Pada bulan ini rumah tangga Toni dan Marni genap berusia 6 tahun. Sejak berkenalan ketika masih menjadi mahasiswa, perasaan cinta Tony tidak pernah hilang kepada istrinya, Marni. Bahkan Tony merasa kebahagiaannya menjadi lengkap ketika dikaruniai seorang anak perempuan cantik. Keluarga kecil mereka berjalan harmonis dan penuh kasih sayang.
Pekerjaan Toni sebagai pegawai di salah satu badan usaha milik negara dan Marni yang berprofesi sebagai pegawai kantoran memang membuat mereka tak banyak menghabiskan waktu bersama anak semata wayang. Tetapi kondisi itu tidak merusak dan mengganggu sedikitpun kebahagiaan kehidupan keluarga kecil tersebut.
Tetapi seiring berjalannya waktu Toni merasa ada yang berubah dari istrinya, terutama dalam hal perilaku sehari-hari. Selama hidup bersama dengan Marni Toni mengenal istrinya itu sebagai perempuan yang baik penyabar dan tidak mudah emosional. Namun satu bulan belakangan ini sifat-sifat itu tidak terlihat sama sekali pada Marni.
Awalnya Tony tidak terlalu memikirkan perubahan sikap dari istrinya itu. Dia beranggapan bahwa mungkin Marni sedang ada masalah dalam pekerjaannya sehingga mudah tersulut emosi.
Toni memilih untuk membiarkan istrinya tersebut agar bisa menenangkan diri. Tetapi satu bulan berlalu Marni tetap menjadi orang yang sering marah.
Kondisi itu membuat sedikit keributan di dalam rumah tangganya. Keributan-keributan kecil sering terjadi. Padahal keributan itu hanya disebabkan oleh hal yang sepele.
Seperti Toni yang saat itu lupa mengangkat jemuran ketika hujan turun. Marni langsung terselut emosi dan marah sepanjang waktu. Bahkan dalam satu hari itu dia tidak mau berbicara dengan Toni.
Tak hanya itu Marni yang sebelumnya tidak pernah memarahi sang anak ketika menangis, berubah menjadi seorang ibu yang pemarah. Berulang kali Marni kedapatan memarahi anaknya dengan keras. Padahal apa yang dilakukan oleh anaknya itu adalah hal yang di normal dilakukan oleh anak seusianya.
Lama kelamaan kondisi itu membuat Toni merasa terganggu. Dia Kemudian berinisiatif untuk mengajak Marni berbicara empat mata secara mendalam. Toni ingin mengetahui penyebab dari perubahan sikap dan sifat istrinya itu selama satu bulan terakhir.
Ajakan berbicara oleh Toni ternyata tidak mau dituruti oleh Marni. Parahnya, Marni membentak suaminya itu karena merasa jengkel.
Toni tak menyangka istri yang dicintainya itu berani membentak dirinya. Bahkan Marni setelah membentak itu tak berniat untuk meminta maaf sekalipun kepada Toni.
Marni seperti tidak bersalah telah melakukan hal buruk kepada suaminya. Toni memilih untuk pergi dari rumah agar bisa menenangkan diri untuk sementara waktu.
Dua bulan sejak kejadian itu Toni awalnya merasa istrinya akan kembali seperti dulu. Ternyata sifat pemarah dari Marni semakin menjadi-jadi.
Hampir setiap waktu Toni dan Marni terlibat pertengkaran hebat. Mulanya pertengkaran itu tidak diketahui oleh keluarga masing-masing. Namun lama-kelamaan aib keluarga mereka itu diketahui oleh keluarga besar Toni dan Marni.
Kedua keluarga besar pun mencoba untuk mendamaikan dan mencarikan solusi atas pertengkaran Marni dan Toni. Usai dilakukannya mediasi akhirnya baik Marni maupun Toni mencoba untuk berdamai dan membangun rumah tangga kembali seperti biasanya. Tetapi keharmonisan itu hanya bertahan selama dua minggu saja. Setelahnya Marni kembali menjadi orang yang pemarah.
Sebenarnya hal yang menyebabkan Marni berubah menjadi orang yang pemarah adalah karena urusan pekerjaannya di kantor.
Dalam beberapa bulan terakhir kondisi tempat dia bekerja sedang tidak baik-baik saja. Bahkan hampir sebagian karyawan sudah diputus kerja secara sepihak oleh pemilik kantor. Bekerja di bawah tekanan dan terancam untuk di-PHK itulah yang membuat Marni berubah menjadi orang yang pemarah.
Karena tidak bisa mengendalikan rasa marah akibat pekerjaan kantor membuat dirinya mencurahkan emosinya itu ketika berada di rumah.
Alasan itulah yang membuat Marni mudah tersulut emosi bahkan dengan hal-hal sepele. Meskipun Mengalami berbagai masalah sayangnya Marni tidak mau berbagi cerita dengan suaminya.
Puncak kekesalan dari Toni melihat perilaku istrinya adalah ketika suatu hari dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Marni membentak ibunya.
Saat itu tanpa sengaja anak perempuan mereka terjatuh saat dalam pengawasan sang ibu. Meskipun tidak terjadi apa-apa pada anaknya Marni sangat marah dan membentak ibu mertuanya itu.
Hal itulah yang membuat Toni sangat marah dan meluapkan emosinya yang selama ini dia pendam kepada Marni. Toni dengan penuh emosi mengatakan kepada istrinya itu bahwasanya dia tidak sanggup lagi hidup bersama membina rumah tangga dengan Marni. Dia memilih untuk bercerai dengan perempuan yang selama ini dia cintai.
Sejak peristiwa itu Toni memilih untuk tinggal di rumahnya. Sesekali dia pergi menengok anaknya yang tinggal dengan Marni sambil menunggu keputusan Pengadilan Agama terkait perceraian mereka.
Sempat beberapa kali Marni meminta maaf kepada Toni. Meskipun memaafkan istrinya itu namun keputusan Toni sudah bulat untuk berpisah dengan dirinya. (adt)
Editor : Adetio Purtama