Cerita berawal sekitar dua bulan yang lalu. Saat itu Ujang dan dua orang sahabatnya berencana untuk membangun pos pemuda di kampungnya. Kebetulan ada tanah kosong yang tidak terpakai. Apalagi dalam beberapa waktu terakhir banyak masyarakat yang melapor rumahnya kemalingan. Maka pos pemuda menjadi salah satu cara untuk mengantisipasi kasus serupa.
Ujang bersama kedua sahabat dan dibantu beberapa pemuda kampung mulai membangun pos pemuda tersebut. Pos pemuda yang dibangun hanya sederhana. Minimal ada tempat duduk, atap, serta tempat untuk televisi dan dua sound system. Karena dikerjakan bersama-sama, pembangunan pos terasa sebentar.
Namun, ada beberapa kekurangan dalam bangunan pos yang harus dicari. Kekurangan itu adalah sejumlah seng dan pancang besi untk pos pemuda tersebut. Rencananya, Ujang dan dua sahabatnya akan mengambil seng dan pancang besi dari sebuah pabrik bekas yang ada di kawasan kampung mereka.
Kebetulan sejak 10 tahun terakhir, pabrik itu sudah tidak berfungsi dan terkesan terbengkalai. Pemilik pabrik pun juga sejak 10 tahun lalu tidak pernah lagi melihat kondisi pabrik itu. Namun meskipun terbengkalai, ada penjaga yang standby di pabrik itu. Dan itupun warga di kampung tempat tinggal Ujang.
Setelah berdiskusi dengan pemuda lainnya, Ujang sepakat akan mengambil seng bekas dan pancang besi di dalam pabrik itu. Ujang meminta kepada dua sahabat baiknya itu. Mereka bertiga pun sepakat untuk mengambil barang-barang itu pada malam hari. Alasannya karena baik Ujang dan kedua sahabatnya itu sibuk bekerja pada siang hari.
Usai salat Isya, mereka bertiga langsung menuju pabrik yang tidak jauh dari gerbang kampung. Setiba di gerbang masuk, mereka bertemu dengan penjaga pabrik. Ujang kemudian menyampaikan maksud kedatangannya kepada penjaga itu. Karena saling kenal, penjaga itu mengatakan Ujang dan temannya boleh melakkukan apa saja di dalam pabrik.
Ujang dan dua sahabatnya itu langsung mencari seng dan pancang besi yang dibutuhkan itu. Mereka mendapatkan beberapa seng dan pancang besi dan ditumpuk pada satu tempat. Rencananya butuh sekitar dua sampa tiga helai seng lagi, maka mereka akan pergi dari pabrik itu.
Saat hendak membawa barang-barang itu, tiba-tiba terdengar teriakan orang. Mendengar hal itu, kedua sahabat Ujang yang tadi duduk santai langsun kabur memanjat dinding pagar belakang. Sementara Ujang yang tengah membawa seng hanya bisa terdiam. Selain itu, karena tidak merasa salah, dia memilih untuk diam di tempat.
Ternyata orang yang berteriak tersebut adalah pemilik pabrik yang tiba-tiba datang melihat kondisi pabriknya itu. Pemilik pabrik merasa kalau Ujang telah mencuri besi dan seng miliknya. Bahka tanpa ragu, pemilik pabrik langsung menelpon polisi untuk menangkap Ujang.
Di tengah kepanikan, Ujang mencoba menjelaskan kepada pemilik pabrik bahwasanya dia tidak ada berniat mencuri. Dia juga mengatakan bahwa aktivitas yang dilakukannya itu diketahui oleh penjaga pabrik dan atas seizinnya.
Pemilik pabrik kemudian memanggil penjaga pabrik untuk menceritakan apa yang terjadi. Namun karena takut bakal dituduh terlibat dan ditangkap, penjaga pabrik mengatakan dia tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh Ujang. Berulang kali Ujang menyangkal, namun di tidak memiliki bukti atas kebohongan penjaga itu.
20 menit kemudian polisi menangkap Ujang dan membawanya ke kantor polisi terdekat. Polisi juga membawa seng dan pancang besi itu untuk dijadikan barang bukti. Di kantor polisi, Ujang sekali lagi berusaha menjelaskan bahwa dia tidak mencuri dan bersalah. Bahkan Ujang menyebut dia memiliki saksi dua orang sahabatnya.
Polisi langsung memanggil dua orang sahabat Ujang itu. Saat diinterograsi, kedua sahabat Ujang mengaku tidak mengatahui apa-apa. Bahkan alasan mereka diperkuat oleh penjaga pabrik yang ternayata sudah bersengkongkol dengan dua sahabat Ujang tadi. Ujang pun tidak bisa membuktikan kebohongan orang-orang itu, baik melalui penggilan telpon atau chat WhatsApp.
Ujang tidak menyangka dua orang sahabat yang dikenalnya sejak kecil tega mengkhianatinya. Dia sadar bahwasanya sahabat-sahabatnya itu hanya ada ketika saat senang saja dan meninggalkannya ketika sedang menghadapi masalah. Ujang tak henti-hentinya menangis menyesali apa yang telah dia lakukan.
Namun di tengah masalah yang dia hadapi itu, Ujang perlahan mencoba untuk bangkit dan menerima takdir yang telah ditetapkan kepadanya. Dia cuma berharap kasus yang dialaminya ini cepat berakhir dan kembali ke keluarganya lagi. (adt)
Editor : Adetio Purtama