Sebagai seorang manajer marketing, Niko dibantu tujuh orang staf. Dua pria tiga wanita. Staf marketing yang akan berhubungan dengan customer jelas memiliki penampilan menarik.
Baik penampilan fisik maupun keterampilan berbicara. Nah, staf Niko jelas memiliki persyaratan itu. Apalagi jika masih lajang. Nah, diantara tiga staf wanitanya, ada seorang yang membuat hati Niko tiba-tiba berdebar. Angan liar menguasai alam bawah sadarnya ketika berdekatan dengan Niki (nama samaran).
Kejadian berawal saat Niko mengajak para stafnya meeting sambil makan siang di sebuah restoran. Saat meeting turun hujan lebat tiada henti sampai sore.
“Wah, hujannya awet, gak berenti-berenti,” ujar Niki mengigil kedinginan. Kebetulan duduknya dekat Niko. Lesehan pula. Niko mau berbagi kehangatan, tapi tentu saja ia sungkan. Apalagi di depan bawahan.
“Iya nih, bisa-bisa sampai malam nih hujan,” kata Niko. Sebenarnya dadanya berdebar tak karuan seperti remaja saat pacaran. Bukan saja terpengaruh suasana dan cuaca. Tapi gadis seseksi dan semanis Niki membuat lelaki manapun jika berdekatan akan tergoda. Melemahkan iman di dada.
Niki pun dalam lubuk hati menyimpan rasa pada atasannya sejak lama. Tapi karena Niko sudah berkeluarga, ia pun tak mau bermain api. Walau beda usia mereka jauh, tapi di mata Niki, Niko sosok idamannya. Mapan, ganteng dan care pada bawahan. Ia juga memperlakukan perempuan dengan sopan membuat Niki simpati.
Sering berdekatan, tak sekalipun Niko mengambil kesempatan. Namun lain kali ini. “Ayok kita bubar, tak mungkin menunggu hujan teduh,” kata Niko karena hari sudah senja. Sebentar lagi malam.
Dan, mereka pun pulang ke rumah dengan kendaraan masing-masing. Tapi Niki yang kebetulan tadi nebeng sama motor temannya dan si teman hanya bawa mantel satu, akhirnya ditawari Niko naik mobilnya.
Pucuk dicinta ulam tiba. Keadaan mendekatkan mereka. Hujan akhir pekan jadi saksinya. Niko tanpa sadar mengucapkan perasaannya di tengah hujan dan kelam. Mobil pun melaju pelan dan diam.
“Saya mungkin lelaki tak tau diri ya, tapi jujur, saya suka sama Niki. Perasaan ini tak bisa saya bendung, maaf kan saya...” ucapnya pelan. Tapi mampu menembus relung hati Niki yang paling dalam. Sekian detik ia tak mampu berkata ap-apa, selain hanya tersenyum dan tersipu malu ketika Niko memandang wajahnya.
“Bapak tak perlu minta maaf, Niki juga suka sama Bapak...” terucap jua kata-kata itu dari bibir Niki.
Tak salah kiranya Niki menilai atasannya itu pria yang baik. Tak ada yang terjadi malam itu sepanjang perjalanan mengantar Niki pulang. Mereka hanya ngobrol dari hati ke hati layaknya sepasang remaja lagi dimabuk cinta.
Malam itu Niki tak bisa tidur sepicing pun. Ia galau. Sadar kalau Niko pria beristri. Cinta mereka terlarang. Tapi, perasaan itu tidak dibuat-buat. Tumbuh dan mekar begitu saja. Niki merasa lemah dengan perasaannya sendiri.
Andai ia menolak dan membohongi diri mungkin lain ceritanya. Namun, cerita cinta terlanjur dimulai. Ia pun tak mau membunuh asmara yang mulai bersemi.
Akhirnya Niki nekad saja menjalani cinta sembunyi-sembunyi dengan atasannya Niko. Mereka manfaatkan waktu yang ada di sela-sela kerja. Makan siang berdua atau bersama staf lain. Pura-pura meeting berdua di ruangan. Menjalin kisah asrama sembari mengantar pulang.
Tapi perubahan dan ketidaklaziman Niko akhirnya tercium oleh istrinya. Lelaki itu jadi suka dandan, ceria dan romantis dari biasanya. Celakanya, suatu hari si istri tak sengaja membaca WA di HP Niki dengan kata-kata bernada romantis.
Ketika Niko sedang mandi ada panggilan Whatsap. Karena tak diangkat lalu masuk chat WA. Entah apa yang menggerakkan, sang istri penasaran dan membuka chat tersebut. Seketika ia murka. Begitu Niko kelar mandi, ia langsung menodong dengan pertanyaan.
“Ada WA masuk di hapemu Bang. Kayaknya dari perempuan, kata-katanya romantis. Siapa dia? Pacar Abang?” Niko gelagapan. Dalam hati ia berkata, ‘kenapa Niki ceroboh?’
“Bukan Dek, itu staf Abang di kantor. Niki namanya, ia memang gitu anaknya,” elak Niko. “Gitu bagaimana? Jangan bohong ya Bang!” serbu sang istri.
Niko hanya diam. Ia kini merasa bersalah. Tapi sudah terlanjur sayang sama Niki. Entah bagaimana jadinya, Niko jadi pusing. Ia merasa terjebak dalam dilema. Tak sadar kalau ia mengalami yang namanya puber kedua. (eni)
Editor : Adetio Purtama