Hal ini disampaikan Rektor UNP Prof Ganefri saat launching UTBK-SNBT tahun 2023 di UNP, Senin (8/5). Untuk kenyamanan peserta ujian, UNP menggunakan 63 labor dengan kapasitas komputer per labor antara 20unit hingga 30 unit.
“Pada setiap labor tersebut juga tersedia dua unit komputer cadangan serta 1 unit komputer pengawas. Total jumlah komputer yang digunakan untuk setiap sesi adalah sebanyak 1.500 unit yang terbagi kepada 3 server. Dan dalam ujian UTBK - SNBT kali ini perhari dilaksanakan sebanyak dua sesi,” katanya didampingi ketua pelaksana UTBK-SNBT yang juga Wakil Rektor I UNP Refnaldi.
Jumlah lokasi ujian di UNP adalah sebanyak 9 lokasi, dengan jumlah pendaftar peserta UTBK - SNBT sebanyak 21.221 orang. Peserta yang mendaftar di UNP adalah yang terbanyak di Sumbar dibandingkan dengan penyelenggara UTBK-SNBT lainnya di wilayah Sumbar.
Peserta yang mendaftar tersebut berasal dari dalam maupun luar Provinsi Sumbar. “Untuk melayani peserta, UNP menugaskan sebanyak 1.023 orang pengawas ujian,” katanya.
Tahun ini, UTBK-SNBT di bawah penyenggaraan BPPP (Balai Pengelolaan Pengujian Pendidikan). Peserta UTBK di UNP mendapat layanan transportasi antar ke lokasi ujian khususnya bagi peserta yang berpotensi terlambat dan tidak dan atau lupa lokasi ujian.
“Sejumlah kendaraan telah disiagakan yaitu buggy car, mobil pick-up, dan sepeda motor yang diberi label panitia UTBK. Pengoperasian kendaraan tersebut telah berlangsung sejak hari pelaksanaan ujian,” katanya.
Sedangkan untuk mengantisipasi kecurangan, UNP memastikan seluruh komputer yang digunakan dalam UTBK bebas dari aplikasi. Menurut Ganefri, usaha perjokian dalam UTBK selalu ada peluangnya. Apalagi sekarang sudah ada aplikasi kecerdasan buatan yang bisa digunakan untuk membantu calon mahasiswa dalam ujian.
Ganefri meminta calon mahasiswa agar tidak terlibat perjokian karena jika ketahuan bisa dinyatakan gagal dalam ujian. Sementara Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) UTBK Kemendikbud dan Ristek Urip Purwono menyampaikan pihaknya mewaspadai calon mahasiswa terlibat dalam perjokian, termasuk penggunaan aplikasi kecerdasan buatan.
Untuk itu, disiapkan seluruh komputer agar bersih dari aplikasi itu. “Pengawas intens mengawasi sehingga tidak ada celah untuk berbuat curang. Bagi calon mahasiswa yang terbukti terlibat dalam perjokian akan digagalkan,” katanya. (eko) Editor : Novitri Selvia