Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kucing Walikota

Novitri Selvia • Minggu, 7 November 2021 | 13:38 WIB
Photo
Photo
Sejak Negeri sarang pelawak dipimpin Walikota Ikaltum, mendadak para pejabat belajar menjadi orang bege. Bukan kenapa-kenapa, Ikaltum adalah lelaki yang flamboyan dan agak melambai-lambai sedikit.

Ikaltum, walikota yang memimpin Negerisarang Pelawak tak suka menghardik-hardik orang.Ia bicara lembut. Tiap satu kata selesai bicara, lidahnya terjulur menyapu bibirnya.

Kalau dulu, tiap bicara menyapu bibir dengan lidah sendiri dianggap tabu oleh masyarakat Negeri sarang Pelawak, tapi kini tidak lagi.

Membasah-basahkan bibir menjadi kebiasaan baru bagi pejabat di lingkungan Kota Negeri sarang Pelawak. Lebih-lebih ketika Walikota Ikaltum memecat Kepala Dinas Tiktok yang dianggap kasar.

“Pak, bukankah Kadis Tiktok itu kinerjanya bagus. Mengapa bapak pecat?”, ujar ajudan Wako Ikaltum di atas mobil dinas sepulang Pak Wali meresmikan Komunitas Muda Penggemar Games.

Sebelum menjawab, Ikaltum merapikan rambutnya di balik daun telinga dengan satu jari. Ia basahkan bibirnya, ia menjawab dengan lembut: “Malas kita dibuatnya.

Kadis kasar itu. Bibirnya kering. Coba kamu bayangkan, bibirnya saja kering bagaimana pula ia akan dapat melahirkan program-program yang meneduhkan hati rakyat kita”. Sang ajudan diam.

Pak Wako Ikaltum memandang ke ajudannya.”Mulai hari ini, saya juga melihat kamu sebagai sosok yang kasar”. Ajudan langsung menjawab: “ Tidak Pak.Saya sejak lahir sudah bege, Pak !”

“Eh, kamu kira saya bege. Tidakkah kamu lihat, saya beristri.Tiap tahun bini saya beranak saya buat. Jangan kamu kira, orang lembut seperti saya ini orang bege!”. Ikaltum tampak marah. Ajudan cemas.

Sementara sang sopir yang arif dengan keadaan langsung melentikkan tangannya ketika hendak membelokkan mobil di sebuah tikungan. “Kamu ini tidak beradat”, Walikota memandang ke arah ajudan.

“Saya beradat Pak. Saya hapal dengan pepatah petitih kita. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Anak dipangku kemenakan dibimbing”, ujar ajudan dalam wajah dan cara bicara yang dibege-begekan.

Kemudian tampak sang walikota menelpon. Rupanya ia menelpon mamanya. “Mama, ini Ikal. Ikal tersinggung mama, masak ajudan yang mama pilihkan untuk Ikal menuduh Ikal bege. Ikal sedih mama”, ujar sang Walikota dengan suara manja.

“Pecat dia .Besok mama pilihkan ajudan yang bagus untuk Ikal”, ulas sang mama. Ikal tersenyum. Cepat-cepat ia menutup teleponnya.

“Matilah kamu. Kamu dipecat Mama. Begitu kita sampai di rumah dinas dan begitu mobil ini dibuka, itulah akhir tugasmu sebagai ajudan. Kamu game over….”, kata Wako Ikaltum.

“Maaf Pak Wali. Maaf Pak Wali. Istri saya sedang hamil. Jangan sekarang pecat saya. Saya butuh jabatan ini Pak Wali. Membenar saya Pak wali. Membenar saya dengan sepuluh jari di kepala. Ampun Pak Wali. Pak wali tidak bege. Saya bersaksi didengar sopir, atas nama istri saya, atas nama anak dalam perut bini saya, sekali lagi saya bersaksi…Pak Wali adalah sosok laki-laki paling macho di antero Negeri sarang Pelawak !”

