Hal ini diungkapkan oleh Tenaga Ahli Menteri PUPR, Suprapto. "Waterfront City merupakan konsep pembangunan kota pantai, pesisir, sungai maupun danau. Konsep pengembangannya berorientasi perairan," ungkap mantan Kepala Dinas Prasjal Tarkim Sumbar itu, Rabu (4/11/2020).
Konsep Waterfront City berasal dari pemikiran seorang ahli Amerika Serikat, James Rouse, di tahun 1970-an.
Padang memenuhi kriteria untuk mengklasifikasikan Waterfront City. “Kriterianya selain kota itu harus berada di tepi perairan, kawasannya juga telah memiliki area pelabuhan, perdagangan, pemukiman, dan pariwisata,” ujar Suprapto.
Suprapto mengungkapkan, di Indonesia telah diterapkan konsep Waterfront City sejak zaman Belanda. “Kota Batavia atau Jakarta contohnya,” ujarnya.
Kota lainnya yang berkonsep Waterfront City yakni Makassar. Kota di Pulau Sulawesi ini merupakan Waterfront City terbaik dengan Pantai Losari sebagai daerah utama pusat pengembangannya. Wilayah Pantai Losari telah menjadi pusat bisnis, rekreasi, dan perdagangan di Kota Makassar.
Beberapa kota lagi yang mengusung konsep Waterfront City adalah Batam, Manado, Pontianak, Balikpapan, dan Kota Pariaman yang sedang berbenah.
"Nah, Kota Padang ke depan juga bisa dikembangkan dengan konsep Waterfront City ini. Waktu saya di Dinas Prasjal Tarkim Provinsi Sumbar dulu, perencanaan Waterfront City untuk Kota Padang sudah ada. Tapi gak tahu apa dokumennya masih ada sekarang,” ungkap Suprapto.
Pembangunan infrastruktur yang pertama kali dilakukan adalah membangun jalan pantai yang menghubungkan Teluk Bayur-Nipah-Jembatan Siti Nurbaya-Jembatan di belakang Hotel Pangeran Beach terus sampai ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM),” jelasnya.
Jalan dan jembatan ini menyusur sepanjang pantai di Kota Padang, untuk mendukung pariwisata dan management traffic di kota ini. Dengan adanya jalur baru ini, maka Teluk Bayur sebagai pelabuhan laut dan BIM pelabuhan udara, akan terhubung dengan tiga jalur.
“Yakni, jalur Padang-Bypass, jalan dalam kota melalui Jalan Sudirman, Khatib Sulaiman hingga Tabing. Kemudian jalan menyusur pantai tadi,” terangnya.
Jalur Padang-Bypass dijadikan pusat bisnis. Jalur dalam kota dijadikan pusat perkantoran dan perdagangan. Sedangkan jalur menyusuri pantai dapat dijadikan sebagai kawasan wisata.
Sementara, Kawasan Gunung Padang juga dapat dijadikan wisata geopark dengan Pantai Air Manis sebagai wisata air. Untuk kawasan Pantai Padang menuju Kampus Bung Hatta di Ulak Karang, juga dapat dikembangkan menjadi pusat wisata kuliner dan suvenir. Dan dari jembatan di Tabing sampai ke BIM juga bisa dikembangkan dengan konsep Waterfront City. (*) Editor : Hendra Efison