Pantauan Padang Ekspres di Pasar Alai Jumat (23/5) harga jeruk nipis yang semula berkisar antara Rp 10.000 per kilogram, kini melonjak hingga Rp 18.000 per kilogram. Para pedagang mengeluhkan minimnya pasokan akibat gagal panen dari petani di tengah suhu panas yang tak kunjung turun.
“Jeruknya banyak yang busuk sebelum panen. Yang datang ke pasar juga kualitasnya menurun, sehingga kami susah mendapat stok yang layak jual,” ungkap Ira Maya Sofa, salah seorang pedagang jeruk nipis dan bumbu dapur di Pasar Alai.
Ira menambahkan, kenaikan harga ini membuat sebagian pelanggan melakukan penawaran ulang terhadap harga, bahkan membatasi jumlah pembelian.
“Banyak yang nawar, ada juga yang hanya beli setengah atau seperempat kilo. Tapi kalau kami turunkan harga, malah rugi karena stoknya juga mahal,” katanya.
Lonjakan harga jeruk nipis ini dirasakan secara langsung oleh pelaku usaha kuliner yang bergantung pada bahan tersebut untuk menambah cita rasa masakan.
Joni, 51, pemilik kedai pecel ayam di kawasan Jati, mengaku terbebani dengan kenaikan harga. “Saya biasa beli 5 sampai 6 kilo per minggu dengan harga Rp 8.000 sampai Rp 10.000 per kilo. Sekarang cuma bisa beli 3 kilo maksimal karena harganya tinggi dan barangnya susah dicari,” ujarnya.
Menurut Joni, jeruk nipis sangat penting untuk sambal pecel ayam yang ia jual. “Kalau tak pakai jeruk nipis, rasa sambalnya beda, jadi mau tak mau tetap beli walau mahal,” jelasnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Santi, 38, ibu rumah tangga yang ditemui saat berbelanja di Pasar Alai. Ia mengatakan bahwa biasanya menggunakan jeruk nipis dalam jumlah cukup banyak untuk berbagai keperluan masakan sehari-hari.
“Biasanya saya beli satu kilo untuk seminggu. Sekarang karena mahal, saya cuma beli setengah kilo. Itu pun saya hemat-hemat pakainya,” ujarnya.
Santi menekankan bahwa jeruk nipis penting untuk menambah rasa pada sambal dan berbagai olahan ikan dan daging. (cr1)
Editor : Adetio Purtama