Persoalan ini mendapat perhatian serius dari Dinas Pertanian (Disperta) Kota Padang. Hal ini karena Disperta Padang mempunyai hak pakai pada beberapa blok dari kawasan konservasi tersebut.
Kepala Disperta Padang, Syahrial Kamat mengatakan, pihaknya telah bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar untuk menangani permasalahan ini.
“Untuk permasalahan ini, kita bekerja sama dengan BKSDA. Karena memang yang berkompeten untuk pengelolaan kawasan dan pelestarian hewan-hewan liar biasa maupun yang dilindungi adalah BKSDA,” ujarnya, Senin (15/11).
Ia mengaku telah memberikan imbauan kepada para penyewa bangunan di lokasi Tahura Bung Hatta yang berada dalam naungan Disperta Padang, untuk lebih berhati-hati demi upaya menjaga keselamatan diri.
“Ada beberapa lahan yang kita kelola sebagai lahan wisata untuk meningkatkan PAD Padang. Saat ini, beberapa gedung di lahan tersebut ada penyewanya. Untuk itu kita tetap menjaga keselamatan para penyewa. Kita menyarankan untuk tidak keluar lewat dari pukul 20.00. Kalau untuk bepergian jangan sendiri-sendiri, harus berombongan,” jelasnya.
Terpisah, Kepala BKSDA Sumbar, Ardi Andono mengatakan, peristiwa masuknya harimau ke Tahura Bung Hatta merupakan hal yang biasa. Karena kawasan tersebut masih bagian dari habitat dari inyiak balang.
“Itu fenomena biasa, dimana Tahura itu adalah habitat harimau. Habitat harimau ini memanjang dari Taman Nasional Kerinci Seblat hingga Suaka Marga Satwa Barisan,” ujarnya.
Ia mengatakan, peristiwa ini tidak hanya terjadi di Kota Padang saja. Namun juga di beberapa kabupaten lainnya di Sumatera Barat.
“Kebetulan saat ini sedang banyak induk harimau yang sedang mengasuh anak dan juga berburu. Fenomena ini terjadi di Kabupaten Solok Selatan, Solok, dan Kabupaten Limapuluh Kota. Ini berita baik, bahwa inyak balang posisinya ada pertumbuhan saat ini,” jelasnya.
Saat ini yang perlu dilakukan adalah pemberian pemahaman pada petugas di Tahura Bung Hatta supaya dapat lebih siaga dalam bertugas.
“Dari BKSDA sendiri kita telah melakukan adaptasi baru dengan menyiapkan meriam karbit setiap sore, malam dan pagi. Tujuannya untuk menciptakan bunyi-bunyian agar harimau tidak mendekat ke kawasan Tahura Bung Hatta,” jelas Ardi Andono.
Sementara pengamat satwa harimau, Wilson Novarina mewajarkan fenomena masuknya harimau ke kawasan Tahura Bung Hatta tersebut. Ini dikarenakan daya jelajah yang dimiliki harimau cukup luas.
“Harimau Sumatera secara alami memiliki daerah jelajah yang cukup luas. Mereka bisa saja berpindah dari satu blok hutan ke daerah berhutan lainnya. Pada saat perpindahan ini, bisa saja mereka melintasi perladangan, perkebunan hutan pinggiran sungai perbukitan,” imbuhnya.
Pada saat melakukan perpindahan, sering terjadi perjumpaan antara harimau dengan manusia. Disaat yang bersamaan, terkadang harimau menemukan mangsa di lokasi-lokasi baru tersebut.
“Di waktu tertentu ada individu harimau yang tengah mengajar anaknya berburu, atau individu harimau yang cedera karena jerat. Kemudian sesampainya pada bagian pinggir hutan, bisa saja mereka akan memangsa ternak atau hewan peliharaan masyarakat,” ujar Wilson Novarina.
Sebelumnya diketahui harimau memasuki kawasan Tahura Bung Hatta pada 12 November lalu. Saat itu sang inyiak balang memangsa seekor anjing milik salah seorang petugas jaga di lokasi tersebut. (cr3) Editor : Novitri Selvia