Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ditikung Sahabat Sendiri

Eri Mardinal • Senin, 29 Juli 2024 | 12:00 WIB

(REZA FEBRINO)
(REZA FEBRINO)
PADEK.JAWAPOS.COM—Cinta memang penuh misteri. Kita tidak pernah bisa menduga kapan, di mana, dan dengan siapa ia akan datang. Inilah yang dirasakan oleh Rara (bukan nama sebenarnya). Cinta yang dirawatnya selama 3 tahun harus kandas karena ditikung sahabatnya sendiri. Bagaimana ceritanya?

Rara menatap kosong ke arah jendela kafe. Hujan rintik-rintik di luar sana seolah menggambarkan suasana hatinya yang mendung.

Secangkir kopi hangat di hadapannya sudah mulai mendingin, tak tersentuh sejak 30 menit lalu. Pikirannya melayang ke peristiwa beberapa hari yang lalu, saat dunianya seolah runtuh dalam sekejap.

”Ra, ada yang ingin aku bicarakan,” ujar Dina (bukan nama sebenarnya), sahabatnya sejak SMA, saat mereka bertemu di salah satu kafe.

Rara masih ingat jelas nada suara Dina yang terdengar serius dan sedikit gemetar. Firasat buruk mulai menghantuinya. ”Ada apa, Din? Kok kayaknya serius banget?” tanya Rara, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang.

Dina menarik napas dalam-dalam sebelum berkata, ”Ini soal Reza (bukan nama sebenarnya).” Mendengar nama itu, Rara langsung menegakkan badannya. Reza adalah kekasihnya selama tiga tahun terakhir. Pria yang ia cintai sepenuh hati dan berencana untuk dilamarnya dalam waktu dekat.

”Reza kenapa?” tanya Rara, suaranya sedikit bergetar. ”Aku, aku dan Reza…” Dina terbata-bata, matanya berkaca-kaca. ”Kami, saling jatuh cinta, Ra.”

Detik itu juga, Rara merasa dunianya runtuh. Telinganya berdenging, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Sahabatnya sendiri, orang yang ia percayai sepenuhnya, telah mengkhianatinya. ”Apa maksudmu, Din?” tanya Rara, suaranya nyaris berbisik.

”Maafkan aku, Ra. Kami tidak bermaksud untuk menyakitimu. Tapi perasaan ini tumbuh begitu saja. Kami sudah berusaha menahannya, tapi...”

”Sejak kapan?” potong Rara, matanya menatap tajam ke arah Dina. Dina menunduk, tak berani menatap mata sahabatnya. ”Tiga bulan yang lalu. Saat kita berlibur bersama ke Bali.”

Rara ingat liburan itu. Saat di mana ia harus pulang lebih awal karena urusan pekerjaan yang mendadak. Ia menitipkan Reza pada Dina, meminta sahabatnya untuk menemani kekasihnya selama sisa liburan. Tak pernah terbersit sedikit pun dalam benaknya bahwa keputusan itu akan menjadi awal kehancuran hubungannya.

”Tiga bulan dan kalian menyembunyikannya dariku selama itu?” Rara berusaha menahan amarahnya. ”Kami tidak tahu harus bagaimana, Ra. Kami tidak ingin menyakitimu. Tapi kami juga tidak bisa terus-menerus membohongi perasaan kami,” jelas Dina, air matanya mulai mengalir.

Rara terdiam. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Marah? Kecewa? Sedih? Semua perasaan itu bercampur aduk dalam dirinya. ”Apa Reza tahu kau memberitahuku?” tanya Rara.

Dina mengangguk pelan. ”Dia ingin ikut, tapi aku merasa ini tanggung jawabku untuk memberitahumu langsung.” Rani tersenyum getir. ”Setidaknya kau masih punya keberanian untuk itu.”

Rara menatap sahabatnya itu. Dina yang selalu ada untuknya sejak mereka remaja. Dina yang selalu mendukungnya dalam suka dan duka. Dina yang kini telah merebut cintanya. ”Aku tidak membencimu, Din,” kata Rara. ”Aku hanya kecewa. Sangat kecewa.”

Dengan kata-kata itu, Rara bangkit dari kursinya dan melangkah pergi, meninggalkan Dina yang terisak di mejanya.

Semua impian itu hancur berkeping-keping. Ponselnya bergetar, menampilkan nama Reza di layar. Ini adalah panggilan ke-20 dari pria itu sejak tiga hari yang lalu. Rara mengabaikannya, seperti yang ia lakukan pada 19 panggilan sebelumnya.

Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. ”Ra, aku tahu kau marah dan kecewa. Aku pantas menerimanya. Tapi bisakah kita bicara? Ada banyak hal yang perlu kujelaskan. Kumohon, beri aku kesempatan.”

