Siska memelihara kucing sejak 3 tahun lalu. Ia punya sepasang kucing persia yang lucu dan gemoy. Baginya kucing adalah teman main yang bisa membahagiakan. Kelucuan hewan berbulu itu selalu membuatnya terhibur. Apalagi kalau sedang stres dengan tugas-tugas kuliah, Siska akan bermain dengan di endut sampai stresnya hilang.
Memelihara si Oyen dan si Belang, pun tidak terlalu merepotkan bagi Siska. Makannya pun enteng. Tidak melulu makanan pabrikan. Nasi sama ikan saja pun dilahapnya. Kalau sudah kenyang tidur-tiduran seharian. Jika pub atau pipis pun, hewan kesayangan nabi itu sudah terbiasa ke toilet. Siska tinggal siram saja.
Saat Siska harus bepergian beberapa hari, ia suka kangen lalu minta video call sama adiknya di rumah. Si Oyen dan si Belang pun hafal bunyi motor Siska. Keduanya langsung mengejar begitu Siska pulang kuliah. Mencium kakinya. Tentu saja gadis itu gemes. Lalu menggendongnya.
Kalau Siska tak pulang ke rumah 1-2 hari, si empus kadang ngambek. Cuek bebek. Setelah dirayu-rayu akhirnya luluh juga. Ya, kucing memang punya naluri juga. Ia tahu orang yang sayang dan peduli padanya.
Malah bisa balas budi juga dengan mempersembahkan kelucuannya dan menjilat-jilat tuannya. Kesetiaan kucing pada tuannya juga tidak diragukan. Ada beberapa kucing bahkan menunggui di makam tuannya setelah meninggal.
Nah, demi kesetiaan pada kucing Siska pun rela berkorban pacar. Ceritanya berawal ketika Siska punya pacar teman sekampusnya. Setelah beberapa bulan jalan, tibalah saatnya Siska mengajak Rino (nama samaran) ke rumahnya. Sialnya, Rino tidak tahu kalau Siska penyayang kucing.
Begitu masuk pagar rumah, duo anak bulu pun menyambut tuannya. Tapi Rino malah menjauh sambil menjerit-jerit ketakukan. “Sis, ada kucing.... aku-aku tak suka!” teriaknya.
Siska pun kaget dan melongo. “Rino, kamu takut kucing?” “Aku bukan takut, tapi alergi...!” ucapnya tak mau mendekat. Terpaksa Siska mengurung kucingnya di dapur dulu baru mengajak Rino masuk.
Tapi ternyata hanya sekali itu, Rino mau main ke rumah Siska. Malah ia menjaga jarak dengan Siska setelah itu. “Kamu kenapa terkesan jaga jarak dengan aku Rino? Apa salah aku?” tanya Siska ketika ketemuan. “Gak, kamu gak ada salah Siska. Ndak ada apa-apa. Aku sibuk karena sudah mulai magang,” elaknya.
Siska pun maklum. Memang kalau sudah magang kuliah, harus masuk sesuai jam masuk kantor, dari pagi sampai sore selama 2 bulan.
Sampai suatu hari, Rino kepergok oleh Siska nongkrong di kafe bersama seorang cewek. “Oh di sini magangnya ya, sama cewek ini!” semprot Siska tanpa basa-basi. Rino pun terpana. Tak menyangka kena labrak.
Sebenarnya Rino sama cewek itu tidak pacaran, hanya teman sesama magang. Tapi Siska sudah terbakar api cemburu. Apalagi hubungan mereka renggang setelah Rino magang. Namun sebenarnya ketika Rino tahu Siska suka kucing, dia jadi alergi.
Saking takut sama kucing, pernah ia lari terbirit-birit saat seekor kucing mendekat waktu jajan di sebuah warung tenda. Fobianya pada hewan berbulu itu makin menjadi ketika ada kucing jantan pipis berdiri dan kena celananya. Berhari-hari ia tak nafsu makan karena masih teringat baunya.
Celana yang kena pipis kucing tersebut ia buang. Entah kenapa ia sangat benci pada kucing. Padahal binatang jinak tersebut begitu manis dan manja.
Daripada prasangka Siska berlarut-larut, Rino ajak Siska ketemuan. Setelah memohon-mohon, akhirnya Siska mau juga bertemu Rino. Jelas bukan di rumah Siska. Tapi di sebuah kafe.
“Aku ndak selingkuh Sis, sumpah, cuma berteman saja. Tapi ada masalah serius yang hendak aku sampaikan Sis....” “Soal apa?”
“Sebenarnya aku keberatan kamu piara kucing. Selain karena aku gak suka, kata orang kucing bisa bikin mandul...” “Jadi kamu mau aku berhenti piara kucing? Gak bisa.
Jika disuruh memilih, maka aku pilih kucingku daripada kamu!” kata Siska dengan tinggi sambil berdiri. Rino patang arang. Siska sudah terlanjur berang. Mereka akhirnya putus. (eni)
Editor : Adetio Purtama