Cerita ini berawal dua bulan lalu. Saat itu, salah satu warga di lingkungan tempat tinggal Bagus yang memiliki usaha pembuatan dan penjualan snack atau makanan ringan, membuat sebuah undian berhadiah sepeda motor dengan syarat harus mengumpulkan koin berhadiah yang sudah dimasukkan ke dalam snack tersebut.
Snack yang dijual satunya Rp 2 ribu itu, tentu menarik perhatian warga di kampung tersebut. Apalagi hadiah yang dijanjikan adalah dua unit sepeda motor untuk dua orang pengumpul koin terbanyak.
Mendengar kabar baik itu, Bagus yang selalu semangat jika mendengar ada info berhadiah, langsung memikirkan rencana bagaimana menjadi satu dari dua pemenang. Tanpa pikir panjang, Bagus langsung pergi ke warung untuk membeli 20 bungkus snack berisi koin berhadiah itu.
Ternyata, Bagus bukanlah orang pertama yang membeli snack di waktu tersebut. Sudah ada tetangga Bagus, Brian (nama samaran) dan tiga warga lainnya yang juga membeli snack itu. Bahkan Brian sudah merencanakan akan membeli snack dengan jumlah yang lebih banyak dari Bagus. Dia melihat berapa buah snack yang dibeli Bagus, kemudian baru dia membeli snack yang lebih banyak jumlahnya.
Strategi Brian itu akhirnya diketahui oleh Bagus. Bagus pun memutar otak untuk bisa mengalahkan jumlah snack Brian. Bagus kemudian berencana untuk menelpon pemilik warung untuk menanyakan jumlah snack yang dibeli Brian, sehingga dia bisa mengatur jumlah snack yang akan dia beli.
Persaingan antara Bagus dan Brian ternyata membuat warga lainnya menjadi termotivasi, sehingga mereka berbondong-bondong untuk membeli snack berisi koin berhadiah. Tentunya kondisi itu memberikan untung besar kepada pemilik warung. Pemilik warung setiap hari harus memproduksi snack dengan jumlah yang lebih banyak.
Banyaknya warga yang bersemangat membeli snack, membuat posisi Bagus dan Brian terancam dalam hal perolehan jumlah koin. Karena hanya ada dua pemenang, Bagus dan Brian kemudian memutuskan untuk bekerja sama dalam kompetisi koin berhadiah itu.
Untuk skor perolehan sementara koin berhadiah, Bagus dan Brian sama-sama mengoleksi 87 koin. Tapi mereka harus waspada. Orang yang berada di bawah mereka saat ini sudah mengoleksi sebanyak 80 koin. Baik Bagus dan Brian harus fokus memikirkan cara agar perolehan koin mereka tidak terkejar.
Bahkan saking takutnya terkejar, Brian dan Bagus sampai menunggu warung buka di pagi buta. Dengan waktu yang tersisa beberapa minggu lagi, Brian dan Bagus hampir dipastikan menjadi dua orang pemenang hadiah sepeda motor.
Tetapi tak disangka, dua hari menjelang penutupan undian berhadiah, tiba-tiba saja posisi Brian keluar dari dua besar. Rama (nama samaran) melejit di posisi pertama dengan perolehan 102 koin. Sedangkan Bagus dan Brian sama-sama mengoleksi 100 koin.
Tak mau kalah di penghujung kompetisi, Bagus dan Brian sebisa mungkin mengerahkan tenaga untuk bisa merebut kembali posisi mereka. Di masa ”injury time” Bagus dan Brian memborong hampir semua snack yang ada di warung itu. Hasilnya, warga lain yang datang terlambat, tidak kebagian snack.
Dengan kondisi itu, bisa dikatakan pemenang kompetisi koin berhadiah adalah Bagus dan Brian. Tepat kompetisi itu ditutup, Bagus dan Brian langsung menyerahkan semua perolehan koin berhadiah mereka kepada pemilik warung.
Singkat cerita, Bagus dan Brian disuruh menunggu pengumuman kapan hadiah sepeda motor bisa diambil dan dibawa pulang. Wajah berseri terpancar jelas dari mereka berdua. Warga di lingkungan mereka pun sudah memberikan selamat kepada Bagus dan Brian.
Seiring berjalannya waktu, Bagus dan Brian mulai bertanya-tanya dan resah kenapa kabar pengambilan hadiah sepeda motor belum juga ada. Bagus dan Brian kemudian berinisiatif untuk menanyakan langsung kepada pemilik warung. Tapi pemilik warung hanya menjanjikan dalam waktu dekat hadiah bisa diambil.
Namun lebih dari satu bulan sejak kompetisi koin berhadiah itu tutup, hadiah belum juga ada kabarnya. Karena merasa terus diberikan harapan palsu (PHP), Bagus dan Brian Kembali mendatangi warung itu. Tetapi pemilik warung sudah berhari-hari tidak ada di rumahnya.
Bahkan saat dihubungi via telepon, nomor pemilik warung tidak bisa dihubungi. Perasaan cemas pun mulai menyelimuti Bagus dan Brian. Kondisi itu menjadi cemooh dari warga kepada Bagus dan Brian. Sudahlah uang habis membeli snack, tapi hadiah tak kunjung ada kabar.
Pada akhirnya, hadiah tersebut menjadi harapan palsu saja. Ternyata pemilik warung tidak pernah sekalipun memiliki niat memberikan hadiah sepeda motor kepada para pemenang. Kenyataan itu tidak bisa diterima oleh Bagus, Brian, dan warga lainnya yang telah memborong snack tersebut.
Mereka pun menuntut agar uang yang telah dihabiskan membeli snack tersebut dikembalikan. Pemilik warung pun menyanggupi untuk mengembalikan uang itu, tapi dengan cara dicicil. (adt)
Editor : Adetio Purtama