Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pulang ka Bako juga Akhirnya

Suryani • Rabu, 14 Mei 2025 | 10:00 WIB

Photo
Photo
PADEK.JAWAPOS.COM—Kalau jodoh memang tak lari ke mana. Walau sudah  berkelana sampai ke ujung dunia sekalipun, ternyata berjodoh dengan anak mamak sendiri. Meski bukan pula yang pertama. Setidaknya seperti mewujudkan mimpi yang pernah ada. Seperti apa kisahnya?

Sebut saja Winda (nama samaran) adalah anak bako dari Wandi (nama samaran). Ayah Wandi adalah mamaknya atau kakak ibunya Winda. Usia mereka tak beda jauh. Dulu waktu masih SD Wandi sering ke rumah bako diajak  ayahnya. Di hari baik bulan baik keluarga Wandi menjalang ke rumah bako.

Ibunya membawa buah tangan berupa lemang, rendang atau kue bolu ke rumah Winda. Kebiasaan di Minang yang di masanya masih dijalani sebagai sebuah tradisi turun temurun.

Karena hampir seumuran mereka berdua jadi akrab dan bermain bersama kalau sudah berjumpa. Wandi sudah dianggap kakak oleh Winda. Sewaktu SMP mereka sempat satu sekolah.

Wandi duduk di kelas 2 sedangkan Winda  baru kelas 1. Ketika itu Winda tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik. Ia banyak digoda cowok teman sekolahnya. Sampai-sampai ada yang nekat hendak menjahilinya.

Untunglah Wandi datang pada waktu yang tepat. Ia hajar habis-habisan cowok kurang ajar itu. Kebetulan Wandi jago olahraga beladiri dan pemegang sabut hitam.

“Jangan takut, selagi ada aku kamu aman...” ucap Wandi melihat Winda yang masih ketakutan. Tubuhnya gemetar. “Terima kasih, untung kamu cepat datang,” kata Winda lega.

Sejak saat itu Winda punya pelindung. Anak mamaknya sendiri. Dia merasa nyaman saat berdekatan. Apalagi kalau diboncengi pulang sekolah. Winda baru menyadari kalau ia suka sama cowok itu. Tapi entahlah bagi Wandi. Mungkin ia menganggap Winda adik.

Dan suatu hari si anak mamak menggandeng cewek. Kakak kelas Winda. Cantik dan baik orangnya. Winda pun mundur teratur. Baru jatuh cinta sudah patah hati.

Walau sikap Wandi tak pernah berubah tapi Winda sudah telanjur patah. Berusaha menghindar kalau Wandi mendekat. Sekalipun hanya untuk menjaganya.

Empat tahun kemudian Wandi lulus SMA. Ia diterima kuliah di universitas ternama di Jakarta. Praktis mereka tak bertemu lagi seperti biasanya. Berkabar pun tidak. Jarang pula ke rumah bako kalau libur Lebaran. Entah ia pulkam atau tidak. Winda tidak pula mencari tahu.

Sejak punya pacar Winda pun melupakan cinta monyetnya. Cowok yang dikenalnya di sebuah konser musik mampu membuat Winda takluk.

Mereka pun pacaran layaknya anak muda seusianya. Hubungan mereka awet sampai Winda lulus kuliah. Tapi lagi-lagi mereka  berpisah karena terhalang jarak. Lelaki itu diterima kerja di Indonesia bagian timur.

Awalnya mereka  bisa menjalani LDR, tapi lama-lama renggang juga. Sampai pria itu tak lagi berkabar. Ternyata ia sudah punya pacar baru di kota tempatnya bekerja. Yah, Winda pasrah. ‘Mungkin bukan jodoh aku,’ batinnya.

Patah hati kali ini Winda menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Termasuk magang kerja di sebuah perusahaan. Bertemu dengan orang-orang baru membuatnya lupa masa lalu. Untuk apa dikenang-kenang pengalaman yang tak mengenakkan.

Walau karyawan magang Winda berusaha untuk totalitas mengerjakan tugas yang diberikan atasan. Bos puas dengan hasil kerja Winda. Apa pun yang diberikan bisa dikerjakannya dengan baik. Akhirnya ia diterima jadi karyawan kontrak yang gajinya lumayan. Winda semakin semangat dan optimis menjalani hari-harinya.

Kalah soal asmara, menang di dunia kerja. Winda tak lama bekerja di perusahaan tersebut. Nasib baik terus menghampirinya. Ia ditawari kerja di sebuah bank terkemuka. Spontan Winda menerima. Ia sarjana akunting, jadi cocoklah.

Jadilah Winda karyawan bank yang masuk pagi pulang sore. Saban waktu disibukkan menghitung angka-angka. Terkadang memusingkan kepala. Sepulang ke rumah sudah capek langsung istirahat.

Besok pagi ngantor lagi. Begitu saban hari. Hari libur dimanfaatkan untuk malas-malasan di kasur. Jarang nongki-nongki sama teman. Tak berselera untuk mencari pasangan. Belum move on.

Di Hari Minggu ibunya mengajak pergi pesta ke tempat mamaknya. Awalnya Winda enggan. Tapi setelah didesak terus, ia luluh. Tak disangka Winda bertemu Wandi di pesta itu. Yang punya pesta adalah mamak Winda, adik ayah Wandi atau kakak ibunya nomor dua.

“Winda kan?” tanya pria itu agak ragu. “Iya? Wa-Wandi?”   jawab Winda terbata. Setelah belasan tahun mereka bertemu lagi, pria itu banyak berubah. Dulu kulit coklat karena terbakar matahari, tapi kini bening. Hampir sama dengan dirinya yang saban hari berkutat di ruangan ber-AC.

Dan sudah bisa ditebak mereka sibuk dengan nostalgia. Membuka lembaran lama. Bercerita tentang teman-teman sekolah. Barulah saat itu Wandi mengaku kalau ia sempat suka sama Winda. Tapi perasaan itu ditepisnya karena mereka ada hubungan keluarga.

“Aku nyesal dulu punya pikiran seperti itu,” akunya. “Aku dulu sempat patah hati...” kata Winda. “Sama aku?”

Winda mengangguk. Malu.

“Mungkin takdir mempertemukan kita kembali,” ucap Wandi memandang Winda dengan mesra. Gadis itupun berbunga hatinya.

Kini mereka merasa sudah merasa sama-sama nyaman untuk memulai sebuah hubungan. Dan, ternyata orangtua juga berniat menjodohkan mereka berdua. (eni)

Editor : Adetio Purtama
#Pulang ka Bako