“Sudah terlambat. Jabatanmu saya alihkan pada urusan rumah tangga rumah dinas seksi tukang semir sepatu Walikota !” Tak dapat diagak. Sang ajudan itu menekur.
***

Kepala Dinas Jalan-jalan, Sungkur adalah mantan atlet karate pemegang sabuk hitam. Semasa muda, ia dikenal pareman bagak.Hobinya bercakak. Badannya berdegap.

Ia diangkat menjadi Kepala Dinas Jalan-jalan berkat lobi ayahnya yang mantan pacar lama mama Pak Walikota Ikaltum. Ia kini sedang mati kecemasan. Karena semasa kuliah ia dulu Menwa.

Jalannya tegap. Bicaranya keras dan pasti. Kini, ia harus belajar berjalan melambai.Bicara melambai. Harus belajar bege seperti walikota Ikaltum. Ia bingung, sudah pasai ia mencari kursus “cara singkat seperti Pak Walikota”.

Cara singkat belajar menjadi lelaki setengah masak. Tak ada. Ia lihat di youtube tentang tutorial menjadi bege, tak ada pula. Ia harus bagaimana?

Ia mulai berpikir kreatif. Itu ia lakukan diam-diam tanpa sepengetahuan istrinya. Ia buat sebuah garis lurus di halaman belakang rumah. Ia berjalan sesuai garis lurus.

Ibarat berjalan di atas rel kereta api. Tiap berjalan, ia lenggokkan pinggulnya. Seperti nyanyian “satu untuk uda…satu untuk kami”.

Tiap bicara, ia terapi lidahnya. Tiap usai bicara ia sapu bibir atas dan bibir bawah. Tiap bicara, ia latih matanya supaya tidak tajam-tajam amat. Ia sayu-sayukan matanya habis bicara.Kadang, tiap selesai bicara, bibir basah, mata disayu-sayukan dan dikedip-kedipkan seperti orang berhiba-hiba hati.

Pada suatu malam, ketika bininya sudah tidur lelap, ia ambil calak dan lipstick bininya. Ia calak dua ali matanya. Ia beri bibirnya lipstick warna sirah. Ia pandang dan ia pelajari bagaimana tidur seorang perempuan.

Agak melekuk sedikit. Ia tiru habis gaya istrinya tidur. Ia ingin segera mendapat “ruh” keperempuanan. Sampai akhirnya ia terlelap.

Sampai besok pagi istrinya terkejut mendapati lakinya yang bercalak dan berlipstik.
“Uda, mengapa uda ini? Bercalak-calak bagaimana pula uda ini. Ha, pakai lip pula…..?”

Sungkur senyum. Ia pandang istrinya dengan mata menggoda. Ia basahkan bibirnya. Istrinya terkejut. Istrinya seakan-akan seperti tak berhadapan dengan Sungkur sang suami yang selama ini super macho yang kini menjadi super bege.

“ Sayang….” Ia bicara dengan gaya merajuk bege dan seperti akan memeluk istrinya. Sang istri langsung mengambil jakar menjauh selangkah.

“ Uda….!”

“ A’paaaa” , ia lengihkan suaranya.

Itulah peristiwa rumah tangga Sungkur. Gilanya, Sungkur benar-benar mengubah diri secara total menjadi bege. Sikap Sungkur yang tak mau berubah ini membuat istrinya jijik. Sebulan setelah itu, sang istri minta cerai.

“Kalau itu sudah menjadi kehendak adinda, kakanda terima dengan lapang dada !” Plussss. Cerai. Cerai !

Sungkur naik pangkat menjadi Sekda. Bahkan, untuk penambah pemasukan Sungkur menerima kursus pribadi tentang trik cepat menjadi bege.
***

Hari ini Walikota rapat lengkap. Semua Kadis diundang termasuk Sekda. Ketika rapat sedang berjalan serius dan Walikota Ikaltum sedang memberi pengarahan yang tak terarah, tiba-tiba hp Walikota berdering.Ia lihat dilayar Hp dari “Mama Ambo”.

