Salah seorang petani di Rimbotarok, Kuranji, Musthafa, 60, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai pertumbuhan padi yang terganggu akibat kekurangan air. “Pertumbuhan padi bisa terganggu jika terus menerus kekurangan asupan air,” katanya saat diwawancarai Padang Ekspres, Rabu (30/10).
Menurutnya, di Kota Padang, sawah terbagi menjadi dua jenis, yaitu sawah kering dan sawah basah. Menurut Musthafa, sawah dengan tekstur tanah keras tidak terlalu terpengaruh oleh cuaca panas.
“Semakin kering sawahnya, maka semakin bagus hasil panennya. Meskipun kondisi ini sangat bergantung pada jenis tanaman dan perawatan yang dilakukan,” ungkapnya.
Senada dengan Musthafa, petani lainnya di Kuranji, Yal, 65, menyebut bahwa tanaman padi sangat rentan terhadap kekurangan air. “Kami harus lebih waspada dan cepat dalam mengambil tindakan, mengingat kekeringan dapat menyebabkan kematian tanaman jika tidak segera diatasi,” jelasnya.
Untuk menghadapi tantangan ini, para petani mengandalkan beberapa perawatan. Salah satu langkah yang diambil adalah pemangkasan dan penyisihan rumput liar di sekitar sawah, serta pemupukan rutin untuk memastikan tanaman mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.
Para petani berharap agar cuaca segera membaik untuk menjaga hasil panen mereka. Mereka juga mengharapkan dukungan dari pemerintah dan pihak terkait dalam mengatasi dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Irigasi masih Aman
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice Yuliani mengatakan, lahan pertanian di Kota Padang relatif aman karena sejumlah langkah antisipatif yang telah diterapkan.
Yoice Yuliani menyampaikan, pihaknya terus memantau kondisi di berbagai kecamatan dan memberikan arahan kepada kelompok tani terkait langkah yang perlu diambil untuk menjaga produktivitas pertanian, khususnya padi.
Menurutnya, meskipun beberapa kecamatan mengalami kekeringan, irigasi di wilayah-wilayah tersebut masih cukup untuk mengairi lahan pertanian yang ada.
“Alhamdulillah, berdasarkan pemantauan di lapangan, saat ini kondisi irigasi di Kota Padang masih mencukupi, sehingga belum ada laporan signifikan mengenai sawah yang mengalami kekeringan. Petani pun diinstruksikan untuk menghemat air dengan metode irigasi yang cukup merata agar lahan tetap lembab tanpa harus digenangi penuh,” ujar Yoice.
Kondisi pertanian di beberapa kecamatan seperti Bungus Teluk Kabung, Lubukbegalung, Lubukkilangan, Pauh, Padang Selatan, dan Padang Timur menunjukkan keberagaman berdasarkan umur tanaman dan fase pengolahan tanah.
Untuk di Bungus Teluk Kabung, sebagian besar umur tanaman baru sekitar satu minggu. Namun, ada juga beberapa lahan yang telah siap panen. Ketersediaan air masih memadai, tetapi petani diminta tetap menghemat pemakaian air.
Di Lubukbegalung, tanaman padi berada dalam kisaran umur 70 hingga 85 hari. Dalam masa ini, tanaman membutuhkan air yang cukup untuk pertumbuhan optimal. Namun, kondisi air masih lancar, dan irigasi dipastikan aman.
Sementara di Lubukkilangan, sedang masa tanam dengan umur tanaman antara 40 hingga 60 hari. Air irigasi masih cukup lancar, dan para petani juga diinstruksikan untuk memanfaatkan air secara efisien.
Kemudian, di Kecamatan Pauh memiliki umur antara 1 hingga 2 minggu dan masih dalam fase awal pengolahan tanah. Ketersediaan air di wilayah ini juga terpantau cukup untuk kebutuhan irigasi.
Selanjutnya Padang Selatan. Di sana sawah baru akan memasuki tahap penanaman. Meskipun air masih tersedia, kelompok tani tetap diimbau untuk menjaga ketersediaannya.
Serta Padang Timur tanaman padi umur 85 hingga 95 hari. Mengingat pentingnya irigasi pada fase ini, kelompok tani diminta untuk menghemat pemakaian air.
Kondisi yang terpantau di Kecamatan Kototangah, Kuranji, dan Nanggalo pun tidak jauh berbeda. Lahan pertanian di Kototangah sebagian besar sudah mencapai masa panen, sementara sebagian lainnya dalam masa tanam baru.
Lebih lanjut Yoice Yuliani menyampaikan, Dinas Pertanian Kota Padang telah mengeluarkan beberapa arahan dan imbauan kepada kelompok tani di seluruh kecamatan untuk meminimalkan dampak dari kemarau, termasuk melalui penghematan air dan penggunaan pupuk organik.
“Kami telah menginstruksikan kepada para petani untuk menggunakan metode irigasi, yaitu pemberian air yang hanya cukup membasahi permukaan lahan sawah tanpa harus digenangi. Dengan cara ini, kita bisa menghemat penggunaan air sehingga lahan tetap terjaga kelembapannya meskipun tidak ada genangan,” jelas Yoice.
Selain itu, Dinas Pertanian juga mendorong penggunaan pupuk organik untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk urea yang berlebihan.
Pupuk organik dinilai lebih ramah lingkungan dan mampu menjaga struktur tanah tetap gembur sehingga tanah tidak menjadi keras akibat pemakaian pupuk kimia secara terus-menerus.
“Kami menganjurkan agar para petani mulai memanfaatkan pupuk organik sebagai alternatif untuk menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang. Dengan demikian, mereka tidak hanya mengandalkan pupuk urea, tetapi juga memiliki opsi yang lebih berkelanjutan untuk kesuburan lahan,” tambahnya.
Selain penggunaan pupuk organik, Yoice juga mengingatkan para petani untuk tidak membakar jerami setelah panen. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas tanah dan mengembalikan unsur hara penting yang diperlukan oleh tanah.
Meskipun kemarau masih berlangsung, Yoice Yuliani optimistis bahwa sektor pertanian di Kota Padang mampu bertahan berkat ketersediaan air irigasi yang cukup dan penerapan strategi penghematan air.
Dinas Pertanian juga terus memantau kondisi di lapangan dan siap memberikan bantuan jika diperlukan. “Kami akan terus melakukan pemantauan secara intensif dan berkoordinasi dengan kelompok tani di setiap kecamatan. Harapan kami adalah para petani bisa menghadapi musim kemarau ini dengan baik tanpa adanya kerugian besar. Kami juga membuka saluran komunikasi bagi petani yang membutuhkan bantuan atau memiliki kendala terkait irigasi dan pertanian,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala BMKG Kelas II Minangkabau, Desindra Deddy Kurnia menjelaskan, cuaca panas saat ini bukan merupakan gelombang panas, melainkan kondisi normal dengan suhu sekitar 32°C.
“Penyebab cuaca panas di Sumbar, khususnya Padang adalah minimnya tutupan awan yang mengakibatkan sinar matahari maksimal,” jelasnya. (cr1/yud/mg2)
Editor : Adetio Purtama