinyuran, pencegahan merupakan investasi.

Karena itu, mitigasi bencana harus hadir sejak tahap perencanaan: dalam desain jalan dan jembatan, permukiman, drainase, pengelolaan sungai, pembangunan kawasan, hingga kebijakan tata ruang. Pembangunan dan lingkungan tidak seharusnya dipertentangkan. Justru ilmu pengetahuan dan keinsinyuran harus mampu menemukan titik temu antara kebutuhan manusia dengan kemampuan alam menopangnya.

Konektivitas menjadi pekerjaan penting lainnya. Hubungan Sumatera Barat dengan provinsi tetangga, terutama Riau, mempunyai arti strategis. Pekanbaru dan berbagai daerah di Riau sejak lama menjadi salah satu tujuan utama masyarakat Minangkabau untuk merantau, berdagang, bekerja, menempuh pendidikan, dan membangun usaha.

Karena itu, bagi kami yang berada di rantau, pembangunan konektivitas Riau–Sumbar bukan hanya persoalan infrastruktur. Ia adalah jembatan antara ranah dan rantau.

Dalam konteks tersebut, penyelesaian konektivitas jalan tol Riau–Sumbar harus menjadi perhatian bersama. Tol Riau–Sumbar harus dilanjutkan dan dituntaskan.

Kita tentu memahami pembangunan infrastruktur sebesar ini menghadapi persoalan teknis, pembiayaan, pembebasan lahan, dan tantangan geografis yang tidak sederhana. Namun, tantangan tersebut semestinya mendorong kita mencari penyelesaian, bukan kehilangan arah terhadap tujuan besarnya.

Ketika akses Riau–Sumbar semakin baik, yang bergerak bukan hanya kendaraan. Produk UMKM bergerak, hasil pertanian bergerak, pariwisata berkembang, distribusi barang semakin terbuka, investasi mendapatkan ruang baru, dan kesempatan ekonomi bagi masyarakat juga semakin luas.

Konektivitas yang semakin baik juga akan memperkuat hubungan ekonomi Sumatera Barat dengan Riau dan kawasan Sumatera bagian tengah.

Namun, sebagai praktisi keinsinyuran, saya juga ingin menegaskan bahwa tuntas tidak boleh berarti mengabaikan keselamatan dan lingkungan.

Karakter geografis Sumatera Barat membutuhkan standar perencanaan dan konstruksi yang tinggi. Kajian geologi, geoteknik, hidrologi, stabilitas lereng, risiko bencana, keselamatan konstruksi, dan dampak lingkungan harus benar-benar menjadi dasar dalam pembangunan.

Kita tidak hanya membutuhkan tol yang selesai. Kita membutuhkan infrastruktur yang aman, andal, berkelanjutan, dan mampu menghadapi karakter alam Sumatera Barat.

Sumatera Barat tentu tetap membutuhkan pembangunan. Kita membutuhkan jalan yang baik, jembatan yang aman, konektivitas antardaerah, transportasi yang efisien, pengelolaan sumber daya air yang baik, serta berbagai infrastruktur yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun, pilihannya tidak boleh dipersempit menjadi antara membangun atau menjaga lingkungan. Kita harus melakukan keduanya.

Kajian geologi, hidrologi, risiko bencana, keselamatan konstruksi, dan dampak lingkungan harus benar-benar menjadi dasar pengambilan keputusan, bukan sekadar pemenuhan administrasi.

Infrastruktur yang baik bukan hanya infrastruktur yang selesai tepat waktu. Infrastruktur yang baik adalah yang aman, berfungsi, tahan terhadap risiko, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan tidak mewariskan persoalan lingkungan baru.

Di sinilah salah satu tanggung jawab etik profesi keinsinyuran: etika setiap rancangan, lestari dalam langkah.

Namun, pembangunan fisik saja tentu tidak cukup.