“Rapat kita tunda sebentar ya. Ini ada telepon pula dari mama.Nanti kita lanjutkan kembali ya. Ada jelas tu….!”

“Ada Pak Walikota”, suara jawaban seperti koor anak TK. Tak lama kemudian, Walikota kembali masuk ke ruangan rapat.

“Rapat kita tunda. Kata Mama, saya harus segera pulang karena kucing kesayangan mama sedang sakit !”

“Iyaaaaaa Pak walikota”, serentak semua pejabat berdiri. Membungkukkan badan setelah itu memberikan lambaian tangan ke Pak Walikota.

Tiba di rumah, Mama menyambut sang anak dengan uraian air mata. “Terlambat Nak…terlambat Nak. Canggu sudah tiada”, Ikaltum langsung memeluk mama yang sedih kehilangan Canggu kucing yang manis.

Kabar berita telah tiadanya Canggu cepat merebak ke mana-mana. Wa para pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Negeri sarang Pelawak bordering. Bahkan grup-grup Wa warga kota Negerisarang Pelawak penuh dengan ucapan duka.

“Telah Meninggal Canggu Kucing Kesayangan Mama Walikota Kita. Semoga Canggu bahagia di alam sana”.

Bahkan, sore itu rumah Dinas Walikota penuh dengan karangan bunga ucapan duka.
Pejabat-pejabat sibuk menyiapkan prosesi penguburan Canggu. Tenda-tenda dipasang.Kursi-kursi ditata.Semua pejabat, atas perintah Sekda wajib berbusana abu-abu.

“Pak Sekda, mengapa harus berbusana abu-abu. Bukankah warna hitam identik dengan duka? “tanya Halistia sekretaris Sekda yang super tomboy.

Menurut cerita-cerita yang beredar di area kantor Sekda, Halistia pernah kedapatan bermesra-mesraan dengan Sekda Sungkur. Mereka saling main tepuk-tepuk pantat. Ketika Helistia menepuk pantat Sekda, Sekda terpekik spontan

“ Au…Au…Au !”

Ketika Sungkur membalas menepuk pantat Halistia, sang sekretaris ini membalas menepuk seraya berkata: “Ko ciek lai ha, kama ka lari. Kama ka lari….!”. Mereka main kejar-kejaran di ruang kerja Sekda. Saat mereka asik bergelut itulah masuk Jonbarai seorang klening servis yang agak-agak preman sedikit.

“Ondeh….ondeh….main tepuk-tepukan. Idiih mesranya”, ujar Don Barai yang terpapar virus bege.

“Sssssst…Sssssst….” Pak Sekda memberi kode dengan menaruh tunjuk di tengah bibirnya.

“Saya akan diam dan menyimpan rahasia ini asalkan ada ininya”, Jon Barai menggesekkan telunjuk dan ampunya.

“Idon…aman itu. Ini bapak ambilkan !”Pak Sekda membuka lacinya dan menyerahkan uang kepada Don Barai.

Sejak saat itu, kalau sudah lama Pak Sekda tak memberi uang, cukup Don Barai berjalan di depan Pak Sekda, lalu berteriak: “Au….Au…Au!”.

Ya, kembali ke kisah mengapa semua pelayat wajib pakai baju abu-abu, karena menurut Pak Sekda, abu-abu itu lebih melambangkan rasa duka dan luka ketimbang warna hitam.

Padahal, alasan tepatnya sederhana, karena kemenakan Don Barai membuka took busana terbesar di tengah kota yang khusus menjual busana warna abu-abu.
***

Walikota berbisik kepada ajudan barunya. Nurmaih namanya. ”Maih, catat ya. Kau perhatikan siapa di antara pelayat ini yang air matanya paling banyak dan menangisnya paling mengiris, kau kasih tahu ke saya.

Begitu juga kau catat, siapa pejabat yang paling tidak pernah meneteskan air mata selama prosesi penguburan Canggu. Ingat itu ya……”, ujar Walikota kepada Imaih sang ajudan melambai.

“Haaaa siiiiiiiyapppppp”, jawab Imaih dengan suara lengis.

