Di saat teman-teman sekelasnya sibuk belajar di rumah masing-masing untuk mempersiapkan ujian tengah semester yang dilaksanakan dua hari lagi, Toto malah sibuk berkeliaran tidak jelas dan bermain game hingga tak kenal waktu. Bahkan perintah orangtuanya untuk belajar tak dihiraukan olehnya.
Toto beralasan kepada orangtuanya bahwa materi yang akan keluar pada ujian sudah dia pahami. Padahal kenyataannya di sekolah Toto lebih sering ketiduran dan melamun daripada mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh guru-gurunya.
Satu hari menjelang ujian tengah semester, Toto berupaya untuk mendapatkan hasil positif dalam ujian tanpa harus belajar. Dia berinisiatif untuk membuat sejumlah kertas contekan sesuai dengan mata pelajaran yang akan diujiankan. Berpedoman dengan kisi-kisi yang diberikan oleh gurunya dia mulai menulis satu persatu materi pelajaran di kertas contekan.
Keesokan harinya dengan penuh kepercayaan diri Toto melangkah memasuki ruang kelas dan siap untuk menghadapi ujian tengah semester pertamanya. Di hari pertama ini, ada dua mata pelajaran yang diujikan, yakni mata pelajaran Bahasa Indonesia dan matematika. Tono pun sudah mempersiapkan kertas contekan untuk 2 mata pelajaran itu.
Untuk pelajaran bahasa Indonesia Tono tidak terlalu melihat kertas contekannya. Dia memang terkenal jago di mata pelajaran tersebut. Sementara untuk ujian matematika, Tono 100 persen melihat rumus yang dia tulis di kertas contekan yang disimpan di kaos kakinya. Beruntung aksi curangnya itu tidak diketahui oleh pengawas ujian.
Hari pertama ujian pun selesai. Ingin penuh kepercayaan diri Tono melangkah keluar dari ruangan. Di saat teman-teman sekelasnya masih panik dan khawatir dengan jawaban yang mereka tulis, Tono malah kelihatan santai dan tidak memiliki beban sama sekali. Dia sangat yakin akan mendapatkan nilai bagus untuk dua mata pelajaran tadi.
Untuk ujian selanjutnya, Tono semakin mempersiapkan kertas contekannya. Bahkan dia sudah membuat seluruh contekan untuk seluruh mata pelajaran yang akan diujikan untuk 5 hari ke depan. Singkatnya, dia nanti akan memilih kertas contekan sesuai dengan jadwal ujian yang telah diumumkan sebelumnya.
Malapetaka pun muncul di hadapan Tono. Karena telat bangun dan takut terlambat ujian, Tono tidak menyadari bahwasanya kertas contekan yang dia bawa pada hari kedua ujian ternyata salah atau tertukar. Seharusnya dia membawa kertas contekan untuk dua mata pelajaran yakni Sejarah dan Fisika.
Pada saat dia membuka kertas contekan ternyata yang dia lihat adalah materi tentang pelajaran Biologi. Kepanikan pun melanda Tono. Semua soal yang terdapat dalam ujian Fisika tersebut sama sekali tidak dia mengerti.
Dia pun beberapa kali mengecek ulang kertas contekan bawaannya. Namun berapa kali pun dicoba kertas contekan itu tertukar atau salah bawa. Jadilah pada hari kedua itu ujian Tono gagal total. Dia menyalahkan dirinya sendiri yang salah membawa kertas contekan.
Meskipun hal buruk telah terjadi kepadanya akan tetapi Tono tetap mengandalkan kertas contekan untuk menghadapi ujian di hari selanjutnya. Namun untuk ujian Kimia, sang guru tidak memberikan kisi-kisi.
Kondisi itu memaksa Tono untuk berpikir keras dan memprediksi materi apa yang akan diujikan. Dengan sepenuh hati dia membuat hampir semua materi pelajaran Kimia di kertas contekannya.
Setelah selesai Tono optimis apa yang diujikan nantinya, ada contekannya di dalam kertas yang dia bawa. Faktanya, apa yang Tono lihat dan baca di soal ujian Kimia ternyata tidak ada satupun materi maupun rumus yang telah dia tulis di kertas contekan. Kenyataan itu membuatnya semakin frustasi.
Dari 30 soal pilihan ganda dan 10 jawaban essay, tak satupun dia bisa kerjakan. Alhasil kertas jawabannya pun terlihat lebih bersih daripada teman-temannya. Pada akhirnya saat pengumuman hasil nilai ujian tengah semester, Tono mendapatkan hasil yang sangat buruk.
Selain mendapatkan amarah dari kedua orangtuanya, Tono juga merasa malu dengan dirinya sendiri. Dia menyesal tidak belajar serius dan malah berbuat curang dengan membuat kertas contekan.
Dia pun akhirnya sadar dan bertekad untuk memperbaiki nilai pada ujian semester nanti. Tono tidak ingin mendapatkan amarah dan melihat kedua orangtuanya kecewa kepadanya. Memang untuk mendapatkan hasil yang baik perlu perjuangan dan pengorbanan. (Adetio Purtama) Editor : Novitri Selvia