“Ambo pernah basobok sarang galo-galo taka iko kalau pai ka hutan” (saya pernah bertemu dengan sarang galo-galo seperti ini kalau pergi ke hutan)," ujar Abdurahman, ketua HKm Padang Janiah, salah seorang peserta pelatihan galo-galo yang diadakan Minggu (21/11) di Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Padang.
Hari itu merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan survei lokasi dan penempatan demplot galo-galo yang telah dilakukan dua minggu sebelumnya.
Hal senada disampaikan peserta lainnya, Husni. Dia melaporkan keberadaan sarang galo-galo di belakang rumahnya namun kemudian dibuang karena ketidaktahuan bahwa sarang galo-galo mengandung madu yang sangat berkhasiat dan mahal harganya.
Antusiasme dari peserta pelatihan bertambah ketika masing-masing mencobakan madu yang langsung dipanen dari sarangnya. “Rasanya agak masam, tapi menyegarkan” kata Indah anggota Hkm lainnya.
Anwar, Ketua RW III Batu Busuk sangat mengapresiasi kegiatan itu. Dia berkeinginan agar pengunjung yang berwisata ke Batu Busuk dapat mencicipi madu galo-galo sebagaimana madu kelulut yang dicicip Upin dan Ipin dalam serial TV terkenal dari negara jiran.
Hari itu juga berhasil dipanen sekitar 250 ml madu dari salah satu sarang Heterotrigona itama yang baru ditempatkan dua minggu yang lalu (6/11). Ini mengindikasikan, demplot yang diadakan berhasil karena mampu menghasilkan produktivitas madu yang tinggi bagi koloni yang baru dipindahkan.
“Batu Busuk sesuai untuk pengembangan galo-galo, namun masih dibutuhkan tanaman hias bunga di sekeliling sarang galo-galo jika jumlah sarang atau koloninya bertambah dari jumlah yang ada sekarang,” ujar Rusdimansyah SPt MSi yang menjadi narasumber.
Andi, panggilan peneliti dan penggiat peternakan galo-galo di bawah komunitas Inspirator Lebah Madu Indonesia (ILMI) wilayah Sumbar dan Rumah Galo-galo Ranah Minang ini mengajarkan ilmu dan teknik dalam memindahkan sarang koloni dari habitat alami, merakit sarang buatan untuk bisa memanen madu, mengidentifikasi masing-masing komponen koloni mulai dari (queen), ratusan jantan (drone) sebagai pemantau, dan ribuan pekerja yang bertugas mengumpulkan pollen.
Masyarakat sekitar Unand seperti Sungkai dan Limau Manis bisa bergabung dalam grup Edukasi Galo-galo Salingka Kampus. Komunitas grup seperti ini memudahkan ketika masyarakat ingin segera mengetahui jenis galo-galo yang ditemukan di habitat alami ataupun hal-hal berkaitan dengan teknik budidaya dan pemanenan galo-galo.
Sarang yang diambil dari hutan ternyata memerlukan adaptasi di lingkungan barunya, sehingga koloni galo-galo perlu dipertahankan berada di dalam batang pohon yang diambil saat dipindahkan ke lokasi baru.
Batang pohon ditempatkan pada tonggak kayu yang dibuat sebagai penyangga sebagaimana habitat aslinya, yaitu sarang galo-galo berada di bagian tengah pohon. Modifikasi sarang dibuat dengan menambahkan kotak kayu pada bagian atas potongan batang pohon yang berisi koloni galo-galo.
Kotak kayu buatan terlebih dahulu disterilkan dengan cara dibakar sesaat dan dibuat lubang pada bagian bawahnya dengan diameter ±2 cm untuk menghubungkan antara sarang di dalam potongan kayu dengan kotak kayu sebagai sarang yang baru.
Potongan batang pohon berisi koloni galo-galo dipotong bertahap bagian atasnya, hingga terlihat keberadaan telur pada sarang. Madu galo-galo akan matang dalam rentang waktu 6 minggu dan dapat dipanen menggunakan alat sederhana seperti siringe ataupun alat yang dirancang dengan prinsip vaccum.
Kegiatan pelatihan ini merupakan lanjutan dari kegiatan pengembangan Perhutanan Sosial dengan tema peternakan galo-galo yang digagas September 2021. Kegiatan ini bagian dari kegiatan berkelanjutan LPPM Unand di Batu Busuk dalam rangka mendukung pengembangan wisata yang sudah dimulai dari 2018.
Tahun ini kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan merupakan bagian dari upaya LPPM Unand dalam mentransfer iptek kepada masyarakat di sekitar lingkungan Unand dalam skim Membantu Usaha Berkembang yang dikoordinatori oleh Dr. PK Dewi Hayati. (*)
Editor : Hendra Efison