Pembangunannya sendiri berlangsung selama 360 hari kalender dan dipercayakan kepada PT Adhi Persada Gedung dengan Konsultan Pengawas PT Deta Decon. Sedangkan perencanaannya PT Buana Rekayasa Adhiguna CS dengan sumber dana dari APBN 2023/2024.
Terwujudnya pembangunan Pasar Raya Fase 7 berkat kerja sama Kementerian Perdagangan RI dan Kementerian PUPR atas permintaan masyarakat, karena banyaknya pedagang yang belum tertampung untuk berjualan.
Kepala BPPW Sumbar Maria Donia Isa mengatakan, pelaksanaan pekerjaan sudah hampir selesai. Diperkirakan rampung dan bisa dioperasikan pada 2024 ini.
Ia menambahkan, terlaksananya pekerjaan ini tidak terlepas dari dukungan semua pihak terutama sekali masyarakat sekitar dan pedagang. Ini memang pekerjaan yang tidak ringan, tapi kalau semua pihak membantu, maka selesai sesuai dengan perencanaan.
Sementara itu, Ketua Komunitas Pedagang Pasar Raya Padang Asril Manan mengharapkan Pasar Raya Fase 7 tak hanya jadi pusat perdagangan, tapi juga jadi tempat wisata, sehingga orang yang datang ke pasar bisa nyaman dan aman.
Ia berharap, nantinya ada ketegasan dari Pemko Padang untuk menegakkan aturan. Selain itu, ia berpesan agar pedagang yang nantinya ditempatkan di Fase 7 diatur sedemikian rupa sehingga tidak terjadi perselisihan atau masalah.
Salah seorang pedagang di kawasan Fase 7 Udin sangat berharap pembangunan Pasar Raya Fase 7 cepat selesai dan aktivitas jual beli bisa berjalan normal kembali.
Pedagang lainnya Maman menuturkan, Pasar Raya Padang sudah ada sejak zaman Belanda. Sebelum Kantor Balai Kota Padang pindah ke Aiepacah dan Terminal Lintas Andalas masih beroperasi, masyarakat Sumbar banyak mencari dan membeli kebutuhannya ke Pasar Raya Padang Fase 7. (***)
Editor : Adetio Purtama