Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Retak Gara-gara Si Kulit Bundar

Hendra Efison • Rabu, 14 Juni 2023 | 12:02 WIB
Photo
Photo
Sepak bola adalah olahraga yang paling digandrungi di dunia. Besar kecil, tua muda, lelaki perempuan, serta beragam profesi orang yang suka dengan ini. Tidak terkecuali di Kota Padang. Kota terbesar yang ada di pesisir barat Sumatera.

Olahraga si kulit bundar kerap berpengaruh pada kehidupan sosial di sekitarnya. Tak jarang bisa menyatukan tapi terkadang juga menimbulkan permusuhan.

Nah inilah yang dialami dua lelaki yang usianya hampir masuk kategori paruh baya di satu sudut di Kota Padang ini. Teman sedari kecil. Teman sepermainan yang mempunyai hobi sama.

Sebut saja namanya Andi dan Burhan. Meskipun sama-sama suka dengan sepak bola, dua anak manusia ini berbeda pilihan klub yang mereka dukung. Seorang penggemar Manchester United dan seorang lagi penggemar Manchester City.

Meski berbeda, dulunya mereka adalah teman akrab. Konco palangkin. Semasa sekolah, sama-sama menunggu angkot di satu titik yang sama, padahal sekolah mereka berbeda, walau satu arah.

Sayangnya pertemanan itu retak di saat usia mereka tidak lagi muda. Walaupun sebenarnya belum tua-tua pula. Ya, kata orang-orang, mudo talampau tuo alun.

Jadi begini, retak tersebut terjadi karena olok-olok ala suporter sepak bola juga mulanya. Satu klub punya sejarah bagus tapi sedang tidak berprestasi dalam beberapa tahun terakhir. Satu lainnya, klub kaya baru, sejarahnya tidak terlalu hebat tapi sedang berprestasi bagus dalam beberapa tahun terakhir.

Nah, perdebatan pun terjadi seputar itu. Hingga debat soal siapa yang akan menjadi juara musim ini. Debat tersebut lambat laun semakin memanas di sebuah warung kopi. Apalagi dikompori Barjak, juga teman sedari kecil Andi dan Burhan.

Andi yang tahu Burhan sedang cekak saat itu, menantang Burhan untuk bertaruh saja, siapa yang bakal juara. Manchester United yang didukung Burhan atau Manchester City yang didukung Andi. Padahal, selamai ini Andi tak pernah bertaruh.

Burhan yang memang suka bertaruh, paham, kalau itu adalah upaya Andi memojokkannya. Memberi malu di depan teman-teman mereka yang lain. Sebab dia hanya seorang pengangguran dan memang sedang tidak ada uang sama sekali.

Burhan yang tak pernah mengumpat dengan kata-kata kotor ke konco palangkinnya itu, akhirnya murka. Maka terlompotlah kata-kata kotor itu sembari mukanya memerah. Lalu Burhan pun pergi begitu saja meninggalkan lepau Da Wan. Sembari berkata, ”dek lai ang mah, pantang-pantang ndak bakepeang den, ang ago-ago den.”

Melihat peristiwa itu, kawan-kawan mereka yang lain hanya bisa diam. Ada juga yang menahan tawa. Andi sendiri juga ikut diam, namun merasa puas bisa menghentikan perdebatan tersebut. Walaupun pada akhirnya dia merasa tidak enak hati juga pada Burhan.

Nah, sejak itu kejadian itu Burhan dan Andi tak lagi bertegur sapa. Burhan pun tak lagi setiap hari datang ke lepau Da Wan.

Renggangnya tali pertemanan itu, berlangsung sekitar lebih dari tujuh bulan. Hingga tersiar kabar pada satu waktu, Andi ”kaya” mendadak. Dia punya duit puluhan juta karena menang undian dari bank tempatnya menabung.

Andi yang orangnya memang tidak pelit, mentraktir teman-temanya. Ada pula beberapa temannya meminjam uang dan dipinjami.

Info tersebut sampai juga kepada Burhan yang sudah dua bulan benar-benar menjaga jarak dari Andi. Bahkan mereka tidak lagi pernah bertemu, meski berdekatan rumah. Entah ke mana Burhan pergi. Kata Barjak, Burhan duduk di lepau Bang Sati di kampung sebelah.

Waktu itu, sebenarnya Burhan sedang butuh uang. Sebab, anaknya akan masuk sekolah. Karena gengsi, dia tak mau meminta tolong kepada Andi. Diusahakannya juga mencari kerja. Namun hasilnya masih jauh dari cukup. Lalu sudah mengadu ke sana ke mari, tak cukup juga uang yang diharapkannya itu.

Sebulan berlalu dan waktu masuk sekolah sudah semakin mepet, akhirnya Burhan menyerah. Dia pun menahan malu sekuat hati, membuka pembicaraan dengan Andi. Tapi lewat pesan singkat di WhatsApp.

Seperti tak ada kejadian apa-apa saja, dia menulis pesan, ”bato ndan, sedang banyak kepeang mandan aniang-aniang se mah. Balupoan se kito.”

Membaca itu Andi hanya tertawa kecil. Tak habis pikir dengan pesan temannya itu. Tapi tak dibalasnya. Tak berapa lama kemudian, pesan lanjutan dari Burhan masuk lagi. Ia menceritakan kondisi kebutuhan uangnya saat itu.

Bukan bermaksud ingin jadi pahlawan, Andi sebenarnya iba dengan kawannya tersebut. Dan ingin sekali memberi pinjaman.

Tapi apa daya, uang itu sudah habis. ”Ndeh…maaf na ndan. Talambek mandan ma, wak baru se bali motor ndan. Sadang ndak ado lo kini lai ndan,” jawabnya, sembari menyambut kedatangan motor barunya.  Kedatangan motor baru Andi itu pun dilihat Burhan dari balik jendela rumahnya. (cip) Editor : Hendra Efison
#manchester united #Sepak bola dunia #si kulit bundar #Konco palangkin #Padang Punya Cerita #whatsapp #manchester city #Retak Gara-gara Si Kulit Bundar