Pj Wali Kota Padang Andree Algamar mengatakan isu megathrust itu bukan isu baru, dan sudah menjadi pembahasan sejak gempa besar di Padang tahun 2009 lalu.
”Megathrust ini kan bukan isu baru, sudah sejak 2009. Sekarang menghangat kembali, namun masyarakat menyikapinya tidak boleh keliru. Tidak boleh panik, tapi harus waspada,” ujar Andree.
Andree juga mengimbau warga Kota Padang untuk terlatih menjadi warga yang siap siaga untuk menghadapi bencana.
“Kesiapsiagaan kota kita mulai dari keluarga. Jadi kita mengimbau setiap keluarga di Kota Padang untuk menjadikan kesiapsiagaan menghadapi bencana bahan diskusi di rumah. Jadi setiap keluarga nanti memiliki SOP-nya sendiri, kalau terjadi bencana. Tapi sekali lagi, bukan untuk membuat panik,” tegas Andree.
“Kita (Pemko Padang) sebenarnya telah melakukan berbagai mitigasi bencana termasuk menyiapkan masyarakat yang cerdas bencana,” sambungnya.
Dengan kesiapsiagaan bersama dan warga yang cerdas bencana, semoga meminimalisir dampak dari bencana tersebut.
Mengantisipasi potensi bencana gempa dan tsunami yang diakibatkan megathrust Mentawai, Pemerintah Kota Padang rutin menggelar mitigasi bencana setiap tahun.
“Kita rutin melakukan mitigasi setiap tahunnya. Seperti melakukan edukasi dan simulasi kepada masyarakat, membuat kelurahan tangguh bencana, serta sekolah cerdas bencana dengan program satuan pendidikan aman bencana,” sebutnya.
Selain itu juga memaksimalkan peran kelompok siaga bencana (KSB) di seluruh kelurahan, Kogami, Tagana dan penggiat kebencanaan lainnya.
Termasuk membuat rambu-rambu jalur evakuasi (safe zone) di 25 titik lokasi, sekaligus pemasangan sirine peringatan tsunami dan penyediaan shelter di kawasan zona merah.
“Kita berdoa kepada Allah SWT supaya Kota Padang dan Indonesia dijauhkan dari bencana. Tapi kalau terjadi bencana, Pemko Padang bersama warganya tidak boleh panik, karena sudah ada langkah-langkah menghadapi bencana. Dan akan kami tingkatkan lagi sosialisasinya ke depan,” tutup Andree. (eri)
Editor : Adetio Purtama