Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Cinta Pertama Terwujud Meski Terlarang

Novitri Selvia • Selasa, 13 Februari 2024 | 13:36 WIB
Ilustrasi.(Reza/Padek)
Ilustrasi.(Reza/Padek)
“Tak dapat semasa gadis, jandamu tetap kutunggu” Begitu janji Aldo (nama samaran) terhadap gadis pujaannya, Dinda (nama samaran) yang menolak cintanya.

Kalau sudah telanjur melangkah, pantang bagi lelaki itu untuk surut. Tak ada kata gagal dalam kamusnya. Cinta ditolak, ia meledak. Bagaimana kisahnya?

Kisah Aldo dan Dinda berawal Ketika masih duduk di banguku SMA. Aldo berasal dari keluarga biasa saja. Cenderung hidup susah. Karena ayah dan ibunya sudah berpisah. Tapi keadaan itu tak membuatnya menyerah pasrah. Aldo bertekad jadi orang sukses.

Cita-citanya setinggi langit. Untuk meraihnya ia rajin belajar. Keterbatasan tak menjadi penghalang baginya. Justru jadi pemicu semangatnya. Ejekan dan cemoohan teman-temannya, semakin melecutnya.

Alhasil, Aldo selalu menjadi juara kelas. Guru-guru pun sayang padanya. Beberapa teman cewek pun melirik, tapi Aldo tak tertarik. Aldo tak hanya pintar tapi juga jago main gitar. Menyanyi apalagi. Lagu dangdut, rock, pop ia bisa. Aldo pun layak jadi idola.

Suatu hari Aldo bertamu ke rumah salah seorang gurunya. Darahnya tersirap saat seorang gadis cantik menyuguhkan minuman. “Ini anak ibu, Dinda namanya,” kata sang guru memperkenalkan putrinya.

“Kenalkan, Aldo...” ucap Aldo berdiri mengulurkan tangan. “Dinda.” sambut anak bu guru dengan seulas senyum.

Jantung Aldo serasa melompat keluar demi mendengar desah suara gadis itu. Ya, ia jatuh cinta. Begitulah rasa cinta pertama. Sejak pertemuan pertama itu, Aldo jadi resah dan gelisah.

Ia merasa rumit. Cinta yang sulit. Belum tentu ibu guru merestui jika ia menjadi pacar anaknya. Belum tentu juga Dinda mau menerima cintanya.

Tapi Aldo memang pejuang sejati. Pastinya berjuang dulu. Kalah urusan nanti. Maka mulailah ia mengatur strategi, mencari informasi. Rupanya Dinda belum punya pacar. Aldo pun menyusun rencana. Ia pura-pura bertamu saat sang guru tak ada di rumah.

Kebetulan Dinda baru pulang sekolah. Aldo pun punya kesempatan melakukan pendekatan. Saat itu Aldo merasa gayung sudah bersambut. Tinggal selangkah lagi, mencari waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hati.

Ia bertandang ke sekolah Dinda. Lalu menawarkan diri mengantarkan pulang. Dinda pun mau. Sebelum sampai rumah Aldo mengajak mampir ke sebuah kafe. Nah, sembari makan mie ayam, Aldo pun “nembak” Dinda. Tapi apa hendak dikata. Gadis itu ternyata tersedak. Ia menolak.

“Maaf Bang, Dinda belum ingin pacarana,” balas Dinda mengelak halus. Sebenarnya ia tak tertarik kepada Aldo. Ia ternyata sedang naksir seorang cowok tajir di sekolahnya.

Singkat cerita, Aldo pun patah hati. Mundur teratur. Tapi dalam hati ia bertekad suatu saat nanti bakal mendapatkan gadis itu, cinta pertamanya. Gadis atau pun janda. Ia pun melupakan duka.

Membalut luka dengan merantau ke Jakarta. Aldo fokus mewujudkan cita-cita. Beberapa tahun kemudian, Aldo pun berhasil menaklukkan ibukota. Selanjutnya, ia sudah menjadi seorang pengusaha sukses.

Tentunya setelah melalui jalan berliku dan berbatu. Ia pun sudah menikah dan memiliki seorang anak. Walau tak berdasarkan cinta, tapi tak kuasa menolak permintaan ibunya. Ia dijodohkan dengan famili jauh.

Nah, di saat ia lupa pada cinta pertamanya, tanpa sengaja mereka bertemu. Dinda kebetulan ada acara kantornya di Jakarta, di sebuah hotel. Saat itu Dinda jadi pegawai sebuah instansi. “Bang Aldo?’” sapa Dinda ragu-ragu saat bertemu di lobi hotel.

“Dinda?” seru Aldo, sedikit ragu. Dan, mereka pun serasa reunian. Cerita lepas tanpa batas. Aldo merasa Dinda yang sekarang lebih “manis” dibanding dulu. Mereka pun mencari tempat agar bisa bercerita lebih leluasa.

Sampai Dinda pun curhat, ia sudah berpisah dengan suaminya yang pemarah dan ringan tangan. Aldo jadi iba. Wanita pujaannya mengalami KDRT. “Dinda makin cantik dan lebih dewasa,” puji Aldo mulai melepas peluru.

“Maaf bang, Dinda menolak cinta abang dulu,” ucapnya malu-malu. Dinda jujur, menyesal meremehkan lelaki itu dulu.

Apalagi ia tahu Aldo kini tajir dan sukses di karir. Dinda pun mau jika Aldo kembali menembaknya. Dan gayung benar-benar bersambut. Kinilah saatnya Aldo menepati janjinya dulu.

Tapi ia sadar statusnya kini suami orang. Tak mungkin menceraikan istrinya. Ia sayang anaknya. Akhirnya mereka menjalani hubungan terselubung. (Suryani) Editor : Novitri Selvia
#terlarang #suryani #Cinta Pertama