Ternyata, pejabat atau pelayat yang paling keras tangis dan paling banyak mengeluarkan air mata ketika Canggu dikubur adalah Robian Beleng.

Robian memang terkenal penangis sejak kecil.Yang paling tak pernah meneteskan air mata selama penguburan Canggu adalah Carcel. Ia Kepala Dinas Kompor Meledak yang mengurus hal ihwal yang berbau dengan bencana alam dan kebakaran.

“Pak Wali, bagaimana pula saya harus menangis. Sebagai seorang Kepala Dinas Kompor Meledak, bagi saya; kematian itu hal biasa. Saya sering melihat derita di mana-mana.

Sudahlah Pak Wali, inikan hanya soal kucing. Janganlah saya sampai dipecat pula gara-gara tak menangis ketika kucing Pak Walikota mati !”

“Apa kamu bilang?” suara Pak Walikota meninggi walau terdengar pelan di antara keramaian pelayat.

“Mati?Kamu bilang mati?”

“Iya Pak Wali. Kucing Pak Walikota bukan manusia. Ia binatang. Kata yang pantas untuk sebuah binatang yang tak bernafas adalah mati, bukan meninggal”.

Mendengar suara Carcel yang tinggi dan bernada melawan itu, ia langsung berlari ke ruang dalam rumah dinas itu.

“Mama….Mama….Mama…..Carcel jahat !”

Orang mengangguk-angguk kea rah Carcel. Tapi, anggukannya itu bukan anggukan mendukung Carcel, melainkan memonis Carcel dan menyudutkan Carcel dengan bahasa tubuh.

“Huh….tak punya adat !”

“Huh….orang tak berhati !”

“Huh….manusia munafik….!”

“huh manusia tukang fitnah…!”

Begitu sumpah orang kepada Carcel. Tapi ada sumpah sembarang sebut: “ Huh manusia hoaks!”. Ha, apa pula hubungan tak menangis dengtan “manusia hoaks”.

Lekas-lekas Pak walikota menjinjing tangan mamanya menuju kea rah Carcel. Carcel tidak takut. Ia sudah sampai pada kesimpulan. Ia siap dipecat. Bahkan siap mengangkat kaki dari kota Negeri sarang Pelawak.

“Kamu tadi yang menyebut kucing saya mati. Canggu itu bukan mati, ia meninggal. Kamu memang laki-laki yang tak punya hati. Tak pantas kamu menjadi pejabat. Mulai sekarang kamu saya pecat…”

“Iya, ma..kita pecat dia Ma !”sela Pak Walikota menguatkan kebijakan mama pada Carcel.

“Mengapa sampai hati kamu pada kucing saya itu?”

“Maksud ibu, sampai hati bagaimana?”

“Ah, kamu jangan banyak bacot !Apa kamu tidak takut dan tidak menyesal dipecat, ha?”
Carcel tersenyum. Puih. Ia meludah.

“Saya takut kehilangan jabatan? Tidak. Yang saya takutkan adalah ketika negeri ini terbeli kucing dalam karung!”

Wuish. Pejabat atau pelayat yang tadi memojokkan Carcel, kini balik mendukung Carcel. Seseorang yang sudah lama gusar dengan negeri bege ini berteriak: “ Takbir….!”

“Allahu Akbar…..!”

“Takbir….!”

“Allahu akbar !”

Warga memang sudah geram. Sangat geram. Lebih geram lagi ketika data menyebutkan, warga Negeri sarang Pelawak sudah banyak menjadi gay dan homo. Melihat gejolak dan pekikan heroik massa, walikota dan mamanya langsung lari menuju mobil.

Dengan cepat, mobil itu menyibak kerumunan massa. Sejak saat itu tidak pernah diketahui, kemana Walikota Ikaltum dan mamanya melarikan diri. Kata orang, mobil yang mereka tumpangi itu masuk laut !

( Padang,Jumat 5 November 2021/Revdi) Editor : Novitri Selvia
#Negeri sarang Pelawak #kucing walikota