Parahnya, India selaku negara tujuan ekspor utama menjadi penentu harga gambir. Buntutnya harga gambir berfluktuatif dan saat ini berada pada titik nadir Rp 20 ribu per kilogram, sedangkan harga ideal Rp 50 ribu per kilogram.
Hal ini terungkap saat Bimbingan Teknis (Bimtek) Diversifikasi Pengolahan Produk Gambir yang difasilitasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag Sumbar), baru-baru ini.
Bimtek ini melibatkan Prodi Teknologi Industri Pertanian Unand selaku instruktur penyampaian materi maupun praktik pengolahan gambir menjadi berbagai produk.
Kegiatan yang diikuti utusan BUMNag, Asosiasi Petani Gambir, eksportir gambir, pembatik, guru SMK, petani pengolah gambir dan industri rumah tangga asal Pesisir Selatan, Limapuluh Kota dan Agam ini, juga mengungkap bahwa posisi tawar petani gambir menurun akibat kondisi yang berkepanjangan tersebut.
“Sebenarnya gambir dapat ditingkatkan jumlah penggunaannya di dalam negeri atau diolah menjadi produk hilir sebelum diekspor. Produk gambir yang masih berpeluang untuk pasar dalam negeri antara lain berupa, tepung gambir untuk bahan penyamak kulit dan tepung gambir untuk zat warna pada pembatikan. Selain juga diolah untuk menghasilkan katekin dan tanin untuk pasar dalam dan luar negeri,” ujar Prof Anwar Kasim selaku instruktur didampingi anggotanya Dr Sri Mutiar dan melibatkan beberapa mahasiswa.
Bimtek yang digelar untuk dua angkatan dengan masing-masing angkatan diikuti 20 orang itu, 50 persennya berupa materi dan 50 persen lainnya praktik. Agar lebih terkoordinir dan fokus, maka kegiatan diskusi dan praktik dilaksanakan di Padang mulai pagi hingga sore.
Menurut Anwar Kasim, terdapat tujuh kegiatan dalam bimtek diversifikasi produk pengolahan gambir ini masing-masing, pembuatan teh daun gambir, pegolahan gambir asalan menjadi tepung gambir untuk penyamak kulit dan penyamakan kulit kambing menggunakan tepung gambir.
Lalu, ekstraksi tanin dan katekin dari tepung gambir. Peserta juga mempraktikkan pewarnaan menggunakan gambir dan pembuatan perekat papan partikel dari gambir.
“Khusus penyamakan kulit, untuk Sumbar masih relatif baru. Tidak seperti di beberapa daerah di Jawa. Industri kulit sudah berkembang maju di Yogyakarta, Garut, Bandung dan Surabaya. Bahan untuk penyamakan kulit ada buatan dan ada pula bahan alam,” katanya.
Gambir termasuk ke dalam bahan penyamak kulit yang dulu banyak digunakan dalam negeri dan negara lain. Kepada peserta bimtek diperkenalkan cara pengolahan gambir asalan menjadi tepung, persyaratan mutu dan cara pengemasan tepung gambir untuk keperluan penyamakan kulit.
Penyamakan kulit kambing juga menjadi topik praktik bagi peserta bimtek. Pada kegiatan itu diperkenalkan mulai dari bahan baku sampai diperoleh kulit tersamak. Peserta antusias sekali, karena ternyata penyamakan kulit tidak sulit betul dan harga produk jadinya dapat mencapai ratusan juta.
Kegiatan ini juga diikuti Kasi Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Disperindag Sumbar beserta tim yang diketuai Ikhlas Perdana. Sedangkan Prodi TIP membentuk tim diketuai Dr Alfi Asben dan Sekretaris Deivy Andika Permata MSi.
Pembukaan acara turut dihadiri Kadisperindag Sumbar Asben Hendri dan penutupan Sekretaris Disperindag, Yuldhy Dharma Putra. (rdo) Editor : Novitri Selvia