Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kota Tua Padang, Sejarah yang tak Bisa Dilupakan

Adetio Purtama • Selasa, 5 Maret 2024 | 10:11 WIB

Pengunjung melihat-lihat Kelenteng tertua di Kota Padang yang bernama See Hin Kiong. (WILLIAN/PADEK)
Pengunjung melihat-lihat Kelenteng tertua di Kota Padang yang bernama See Hin Kiong. (WILLIAN/PADEK)
Sebagi Ibukota Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Kota Padang memiliki berbagai destinasi wisata yang wajib untuk dikunjungi. Salah satunya adalah kawasan Kota Tua yang tidak jauh dari objek wisata Pantai Padang.

Kawasan Kota Tua merupakan potret kemajemukan kehidupan sosial masyarakat Kota Padang yang dihuni berbagai etnis yaitu Minang, Melayu, Tionghoa,Tamil hingga Nias.

Tidak hanya menjadi simbol kemajemukan kehidupan sosial masyarakat, Kawasan Kota Tua juga menyuguhkan berbagai siluet gedung-gedung peninggalan Belanda yang berjejer di pinggir sungai Batang Arau.

Pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gunung Padang, Bilu Pricilia mengungkapkan nilai-nilai sejarah sangat kental di kawasan Kota Tua. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan kelenteng tertua di Kota Padang yang bernama See Hin Kiong.

Dijelaskan, tempat ibadah ini dibangun pada tahun 1841 silam. Di tahun 1861 sempat hangus saat kebakaran melanda. Kemudian dibangun kembali di tahun 1893 yang diresmikan pada tahun 1897.

Kemudian tahun 2009 rusak berat akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Sumbar dengan magnitudo 7,6 SR. Setelah gempa dibangun kembali tahun 2010 di lokasi sekarang, kurang lebih berjarak 100 meter dari lokasi semula yang kemudian diresmikan pada 30 Maret 2013 lalu.

Bilu Pricilia menyebut Kelenteng See Hin Kiong berdiri pada tahun 1841. Kelenteng ini didirikan oleh bangsa Hok Hwa yang berasal dari Tiongkok. Awal mulanya kelenteng ini bernama Kwan Im Teng yang dibangun oleh para pedagang.

Kawasan Kota Tua yang terletak di tepian sungai Batang Arau Kota Padang juga menjadi pusat ekonomi masa lalu pada era kolonial. Hal itu dibuktikan dengan adanya bangunan Bank Gedung Padangsche Spaarbank hingga Gedung GEO Wehry dan CO.

Gedung kantor sekaligus gudang dari firma atau perusahaan ekspor-impor terbesar di Hindia-Belanda (Indonesia) pada masa kolonial itu yang didirikan pada 1911 dan diresmikan pada 1920.

Adyatama Parekraf Ahli Muda Dinas Pariwisata Kota Padang, Tri Pria Anugrah mengatakan, pada tahun 2023 ini, kawasan Kota Tua di telah dibuatkan master plan-nya. Pelaksanaanya di Dinas Pariwisata Provinsi Sumbar.

Turunan dari master plan ini, saat ini telah dibentuk Badan Pengelola (BP) yang diketuai Sekda Kota Padang, Andree Algamar. BP Kawasan Kota Tua ini melibatkan OPD terkait baik teknis dan sosial dan pariwisata. Termasuk juga melibatkan akademisi dan praktisi.

Dengan terbentuknya BP Kawasan Kota Tua ini, maka ke depan bakal banyak percepatan pembangunan dan pengembangan kawasan ini. Menurutnya, pembangunan yang sudah dilaksanakan misalnya, jalan di Kawasan Kota Tua sudah dipasang lampu jalan.

Selain itu, juga akan dibangun infratsruktur pendukung. Di mana tahun ini melalui Dinas PUPR Kota Padang, juga telah membuat DED perbaikan jalan di sepanjang pinggir Batang Arau. “Ke depan kita sudah ada Detail Enginering Desain (DED) pengembangan Kawasan Kota Tua,” terangnya.

Kendala yang dihadapi dalam melakukan revitalisasi bangunan heritage di kawasan Kota Tua ini selama ini, banyak bangunannya milik pribadi dan BUMN seperti Perusahaan Dagang Indonesia. Juga ada milik komunitas dan kelompok. Sementara Pemko Padang tidak punya lahan aset di Kawasan Kota Tua.

“Ke depan kita menjalin kerja sama atau MoU dengan pihak terkait pemilik bangunan untuk dapat dilakukan pemanfaatan bangunan. Untuk memaksimalkan pengembangannya, kita juga libatkan komunitas,” terangnya.

Tri Pria Anugrah berharap ke depan terus terjadi tingkat kunjungan di Kota Tua. Karena promosi terus dilakukan pihaknya dan berharap Kota Tua terus menjadi city tour.

“Kita tahu Kota Tua dulunya terkenal juga sebagai Kota Dagang karena di sinilah pusat perdagangan. Ini adalah sejarah yang tak bisa dilupakan,” pungkasnya. (cr1)

Editor : Adetio Purtama