Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pertemuan tak Terduga

Eri Mardinal • Rabu, 8 Januari 2025 | 06:15 WIB

Photo
Photo
PADEK.JAWAPOS.COM—Terkadang takdir memang punya cara sendiri untuk mempertemukan dua hati. Bahkan dalam momen sederhana ketika berkunjung ke rumah seorang sahabat. Seperti apa ceritanya?

Sore itu, langit kota mulai memerah ketika Ruben (bukan nama sebenarnya) memarkirkan mobilnya di depan rumah Didik (bukan nama sebenarnya), sahabatnya sejak kuliah.

Sudah hampir setahun mereka tidak bertemu sejak Ruben dipindahtugaskan ke luar kota. Dengan paper bag berisi oleh-oleh di tangan, ia melangkah menuju pintu yang sudah sangat familiar baginya.

”Bro! Akhirnya datang juga!” Didik menyambut dengan salam dan pelukan hangat. ”Ayo masuk, masuk. Kebetulan adikku baru pulang dari London minggu lalu.”

Ruben mengikuti Didik ke ruang keluarga. Di sana, seorang gadis sedang membaca buku di sofa. Ia mengangkat wajahnya dan tersenyum sopan.

”Kenalin, ini adikku, Kinanti (bukan nama sebenarnya), ini Ruben, sahabat kakak yang sering aku ceritakan,” katanya.

Ruben terpaku sejenak. Kinanti tampak berbeda dari foto-foto yang pernah ia lihat di media sosial Didik. Gadis itu terlihat lebih dewasa, dengan rambut sebahu yang membingkai wajahnya dengan sempurna. Ada sesuatu dalam cara dia tersenyum yang membuat Ruben sulit mengalihkan pandangan.

”Halo, Mas Ruben. Akhirnya ketemu juga. Bang Didik sering cerita tentang Mas,” sapa Kinanti sambil menjabat tangan Ruben.

Sore itu berlalu dengan obrolan hangat. Ruben mendengarkan dengan antusias ketika Kinanti bercerita tentang pengalamannya menyelesaikan S2 di London. Ada ketertarikan yang tumbuh setiap kali mendengar tawa kecilnya, atau melihat bagaimana matanya berbinar saat membahas passion-nya di bidang arsitektur.

Kunjungan yang awalnya direncanakan singkat itu berubah menjadi makan malam bersama atas desakan Didik. Selama makan, Ruben semakin tenggelam dalam pesona Kinanti.

Cara dia berbicara, gestur tangannya saat menjelaskan sesuatu, bahkan caranya menyelipkan rambut ke belakang telinga, semuanya terasa memikat.

Minggu-minggu berikutnya, Ruben mulai lebih sering mengunjungi rumah Didik. Kadang dengan alasan ada urusan bisnis, kadang hanya sekadar kebetulan lewat. Didik, yang menyadari gelagat sahabatnya, hanya tersenyum maklum.

”Gue tahu lo tertarik sama adik gue,” kata Didik suatu hari. ”Kinanti juga sepertinya nyaman sama lo bro.” Ruben tersentak, tidak menyangka respon sahabatnya begitu ”welcome”.

Didik menepuk bahu sahabatnya. ”Lo udah gue kenal bertahun-tahun. Kalau ada yang pantas buat adik gue, ya lo orangnya.”

Mendapat restu tidak langsung dari Didik, Ruben memberanikan diri mendekati Kinanti. Mereka mulai sering bertemu berdua, makan siang di sela meeting, atau sekadar ngopi sambil membahas proyek arsitektur Kinanti. Chemistry di antara mereka mengalir begitu natural.

Enam bulan kemudian, di sebuah roof top restaurant dengan pemandangan kota, Ruben berlutut di hadapan Kinanti dengan cincin di tangannya. Ruben mengutarakan niatnya untuk menikahi Kinanti. Gayung pun bersambut. Kinanti menerima pinangan Ruben.

Ruben dan Kinanti akhirnya menikah dua minggu sejak pinangan itu. Pernikahannya mereka digelar sederhana namun penuh makna.

Didik berkelakar, ”Dulu waktu kuliah, Ruben sering main ke rumah sampai-sampai kayak saudara sendiri. Sekarang beneran jadi saudara!”

Di pelaminan, Ruben memandang Kinanti yang cantik dalam balutan kebaya putih. Siapa sangka kunjungan biasa ke rumah sahabat setahun lalu akan membawanya pada kebahagian ini?

”Terima kasih sudah mampir ke rumah waktu itu,” bisik Kinanti sambil menggenggam tangan suaminya.

Ruben tersenyum, mengecup lembut tangan yang kini tersemat cincin pernikahan itu. ”Terima kasih sudah membuat kunjungan itu jadi awal dari semuanya. (eri)

Editor : Adetio Purtama
#Padang Punya Cerita