Sumatera Barat dibesarkan oleh kekuatan manusianya. Sejarah Minangkabau menunjukkan bagaimana pendidikan, tradisi berdiskusi, keberanian merantau, dan kemampuan beradaptasi telah melahirkan banyak tokoh yang memberikan kontribusi bagi Indonesia. Warisan tersebut harus terus diterjemahkan sesuai tantangan zaman.

Generasi muda Sumatera Barat perlu semakin dekat dengan ilmu pengetahuan, teknologi, keinsinyuran, kewirausahaan, dan kompetensi profesional tanpa kehilangan akar adat dan budayanya.

Kita membutuhkan generasi yang mampu bersaing secara global, tetapi tetap mengenal kampungnya. Generasi yang menguasai teknologi, tetapi memiliki etika. Generasi yang berani membangun, tetapi memahami bahwa alam juga mempunyai batas.

Pada titik inilah saya melihat rantau memiliki tanggung jawab moral terhadap kampung halaman.

Merantau dalam filosofi Minangkabau bukanlah meninggalkan kampung. Merantau adalah memperluas pengalaman, membangun kemampuan, dan memperkuat jaringan. Pada waktunya, pengetahuan, pengalaman, dan jaringan tersebut semestinya ikut memberikan manfaat kepada kampung halaman.

Potensi para perantau—baik pengusaha, profesional, akademisi, insinyur, maupun berbagai profesi lainnya—merupakan kekuatan besar yang dapat dipertemukan dengan kebutuhan pembangunan Sumatera Barat.

Ranah dan rantau tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri.

Kita membutuhkan lebih banyak kolaborasi konkret: investasi yang produktif, transfer pengetahuan, penguatan UMKM, pembangunan SDM, dukungan pendidikan, inovasi teknologi, serta keterlibatan profesional dalam menjawab persoalan pembangunan dan lingkungan di kampung halaman.

Hubungan itu juga tidak boleh hanya muncul ketika kampung sedang menghadapi musibah. Ranah dan rantau harus terkoneksi dalam sebuah agenda pembangunan jangka panjang.

Memasuki usia ke-81, Sumatera Barat perlu terus bergerak maju tanpa kehilangan jati dirinya.

Modernisasi tidak harus menghilangkan adat. Infrastruktur tidak harus mengorbankan lingkungan. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengabaikan keselamatan. Kemajuan teknologi tidak boleh meninggalkan manusia. Dan merantau tidak berarti melupakan kampung halaman.

Filosofi “Alam takambang jadi guru” terasa semakin relevan dalam menghadapi tantangan hari ini.

Kalau alam adalah guru, maka perubahan yang terjadi pada alam harus mampu kita baca. Banjir mengajarkan pentingnya menjaga aliran air dan daerah resapan. Longsor mengingatkan tentang keseimbangan lereng dan tutupan lahan. Galodo mengajarkan bahwa ruang hidup manusia harus direncanakan dengan memahami karakter alam.

Jangan menunggu alam memberikan pelajaran dengan harga yang terlalu mahal.

Pada akhirnya, pembangunan terbaik bukanlah sekadar tentang apa yang mampu kita bangun hari ini. Ukuran keberhasilan pembangunan adalah apa yang mampu kita wariskan dengan aman, bermanfaat, dan tetap lestari kepada generasi berikutnya.

Di usia ke-81 ini, Sumatera Barat mempunyai pekerjaan besar: menjaga alamnya, memperkuat manusianya, menuntaskan konektivitasnya, membuka ruang ekonomi baru, dan menyatukan kekuatan ranah dengan rantau.

Selamat Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat.

Mari membangun kampung dengan ilmu, menjaga alam dengan tanggung jawab, menuntaskan konektivitas Riau–Sumbar, mempertemukan ranah dan rantau melalui kolaborasi, serta terus merawat tuah, membangun ranah, dan menjaga marwah Minangkabau.(***)

Editor : Hendra Efison
ranah dan rantau Hari Jadi Sumatera Barat sumatera barat Pembangunan Sumbar minangkabau