Rara menatap pesan itu lama. Haruskah ia memberi Reza kesempatan untuk menjelaskan? Akankah penjelasannya mengubah kenyataan bahwa pria itu telah mengkhianatinya?

Setelah beberapa saat berpikir, Rara memutuskan untuk membalas pesan itu. ”Baiklah. Temui aku di taman kota besok sore jam 4.”

Begitu pesan itu terkirim, Rara merasakan campuran emosi yang aneh. Ada sedikit harapan yang timbul, namun juga ketakutan akan kekecewaan yang mungkin akan ia terima lagi.

Keesokan harinya, Rara duduk di bangku taman, menunggu kedatangan Reza. Tepat pukul 4, pria itu muncul. Wajahnya terlihat lelah dan ada lingkaran hitam di bawah matanya, menandakan ia kurang tidur.

Reza menarik napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara. ”Pertama-tama, aku ingin minta maaf. Aku tahu permintaan maaf tidak akan cukup untuk menebus apa yang telah kulakukan, tapi aku benar-benar menyesal telah menyakitimu.”

Rara hanya diam, menunggu Reza melanjutkan. ”Aku tidak pernah bermaksud untuk jatuh cinta pada Dina. Itu terjadi begitu saja. Saat kau pulang lebih awal dari Bali, aku dan Dina menghabiskan banyak waktu bersama. Kami berbicara tentang banyak hal, dan entah bagaimana, kami merasa cocok satu sama lain.”

”Jadi maksudmu, kalian lebih cocok daripada kita?” tanya Rara, nada suaranya sedikit meninggi. ”Bukan begitu, Ra,” Reza cepat-cepat menjelaskan.

”Kita punya kecocokan yang berbeda. Denganmu, aku merasa aman dan nyaman. Tapi dengan Dina, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.” Rara tersenyum getir. ”Cinta, maksudmu?”

Reza terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan. ”Ya, kurasa begitu.” ”Lalu kenapa kamu tidak mengatakannya padaku sejak awal? Kenapa membiarkan hubungan kita berlanjut selama tiga bulan terakhir ini?” tanya Rara, air matanya mulai menggenang.

”Karena aku pengecut, Ra,” jawab Reza jujur. ”Aku takut menyakitimu. Aku takut kehilanganmu. Aku berpikir mungkin perasaanku pada Dina hanya sementara dan akan hilang dengan sendirinya. Tapi tidak hilang,”

Keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa saat. Suara anak-anak yang bermain di taman menjadi latar belakang percakapan mereka yang menyakitkan. ”Apa kamu pernah mencintaiku, Reza?” tanya Rara.

Reza menatap Rara, matanya penuh kesedihan. ”Tentu saja, Ra. Aku sangat mencintaimu. Tiga tahun kita bersama bukan kebohongan. Perasaanku padamu selalu tulus.”

”Lalu kenapa?” Rara tidak bisa menahan air matanya lagi. ”Kenapa melakukan melakukan ini padaku?”

Reza mengulurkan tangannya, ingin mengusap air mata Rara, namun ia mengurungkan niatnya. ”Karena cinta kadang tidak bisa dijelaskan, Ra. Kadang ia datang di saat yang tidak tepat, pada orang yang tidak seharusnya.” ”Kamu benar-benar pandai berkata-kata, Reza. Pantas saja Dina jatuh cinta padamu.”

Reza hanya bisa terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi. ”Lalu, apa rencanamu sekarang?” tanya Rara setelah berhasil mengendalikan emosinya.

”Aku ingin menjalin hubungan dengan Dina. Tapi kami tidak akan melakukannya tanpa restumu, Ra. Kau terlalu berharga bagi kami berdua,” jawab Reza jujur.

Rara menatap Reza tak percaya. ”Kamu meminta restuku untuk berhubungan dengan sahabatku sendiri? Sahabat yang telah mengkhianatiku?”

Rara bangkit dari bangku taman, menatap Reza dengan campuran emosi yang sulit dijelaskan. ”Kalian sudah kehilanganku sejak kalian memutuskan untuk mengkhianatiku.”

Dengan kata-kata itu, Rara berbalik dan mulai melangkah pergi. Namun sebelum ia terlalu jauh, ia berhenti dan menoleh ke arah Reza.

”Oh, dan satu hal lagi. Rara merogoh tasnya, mengeluarkan kotak cincin merah yang selama ini ia simpan. Ia melemparkan kotak itu ke arah Reza yang menangkapnya dengan terkejut.

”Selamat ulang tahun, Reza. Anggap saja itu hadiah perpisahan dariku,” ujar Rara sebelum akhirnya benar-benar pergi. (eri)

Editor : Adetio Purtama