Pantauan Padang Ekspres di di Pasar Raya di Padang, kemarin (26/01), harga beras solok mencapai Rp 26 ribu per kilogram dari Rp 25 ribu, beras bukittinggi Rp 27 ribu per kilogram dari Rp 26 ribu, beras IR 42 Rp 22 ribu per kilogram dari Rp 20 ribu.
Salah seorang pedagang beras di Pasar Raya Padang, David, 26, menyebutkan, saat ini untuk tiap jenis beras yang ada di lapaknya mengalami kenaikan harga seribu rupiah. Hal ini sudah berlangsung dari bulan Desember lalu.
“Rata-rata semuanya naik seribu dari dua minggu yang lalu, dan itu sebelumnya juga masih belum stabil. Namun harga beras ini memang terus merangkak naik dari awal tahun ini,” ungkapnya.
Penyebab melonjaknya harga beras dipicu sejak cuaca buruk yang melanda dari akhir tahun 2022. Hujan lebat membuat banyak produsen tidak mampu untuk mengirim hasil panen, sehingga perubahan harga terjadi.
“Jumlah pasokan beras saat ini memang masih kurang, stok yang masuk belum mengimbangi permintaan masyarakat pada saat ini, ini memang karena masih belum masuk waktunya panen dan panen untuk 3 bulan lalu kan terhalang cuaca,” jelasnya.
Dia menjelaskan, saat ini kenaikan harga beras mempersulit pembeli, sudah banyak yang mengira kalau awal tahun akan membawa sedikit perubahan harga, namun beras yang dicari bertambah naik, sehingga banyak yang mengubah cara beli mereka.
“Beras kan salah satu bahan yang sangat dibutuhkan, walaupun mahal tetap banyak yang tetap membeli, cuman banyak masyarakat yang mengurangi jumlah beras yang mereka beli. Misalnya ada yang beli per minggu 10 kilo sekarang mereka hanya beli perhari sebanyak 1 kilo, atau ada juga yang berganti jenis beras,” katanya.
Dia juga menjelaskan, perubahan cara beli masyarakat juga membawa penurunan penjualan pada dagangannya, karena masyarakat mengurangi pengeluaran mereka dalam membeli beras sehingga pemasukan tidak sama seperti sebelumnya.
Pedagang lainnya, Putra, 26 mengatakan, harga beras yang dijual sekarang itu memang bertambah tinggi, harga beras terus merangkak naik semenjak awal tahun.
“Dalam 2 minggu ini harga beras masih belum stabil dan mungkin nantinya bisa lebih mahal lagi, yang menjadi penyebab memang stok barang itu tidak cukup, hasil panen masih banyak yang gagal jadi menurunkan harga belum bisa menjadi opsi,” ungkapnya.
Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa petani banyak yang mengalami kerugian di saat panen. Cuaca buruk yang terjadi pada akhir tahun 2022 lalu membuat banyak padi kehilangan kualitas, karena pada saat diolah menjadi beras, warna beras didapat bewarna kekuningan.
“Karena penjemuran tidak berjalan dengan baik, masih banyak petani yang masih menggunakan cara tradisional dalam menjemur padi dan mengolah padi. Kalau cuaca seperti saat ini, metode tersebut menjadi kelemahan, karena banyak padi yang tidak terjemur dengan baik dan menghasilkan beras tidak berkualitas, sehingga petani terpaksa membuang barang dan rugi,” sambungnya.
“Perkiraan untuk harga beras mungkin bisa berubah nantinya tetapi menjadi lebih mahal. Sekarang itu masih banyak pengolahan padi yang tidak bisa menjaga kualitas beras, jadi petani itu tidak banyak mengirimkan barang saat ini. Jika terus seperti ini kedepannya harga beras bisa meningkat lebih tinggi lagi,” tambahnya. (mg1) Editor : Novitri Selvia