Meskipun masih kuliah, Sari sudah bisa mendapatkan uang yang akan dia gunakan untuk berbelanja baju lebaran dari pekerjaannya sebagai penata rias pengantin dan wisuda. Apalagi ditambah dari pemberian kakak dan abangnya sehingga dia bisa membeli apa saja yang dia inginkan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri tahun ini. Jauh sebelumnya dia sudah menentukan baju apa yang akan dibeli.
Sebenarnya uang untuk membeli baju Lebaran itu sudah ada sejak dua minggu sebelum Lebaran. Kedua orangtuanya dan saudaranya sudah mengatakan dan menyarankan kepada Sari untuk segera menggunakan uang itu berbelanja baju karena takutnya nanti baju yang ingin dibeli habis atau harga yang semakin melambung tinggi.
Namun Sari beralasan kepada mereka untuk tidak terburu-buru membeli baju baru karena dia masih sibuk dengan pekerjaan sebagai penata rias wajah karena jelang Hari Raya Idul Fitri banyak kampus yang menggelar wisuda. Kondisi itu membuat sari banyak mendapatkan tawaran untuk merias wajah para calon wisudawati.
Satu minggu jelang Hari Raya Idul Fitri, Sari mulai fokus untuk membeli baju baru. Awalnya orangtua dan saudaranya menyarankan Sari untuk berbelanja di mall saja dan tidak melalui online shop. Hal itu karena menurut pengalaman yang sudah-sudah jika memesan sesuatu satu minggu jalan lebaran maka barang itu berkemungkinan akan datang lebih lama.
Traffic pembelian barang-barang di online shop menjadi sangat ramai ketika memasuki Lebaran. Sehingga membuat pesanan semakin banyak dan akan datang lebih lama kepada konsumen. Tetapi tidak mendengarkan perkataan dari orangtua dan saudaranya itu. Dia beralasan baju-baju yang ada di mall tidak sesuai dengan seleranya.
Sari pun mengatakan online shop tempat dia berbelanja secara pengalaman yang sudah-sudah sangat cepat mengirimkan barang. Dia dulu pernah membeli pakaian di sana, dan pakaian itu tiba 3 sampai 4 hari. Jadi menurut perhitungannya jika dibeli satu minggu jelang Lebaran, maka baju itu nantinya akan sampai paling lama satu hari sebelum hari kemenangan tersebut.
Karena kekeh dengan keinginannya orangtua dan saudaranya tidak bisa berkata lagi. Mereka berharap apa yang dikatakan Sari menjadi kenyataan. Dan mereka meminta agar Sari tidak menyesali apa yang telah dia lakukan dengan memesan baju melalui online pada satu minggu jelang Lebaran. Dia pun harus siap dengan rIsiko atau konsekuensi yang akan diterima nantinya.
Akhirnya Sari membeli beberapa stel baju dan celana di online shop langganannya. Dia sangat menantikan momen memakai pakaian baru di hari lebaran dan memamerkannya kepada teman-teman, terutama Niko (nama samaran) yang saat ini menjadi gebetannya. Sari sangat percaya diri dengan pakaian yang dia beli akan menambah daya tariknya.
Singkat cerita tiga hari jelang Lebaran baju yang dipesan oleh Sari belum juga datang. Dia hampir setiap waktu melihat progres pengiriman barangnya melalui aplikasi di handphone-nya. Namun tidak ada progres sedikitpun dengan pengiriman. Dia juga mencoba untuk menghubungi admin online shop menanyakan barang yang dia pesan. Namun admin hanya mengatakan untuk bersabar karena pengiriman barang sangat banyak jalan Lebaran.
Sari mencoba menenangkan diri dan berpikir positif jika pakaian yang dia pesan akan sampai atau tiba pada waktunya. Namun jauh dalam lubuk hatinya Dia sangat panik dan takut jika barang-barang itu tidak sampai ke tangannya sebelum Hari Raya Idul Fitri tiba. Apalagi ditambah di WhatsApp group kelas di kampusnya teman-teman perempuan telah mengirim foto baju-baju baru mereka.
Sari memilih untuk tidak berkomentar terhadap foto baju-baju baru teman-temannya di WhatsApp group. Karena dia takut jika nanti berkomentar akan ditanya oleh teman-temannya tentang baju baru. Bahkan Sari memilih untuk tidak membuka WhatsApp group kelas agar teman-temannya menganggap dia belum membaca setiap percakapan di sana.
Satu hari jelang Lebaran pun kondisi masih sama. Baju baru yang ditunggu-tunggu belum juga sampai. Hampir setiap menit Sari melihat progres pengiriman barangnya. Namun hal itu hanya sia-sia. Dia semakin panik dan takut jika pakaian baru itu tidak sampai pada waktunya. Sari mulai gelisah dan merengek kepada orangtua dan saudaranya. Orangtua dan saudaranya tidak bisa berbuat apa-apa selain diam.
Mereka menyebut telah menyarankan Sari sebelumnya agar tidak membeli barang di online shop satu minggu jelang Lebaran. Tapi karena tidak didengar maka sehari siap menerima risiko tidak menggunakan baju baru di momen Lebaran. Bahkan orang tua dan saudaranya meminta Sari untuk memakai baju dan celana lama di Lebaran. Karena menurut mereka Lebaran tidak tentang pakaian baru tapi bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik di masa yang akan datang.
Apa yang ditakutkan Sari terjadi. Sampai saat suara takbir berkumandang di masjid dan mushala menandakan besok adalah Hari Eaya Idul Fitri baju yang dinanti pun tak kunjung datang. Di saat orang-orang sedang berbahagia Sari malah memilih untuk mengurung diri di kamarnya. Dia menjadi bingung tentang pakaian apa yang akan dia gunakan selama momen Lebaran.
Di akhir cerita Sari menyesal tidak mendengarkan dan mengindahkan perkataan dari orangtua dan saudaranya. Jika dia tidak memesan baju baru di online shop dan memilih untuk berbelanja di mall maka pasti besok dia sudah menggunakan pakaian baru dan bisa memamerkannya kepada teman-teman dan gebetannya. Tapi sayang waktu tidak bisa diputar dan Sari harus menerima kenyataan dengan ikhlas. (adt)
Editor : Adetio Purtama