Desember ini, usia Miko akan memasuki kepala tiga alias 30 tahun. Di antara teman-teman sebanyanya, hanya Miko yang sampai saat ini belum menemukan pasangan hidup atau menikah. Kondisi itu sering membuatnya mendapatkan ejekan dan candaan tidak hanya dari teman-temannya, tapi juga keluarga sendiri.
Namun, candaan itu tidak membuat Miko bersedih. Dia malahan semakin termotivasi dan bersemangat mencari pasangan hidup. Berbagai cara dilakukan oleh Miko untuk menemukan ”tulang rusuknya” itu. Mulai dari teman sekantor sampai wanita yang dijodohkan oleh keluarganya.
Tetapi, semua itu berakhir sia-sia. Mulai dari sang wanita yang tidak menaruh hati padanya, sampai Miko yang tidak menemukan kecocokan dengan setiap wanita yang dikenalkan kepadanya.
Akibatnya, setiap ada pertemuan keluarga, seperti arisan atau Hari Raya Idul Fitri, Miko selalu menjadi sasaran candaan dari keluarganya yang menanyakan kapan dirinya akan melepas masa lajangnya.
Pada akhirnya, Miko sampai ke titik paling rendah dalam hidupnya. Dia mulai berpikir apakah dia ditakdirkan untuk hidup sendiri sampai akhir hayatnya. Bahkan Miko merasa ada yang salah pada dirinya sampai-sampai tidak ada wanita yang mau hidup bersamanya.
Singkat cerita, di tengah keputusasaan Miko mencari pasangan hidup, tiba-tiba dia bertemu dengan seorang perempuan yang cantik dan manis ketika sedang nongkrong di coffee shop. Awalnya dia ragu untuk mendekati wanita itu. Namun karena ingin segera melepas lajang, dia memberanikan diri untuk berkenalan dengan wanita itu.
Ternyata keberanian Miko itu berbuah hasil. Wanita yang diketahui bernama Sari (nama samaran) itu, ternyata sangat welcome kepadanya. Kebetulan pada saat itu, Sari hanya sendirian. Jadilah mereka berdua duduk di meja bersama sembari mengenal lebih dekat satu sama lain.
Pertemuan itu ternyata menjadi awal dari perjalanan asmara dari Miko dan Sari. Bahkan hubungan mereka saat ini semakin dekat. Miko pun beberapa kali sudah bertemu dengan kedua orangtua Sari. Mereka pun sangat setuju jika anaknya menjalin hubungan dengan Miko.
Merasa sudah waktu yang tepat, Miko kemudian mengajak Sari untuk berkunjung ke rumahnya untuk bertemu kedua orangtua dan saudara-saudaranya. Miko ingin memberikan kejutan kepada mereka bahwasanya saat ini dia sudah memiliki tambatan hati.
Sari menyambut baik niat dari Miko itu. Keduanya pun berencana untuk mengunjungi rumah Miko pada Sabtu. Ketika hari H datang, tanpa memberitahu keluarganya, Miko dan Sari tiba di rumah tersebut. Betapa terkejutnya orangtua, khususnya ibu Miko, ketika melihat anak bujangnya menggandeng wanita cantik.
Namun di tengah rasa bahagia itu, Sari mulai merasa keluarga Miko sangat familiar baginya. Dia merasa mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Tetapi, dia menduga mungkin karena disambut dengan hangat, keluarga Miko sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
Satu jam berlalu, ketika Miko dan Sari asyik berbincang dengan keluarga, tiba-tiba kakak Miko yang bernama Ranti (nama samaran) masuk ke dalam rumah. Awalnya Ranti sama sekali tidak mengenal wanita yang dibawa adiknya itu. Namun setelah dilihat dengan seksama, Ranti mulai mengingat wajah Sari.
Tanpa diduga, Ranti langsung berteriak memanggil nama Sari. Sari secara tidak langsung juga mengingat wanita yang memanggil namanya itu. Ternyata Sari merupakan teman Ranti ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Wajar saja Sari merasa familiar dengan keluarga Miko lantara ketika SMA dulu dia sering berkunjung ke rumah Ranti.
Kenyataan itu membuat Miko diam membatu. Dia tidak menyangka wanita yang dicintainya itu adalah teman kakaknya. Dia pun baru sadar ternyata usia Sari lebih tua lima tahun dari dirinya. Jadi selama berpacaran, Miko tidak pernah menanyakan usia Sari. Wajar saja dia terkejut. Dia selama ini menyangka bahwasanya usia Sari sebaya atau di bawahnya satu tahun lantaran wajah Sari terlihat masih muda.
Setelah pertemuan itu, Miko dan Sari berbicara empat mata. Sari merasa khawatir dan ragu jika Miko tidak mau melanjutkan hubungan mereka karena perbedaan usia. Namun keraguan Miko itu sirna.
Seperti tahu isi hati dari kekasihnya itu, Miko langsung mengatakan jika tetap ingin melanjutkan hubungan. Bahkan Miko ingin menjalin hubungan serius dengan Sari hingga ke jenjang pernikahan.
Mendengar hal itu, Sari terlihat terharu dan bahagia. Bahkan dia langsung menyetujui niat baik Miko untuk menikah. Setelah beberapa tahapan akhirnya keinginan mereka berdua itu terkabul.
Miko dan Sari resmi menikah dan sah menjadi pasangan suami istri. Status lajang yang dia sandang selama ini akhirnya selesai. Meskipun usia mereka terpaut lima tahun, Namun keduanya hidup bahagian sampai akhirnya dikaruniai anak-anak yang cantik dan gagah. (adt)
Editor : Adetio Purtama