Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

BI se-Sumatera dan Jawa Belajar Kiat Sukses Rendang Katuju

Suryani • Senin, 16 September 2024 | 20:08 WIB

Rombongan pegawai Bank Indonesia se-Sumatera dan Jawa yang membidangi UMKM foto bersama saat mengunjungi rumah produksi Rendang Katuju di Lolongkaran, Kelurahan Sungaisapih Kecamatan Kuranji.
Rombongan pegawai Bank Indonesia se-Sumatera dan Jawa yang membidangi UMKM foto bersama saat mengunjungi rumah produksi Rendang Katuju di Lolongkaran, Kelurahan Sungaisapih Kecamatan Kuranji.
PADEK.JAWAPOS.COM—Rendang Katuju, salah satu UMKM orientasi eskpor binaan Bank Indonesia Sumbar. Produk aneka rendang  basah tersebut, selain mengisi pasar Nusantara juga sudah merambah mancanegara. Salah satunya Arab Saudi dan konsumsi jamaah umrah di Tanah Suci Mekkah.

Untuk sharing kiat-kiat produk Rendang Katuju mencapai sukses, rombongan pegawai Bank Indonesia se-Sumatera dan Jawa yang membidangi UMKM mengunjungi rumah produksi Rendang Katuju di Lolongkaran, Kelurahan Sungaisapih Kecamatan Kuranji, Padang, Jumat (13/9).

Edi Rahmanto Hidayat, Analis Eksekutif di Departemen Regional Bank Indonesia Pusat yang bertindak sebagai pimpinan rombongan mengatakan, tujuan kunjungan tersebut untuk berbagi kiat sukses story UMKM orientasi ekspor di sejumlah daerah dengan daerah lainnya.

Ia mengaku terkesan dengan UMKM Rendang Katuju yang sudah mendapatkan beragam sertifikasi untuk eskpor, baik sertifikasi halal dan lainnya. “Setelah saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri proses yang dilalui dalam memproduksi rendang ini sangat baik dan sesuai dengan standar yang dibutuhkan ekspor. Setelah saya cicipi produk ini cukup bersaing di pasar lokal maupun mancanegara,” ujarnya.

Ia melihat masih banyak peluang yang bisa dimanfaatklan oleh Rendang Katuju dan  produsen rendang yang ada di Sumbar karena potensi pasar masih luas di luar negeri selain pasar lokal.

“Tapi memang perlu kekompakan dan strategi untuk ke beberapa pasar seperti Eropa. Untuk pasar Asia dan Timur Tengah mungkin lebih mudah tapi untuk pasar lebih luas seperti ke Eropa dan Australia pelu strategi dan memenuhi persyaratan yang diberikan oleh negara-negara tersebut. Karena persyaratannya lebih ketat, maka kita mesti punya strategi untuk memenuhi persyaratan tersebut” ujarnya.

Edi Rahmanto Hidayat juga mengatakan, BI sendiri juga  berperan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. “Kami juga ikut membantu pemerintah mendorong pengembangan UMKM,” ujarnya.

Ia menyebutkan, BI fokus kepada UMKM pengendali inflasi, UMKM komoditas unggulan  seperti rendang, kopi dan berbagai produk yang bisa diekspor. “Banyak hal yang bisa kami lakukan, selain pendampingan, juga pembinaan dan mempromosikan UMKM tersebut baik di pasar domestik maupun pasar global,” ujarnya.

Sementara itu, Manajer Produksi Rendang Katuju Andres Hidayat mengatakan, produk Rendang Katuju selain mengisi pasar lokal, Jabodetabek, Sulawesi juga pasar global seperti untuk jamaah haji umrah bekerja sama dengan travel haji dan umrah. Untuk pasar Arab Saudi saat ini masih dalam penjajakan.  “Selain itu juga dipasarkan secara offline melalui Shopee dan Tokopedia,” ujarnya.

Andres Hidayat  mengatakan, rata-rata produksi per hari 50-150 kg rendang atau 700 kg sampai 1 ton per bulan dengan omzet sekitar Rp 200 juta per bulan. Selain rendang daging sapi juga ada beragam olahan rendang seperti rendang ayam, tuna, lokan, jamur, jengkol dan lainnya.

Pihaknya juga memproduksi  rendang untuk konsumsi anak-anak (for kids) minus pedas, khusus rendang suir daging dan ayam.  Lebih dari 10 jenis rendang diproduksi sesuai permintaan pasar.

Untuk harga bervariasi sesuai berat dan ukuran,  rendang daging sapi berat 200 gram dibanderol Rp 80 ribu, rendang ayam  200 gram Rp 75.000.

Untuk menjaga kualitas dan standar, pihaknya mengambil bahan  baku seperti daging dari suplayer yang sudah tersertifikasi halal dan mengantongi izin. Begitu juga dengan  bahan lain dan bumbu- bumbu dipesan langsung dari petani,  bukan beli di pasar.

Dalam proses produksi Rendang Katuju mempekerjakan 10 orang karyawan tetap. “Bila banyak pesanan atau pesanan khusus partai besar maka dibantu tenaga harian lepas,” ujarnya.

Andres Hidayat juga mengatakan, Rendang Katuju yang berdiri tahun 2017 merupakan  binaan BI Sumbar sejak 2019.  Ia mengaku,  BI cukup  banyak membantu Rendang Katuju untuk mencapai seperti sekarang ini.

“BI memberikan pelatihan untuk ekspor, pemasaran, memberikan fasilitas e-katalog dan lainnya. Ini sangat membantu kami dalam mengembangkan pasar,” ujarnya. (eni)

Editor : Adetio Purtama
#bank indonesia (bi) #bank indonesia #Rendang Katuju