Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Taubat dari Judi Online

Eri Mardinal • Rabu, 27 November 2024 | 09:10 WIB

Photo
Photo
PADEK.JAWAPOS.COM—Bertaubat dari judi online (judol) memang tidak mudah, tetapi dengan tekad yang kuat dan dukungan spiritual, seseorang bisa membebaskan diri dari kecanduan judol. Seperti kisah Hendra (bukan nama sebenarnya) ini. Dengan tekad dan kemauan yang kuat, ia berhasil keluar dari jerat judol. Seperti apa ceritanya?

Malam itu, Hendra menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Saldo rekeningnya tinggal Rp 50.000, padahal baru kemarin ia mencairkan pinjaman online sebesar Rp 5 juta. Semua uang itu sudah lenyap di aplikasi judi online yang ia mainkan sejak satu bulan lalu.

“Sekali lagi,” gumamnya pada diri sendiri. “Kali ini pasti menang.”

Satu bulan belakangan ini Hendra terjerumus dalam permainan judi online. Awalnya hanya iseng mencoba setelah melihat iklan yang menjanjikan kemenangan besar. Kemenangan pertamanya memang manis, Rp 5 juta dalam semalam.

Sensasi kemenangan itu membuatnya ketagihan. Dia mulai bermain lebih sering, taruhannya semakin besar. Ketika kalah, dia selalu berpikir bisa menang balik di taruhan berikutnya. Siklus tak berujung yang menyeretnya ke lubang hitam. Sejak itu, ia tak bisa berhenti.

“Bang, kok belum tidur?” tanya Sari (bukan nama sebenarnya), istrinya yang baru keluar dari kamar anak mereka. “Ini sudah jam 2 pagi.”

Hendra cepat-cepat mengunci layar ponselnya. “Bentar lagi, kamu tidur duluan aja,” jawab Hendra.

Sari menghela napas panjang. Ia tahu ada yang tidak beres dengan suaminya. Dulu Hendra adalah sosok suami yang perhatian dan ayah yang bertanggung jawab. Tapi sejak mengenal judi online, sikapnya berubah drastis.

Gaji bulanannya selalu habis dalam hitungan hari. Bahkan perhiasan mas kawin Sari pun sudah digadaikan diam-diam.

Keesokan harinya, Hendra mendapat telepon dari bank. Cicilan rumah mereka sudah menunggak tiga bulan. Jika dalam seminggu belum dibayar, rumah mereka terancam disita.

“Apa? Cicilan rumah belum dibayar?” Sari terkejut saat Hendra akhirnya mengaku. “Kemana uangnya, Bang? Bukannya tiap bulan saya selalu kasih uang cicilan?”

Hendra terdiam. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. “Maaf...Abang...Abang kalah judi...”

Tangis Sari pecah seketika. “Kenapa Bang? Kenapa Abang tega sama kita? Anak kita masih kecil, masa kita harus kehilangan rumah gara-gara judi?”

Baca Juga: Satpol PP Padang Dirikan Posko Pelayanan 24 Jam demi Kelancaran Pilkada 2024

Melihat kesedihan istrinya, hati Hendra seperti tersayat. Ia jatuh berlutut, memeluk kaki Sari sambil terisak.

“Maafin Abang. Abang khilaf. Abang terlalu terobsesi buat balik modal, tapi malah makin terpuruk.” “Sudah berapa banyak hutang kita, Bang?” “Totalnya ada sekitar 50 juta...”

Sari merosot lemas ke lantai. Angka itu terasa seperti vonis mati bagi keluarga kecil mereka. Malam itu, Hendra tidak bisa tidur. Ia duduk di teras rumah, merenungi kesalahannya.

Dari kejauhan terdengar suara azan Subuh berkumandang. Entah sudah berapa lama ia tidak shalat. Perlahan, Hendra bangkit, mengambil wudhu, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melakukan Shalat Subuh.

Air matanya mengalir deras saat sujud. Ia memohon ampun pada Allah atas segala dosanya. Setelah shalat, tekadnya sudah bulat. Ia harus berubah, demi keluarganya.

Pagi itu, Hendra menghapus semua aplikasi judi dari ponselnya. Ia menemui bosnya di kantor dan meminta pinjaman untuk melunasi cicilan rumah yang menunggak. Untunglah bosnya mau membantu dengan syarat gajinya dipotong tiap bulan.

Hendra juga bergabung dengan komunitas mantan pecandu judi online. Di sana ia belajar bahwa kecanduan judi adalah penyakit yang bisa disembuhkan dengan tekad kuat dan dukungan orang-orang terdekat.

Sari pun perlahan mulai membuka hati memaafkan suaminya. Ia melihat kesungguhan Hendra untuk berubah. Mereka mulai menata kembali ekonomi keluarga. Sari membuka usaha catering kecil-kecilan untuk membantu melunasi hutang.

Setahun kemudian, kehidupan keluarga mereka berangsur membaik. Hutang-hutang mulai terlunasi. Yang lebih penting, keharmonisan keluarga mereka telah kembali. Setiap malam, mereka kini rutin shalat berjamaah. Hendra juga rajin mengajak putranya mengaji di masjid.

“Alhamdulillah, Bang. Kita bisa melewati semua ini,” ucap Sari. Hendra menggenggam tangan istrinya erat. “Terima kasih sudah mau bertahan dan percaya sama Abang. Ini semua berkat doa kamu dan anak kita. Abang berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.”

Pengalaman pahit itu menjadi pelajaran berharga bagi Hendra. Ia kini aktif membagikan kisahnya di media sosial untuk menyadarkan orang lain tentang bahaya judi online. Baginya, kebahagiaan keluarga adalah hadiah terindah yang tidak bisa dibandingkan dengan kemenangan judi sebesar apapun. (eri)

Editor : Adetio Purtama
#judi online #judol