Selain itu, shelter ini tidak memiliki sarana penunjang yang memadai, seperti instalasi air dan listrik. Kondisinya semakin buruk dengan keberadaan sampah yang berserakan dan berbagai coretan di dinding serta lantai.
Tempat Evakuasi Sementara (TES) yang seharusnya menjadi lokasi aman bagi warga dalam situasi darurat, kini justru dalam kondisi tidak terawat. Akses masuk terkunci, sanitasi rusak, dan tidak ada pasokan air maupun listrik yang memadai.
Meski beberapa bagian shelter masih dapat dimasuki, tiga akses menuju lantai atas terkunci dengan pagar setinggi sekitar 1,5 meter.
Sepanjang jalur tersebut, banyak sampah berserakan, memperparah kesan kumuh di lokasi. Tidak hanya itu, dinding dan lantai shelter penuh dengan coretan serta bekas pengecatan yang tidak dibersihkan.
Kondisi kamar mandi di shelter ini pun tidak jauh berbeda. Selain terlihat kotor dan tidak terawat, tidak ada instalasi air maupun listrik yang berfungsi. Sampah menumpuk di beberapa titik, menambah kesan bahwa tempat ini sudah lama tidak mendapatkan perhatian yang layak.
Lurah Ulakkarang Utara, Saringat menyebutkan, secara normal akses shelter seharusnya terbuka untuk memudahkan masyarakat.
“Pengelolaan shelter di Kelurahan Ulakkarang Utara sudah ada kepengurusan oleh RT dan RW. Soal akses naik yang dikunci, seharusnya itu terbuka, dan secepatnya akan kami koordinasikan,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa berbagai fasilitas, seperti instalasi air dan listrik, berada di bawah naungan Pemerintah Kota Padang.
Meskipun kondisinya memprihatinkan, shelter ini masih digunakan masyarakat untuk berbagai aktivitas, seperti senam, posyandu bagi anak dan lansia, serta berbagai pertemuan dan rapat warga.
“Ada banyak kegiatan yang dilakukan di sana, mulai dari senam, posyandu untuk anak dan lansia, serta pertemuan warga. Bisa dibilang shelter ini juga berfungsi sebagai ruang serbaguna,” tambahnya.
Selain itu, shelter ini juga digunakan untuk berbagai pelatihan siaga bencana yang dilakukan oleh Karang Taruna dan Kelompok Siaga Bencana (KSB).
“Di lokasi tersebut juga kerap diadakan pelatihan kesiapsiagaan bencana, biasanya dilakukan oleh Karang Taruna dan KSB yang melibatkan masyarakat,” tutupnya.
Kondisi shelter yang tidak terawat ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat setempat. Diharapkan pemerintah segera mengambil langkah untuk memperbaiki fasilitas dan memastikan shelter dapat berfungsi optimal sesuai peruntukannya. (rna)
Editor : Adetio Purtama