Hal ini diungkapkan oleh para pedagang yang sehari-hari menjajakan barang-barang perlengkapan ibadah di pusat perbelanjaan tersebut.
Ririn, pemilik Toko Bunda Perlengkapan Haji dan Umrah di Pasar Raya Padang, mengeluhkan belum adanya peningkatan penjualan yang signifikan hingga pertengahan Mei ini.
“Penjualan kita tahun ini hampir sama dengan tahun lalu. Tidak ada peningkatan yang signifikan, masih seperti biasanya. Padahal sudah memasuki musim haji,” ujar Ririn saat diwawancarai Padang Ekspres, Selasa (13/5).
Ia menyebutkan, meski ada beberapa barang yang tetap menjadi incaran utama para calon jamaah haji dan umrah, seperti baju ihram dan gamis, volume penjualan tetap stagnan.
“Baju ihram, misalnya, masih menjadi barang yang paling banyak dicari, dengan harga berkisar antara Rp 180.000 hingga Rp 200.000 per potong. Sedangkan untuk perempuan lebih dominan pembelian gamis. Namun, yang paling laris justru perlengkapan praktis seperti ikat pinggang karet, sajadah, dan botol minum Zamzam,” jelasnya.
Sementara itu, minat masyarakat terhadap oleh-oleh khas haji seperti mukena, sajadah hias, peci, dan perlengkapan ibadah lainnya yang biasa dibeli sebagai buah tangan, juga belum menunjukkan peningkatan.
Hal serupa diungkapkan oleh Ria, pemilik toko peralatan ibadah lainnya di Pasar Raya Padang. Menurutnya, tren penjualan menjelang musim haji tahun ini belum menggembirakan. “Penjualan kita masih sepi, hampir sama dengan tahun lalu. Belum banyak yang membeli,” ungkap Ria.
Ia menambahkan, kondisi ini cukup memprihatinkan mengingat waktu keberangkatan haji sudah semakin dekat. “Sampai sekarang belum terlihat adanya pergerakan jual beli perlengkapan dan pernak-pernik ibadah haji secara signifikan. Bahkan bisa dikatakan belum ada peningkatan penjualan,” ujar Ria.
Menurutnya, pernak-pernik ibadah haji justru akan lebih diminati ketika musim haji telah selesai atau setelah para jamaah kembali ke Tanah Air.
“Mereka biasanya membeli oleh-oleh dan perlengkapan ibadah setelah kembali dari Tanah Suci. Meskipun begitu, fenomena ini memang turut menggerakkan perekonomian, terutama bagi pedagang perlengkapan ibadah,” imbuhnya.
Di tengah kondisi yang stagnan ini, para pedagang berharap ada dukungan nyata dari pemerintah untuk mendorong peningkatan daya beli masyarakat.
“Kami berharap ada upaya konkret dari pemerintah untuk meningkatkan penjualan, karena ini menyangkut mata pencaharian kami. Setidaknya stimulus ekonomi untuk membantu pedagang kecil seperti kami,” harap Ririn. (cr1)
Editor : Adetio Purtama