Kegiatan tersebut dilaksanakan di ruang pertemuan Abu Bakar Jaar, Balai Kota Padang, Aiepacah pada 31 Oktober dan 1 November 2024. Hadir sebagai pembicara, Ketua FPK Provinsi Sumbar Otong Rosadi dan Ketua FPK Kota Padang Suardi Z Dt Garang.
Dalam kesempatan itu, Kepala Kesbangpol Kota Padang yang diwakili Kabid Ideologi Wasbang Kesbangpol Kota Padang Elfian Putra Ifadi mengatakan, sosialisasi pembentukan dan pembinaan FPK ini adalah agenda yang sudah dijadwalkan Kesbangpol termasuk FKUB dan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM).
Ia menambahkan, tujuan forum ini dibentuk adalah mengantisipasi konflik antar suku, etnis,kelompok, agama yang beragam di Kota Padang.
“Keberagaman ini, hendaknya menjadi kekuatan untuk membangun Kota Padang, mudah-mudahan dengan terbentuknya FPK Kecamatan nanti semua bentuk konflik bisa kita redam bersama-sama,” ujar Elfian.
Mantan Camat Lubukkilangan itu juga mengatakan, jangan sampai terjadi konflik di Kota Padang. Spirit kebersamaan harus kita jaga dan diharapkan warga kota tetap kompak. “Ini merupakan amanat Kemendari Nomor 34 Tahun 2006 tentang pedoman penyelenggaraan pembauran kebangsaan di daerah,” ujarnya.
Ketua FPK Provinsi Sumbar Otong Rosadi mengatakan, bangsa ini didirikan atas keberagaman etnis, suku dan agama. Dengan keberagaman itu, maka Indonesia disebut negara kebangsaan. Bangsa itu lahir dari pikiran dan perbuatan. “Jadi kita harus merawat Indonesia ini dengan pikiran dan perbuatan,” jelasnya.
Dosen Universitas Ekasakti itu juga mengatakan, pembauran itu adalah interaksi antar suku, etnis dan ras dalam kehidupan sehari-hari. “Karena kita beragam, terkadang hal-hal kecil bisa membuat kita bertengkar. Misalnya masalah hitung-hitungan saja kalau salapan dalam hitungan bahasa Sunda itu sembilan, sementara di Minang salapan itu delapan. Nah, kalau kita tidak arif akan terjadi pertengkaran. Jadi ini yang perlu kita jaga,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua FPK Kota Padang Suardi Z Dt Garang mengatakan, FPK merupakan wadah yang sangat penting dalam mengelola keberagaman yang ada di tengah masyarakat. Keberagaman ini bukanlah penghalang, melainkan aset berharga yang dapat mempererat hubungan antar etnis dan budaya.
“Dengan adanya FPK di Kota Padang diharapkan bisa menjaring aspirasi masyarakat dari masyarakat dengan ras, suku, budaya dan agama yang beragam yang ada di Kota Padang,” ujarnya.
Ia juga mengatakan perlu kembali menghidupkan pelajar PMP (Pendidikan Moral Pancasila) di sekolah-sekolah. Apalagi saat ini rendahnya ketauladan.
“Kita berharap generasi emas 2045 benar-benar terwujud. Dan jangan mejadi generasi cemas,” jelas Suardi Z Dt garang yang juga ketua LKAAM Kota Padang ini.
Salah seorang peserta sosialisasi dari Kecamatan Kuranji, Yusnimar mendukung program-program FPK, karena hal itu adalah tindakan nyata.
Peserta lainnya, Edison Hulu dari etnis Nias mengatakan, ada hal-hal positif dari program FPK ini, yakni terciptanya rasa aman, adanya kerja sama dan tercapainya cita-cita pendiri bangsa.
“Forum ini penting untuk berbagai etnis untuk tetap dalam satu bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya Edison yang juga Ketua DPD Himpunan Masyarakat Nias (HIMNI) Provinsi Sumbar ini. (juf)
Editor : Adetio Purtama