Suara ayam jago pak Udin, tetangga Rasimah menjadi alarm ibu 9 anak ini melakukan shalat tahajud. Pada sepertiga malam itu, ayam jago pak Udin selalu berkokok membangunkan setiap mukmin yang mendapat hidayah termasuk Rasimah.
Di saat shalat tahajud itulah, Rasimah berdoa sambil menangis agar anak-anaknya bisa hidup lebih layak dan berguna bagi agama dan negara.
“Ya Allah jadikanlah anak-anak hamba anak yang berbudi luhur, berbakti kepada orangtua dan berguna bagi agama, bangsa dan negara,” ujar Rasimah mengadu kepada Allah SWT hampir setiap malam.
Ibu Imah begitu orang kampung memanggilnya. Ibu Imah adalah janda seorang petani yang yang ditinggal suaminya karena sakit. Saat suaminya meninggal, air matanya tidak henti-hentinya keluar membasahi pipi.
Bukan kepergian suaminya yang menjadi beban. Tapi membesar anak-anak yang masih butuh biaya sendirian. Apalagi ibu Imah tidak ada saudara, ia hidup sebatang kara. Hanya beberapa petak sawah kecil yang ia miliki. Itu pun turun temurun dari keluarganya.
“Dengan apa yang saya beri anak-anak ini makan, ketika bapak masih hidup saja masih ngutang sana-sini,” ujarnya lirih sambil menahan tangis.
Sepeninggal suaminya, ibu Imah selalu bangun seperti malam. Ia selalu mengadu kepada Sang Khalik untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi.
Pesan kedua orangtua ibu Imah saat masih hidup adalah mengadulah kepada Allah SWT, karena Allah SWT sebaik-baiknya tempat mengadu. “Jangan mengadu sama manusia, mengadulah kepada Allah SWT,” ujar orangtua ibu Imah suatu ketika.
Baginya wasiat itu menjadi ujung tombak untuk tetap bertahan hidup di saat serba sulit seperti sekarang ini. “Kunci sukses adalah selalu mendoakan anak-anak. Doa orangtua menembus langit,” ujar sambil tersenyumnya.
Untuk menghidupi anak-anaknya, ibu Imah terkadang menjadi buruh tani di kampungnya. Tak jarang, ibu Imah hanya membawa beras satu liter pulang untuk ditanak dan dimakan bersama anak-anak. Meskipun begitu, gelak tawa tetap ada. Kata orang makan dengan garam terasa makan dengan rendang.
“Maklum yang punya sawah biasanya membayar jasa setelah pekerjaan selesai, jadi biaya per hari dicukup-cukupi saja,” ujarnya.
Terkadang anak-anak ibu Imah membawa makanan kecil untuk dijual di sekolah sekadar menambah uang belanja. Kalau tidak terjual habis, mereka pun menjajakannya ke rumah-rumah penduduk saat pulang sekolah.
“Anak-anak harus belajar susah, kalau tidak mereka bakal sulit menghadapi kehidupan yang penuh sandiwara ini,” ujarnya.
Berbeda dengan tetangganya yang hidup berkecukupan, di saat sepeda motor masih barang mahal, tetangganya itu sudah memilikinya. Di saat mobil pribadi menjadi ikon kekayaan seseorang, mereka juga sudah memiliknya.
Sekolah diantar meskipun dekat. Hanya saja, anak-anak mereka tidak santun kepada orangtua, tak jarang terdengar pertengkaran di rumah. Bapaknya yang bekerja di sebuah BUMN tidak bisa mendidik anaknya menjadi pribadi yang santun.
Kata orang adab itu lebih tinggi dari ilmu. Kalau sudah beradab pasti mempunyai ilmu. Tapi orang yang berilmu belum tentu beradab.
Beberapa tahun berlalu, berkat doa ibu Imah anak-anaknya sudah ada yang tamat kuliah. Bahkan beberapa anaknya sudah bekerja di perusahaan ternama.
Banyak orang bertanya kepada ibu Imah dengan apa dia membiayai sekolah anak-anaknya sehingga bisa menjadi ”orang” Padahal kehidupannya susah seperti tutup lubang gali lubang.
“Hanya berdoa di sepertiga malam, bekerja sungguh-sungguh semua permasalahan selesai,” ujarnya memberikan tips.
Yang tidak masuk akal, semua kebutuhan bisa dipenuhi. Maksudnya, ketika saat butuh uang sekolah kebetulan uang ada. Di saat butuh mau makan, tidak pernah kekurangan. Semuanya dimudahkan Allah SWT. Inilah yang dikata berkah itu.
Berbeda dengan tetangga ibu Imah. Saat ini anak-anaknya bertengkar soal pembagian harta warisan. Bahkan, ada yang kecanduan narkoba. Hidup mereka hanya menghabiskan harta warisan.
Namun itulah keajaiban dari setiap doa. Khususnya doa orangtua. Saking ajaibnya, disebutkan dalam sebuah hadist bahwa doa orangtua bisa menembus langit, membawa keberkahan yang begitu banyak, dan sangat mudah sekali dikabulkan.
Kini, ibu Imah memanen semua yang dia tanam. Anak-anaknya tidak memperbolehkan ibu Imah bekerja lagi. Semua anaknya yang dibesarkan dengan air mata itu membantunya.
Uang, rumah, naik haji ditanggung anak-anaknya. Meskipun kehidupannya sudah berubah, ia tidak pelit dan masih seperti yang dulu, duduk mengopi pahit pagi dengan tetangga mendengarkan kicauan burung menari dan bernyanyi menyambut mentari pagi adalah rutinitasnya sebelum pergi ke ladang. Baginya bahagia itu ketika saudaranya juga bisa makan dan tertawa lepas. (juf)
Editor : Adetio Purtama