PADEK.JAWAPOS.COM–Dinas Pertanian Kota Padang menargetkan produksi padi pada tahun 2025 sebanyak 52.445 ton, meskipun di tengah tantangan penyusutan luas lahan pertanian yang semakin signifikan.
Hingga pertengahan tahun, realisasi produksi padi baru mencapai 15.126,45 ton dengan luas panen 3.253 hektare dari target total luas panen sebesar 10.926 hektare sepanjang tahun.
Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice Yuliani, mengungkapkan bahwa luas lahan pertanian terus menurun dari tahun ke tahun. Pada tahun 2023, total lahan pertanian masih berada di angka 5.300 hektare.
Namun, pada 2024 hingga 2025, luasnya turun menjadi hanya 4.358 hektare. Penurunan ini secara langsung berdampak pada turunnya volume produksi padi.
“Lahan pertanian kita terus berkurang, dan itu sangat memengaruhi volume produksi. Bahkan untuk meningkatkan produktivitas per hektare pun sulit, karena saat ini rata-rata produksi maksimal hanya lima ton per hektare,” ujar Yoice saat diwawancarai pada Rabu (30/7).
Ia menjelaskan, penyusutan lahan pertanian terutama disebabkan oleh alih fungsi lahan, yang mayoritas digunakan untuk pembangunan kawasan permukiman.
Kendati demikian, ia menekankan bahwa proses konversi lahan tersebut telah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Padang.
“Kondisi eksisting di lapangan memang memperlihatkan tekanan pada lahan pertanian. Tapi konversi tersebut tetap melalui mekanisme dan sesuai tata ruang. Yang penting saat ini bagaimana kita mempertahankan zona hijau yang masih tersisa,” jelas Yoice.
Selain penyusutan lahan, Yoice menambahkan bahwa keterlambatan masa tanam di sejumlah daerah turut menjadi faktor rendahnya produksi pada semester pertama 2025.
Ketidaksesuaian waktu tanam terutama disebabkan oleh kendala distribusi air, yang pada akhirnya berdampak pada hasil panen.
Untuk mengatasi tantangan ini, Dinas Pertanian Kota Padang telah menyalurkan sebanyak 31 unit pompa air kepada kelompok tani yang terdampak. Langkah ini diharapkan dapat mendukung kelancaran masa tanam berikutnya dan menjaga stabilitas produksi.
Tak hanya itu, strategi peningkatan produksi juga difokuskan pada pendampingan intensif terhadap petani, penyediaan benih unggul, serta penguatan sarana produksi lainnya.
“Dengan kondisi sekarang, kita tidak bisa bergantung pada perluasan lahan, karena ruang kota terbatas. Jadi fokus kami adalah menjaga lahan yang ada, memperkuat sarana produksi, dan memastikan petani bisa panen dengan hasil optimal,” tegasnya.
Lebih lanjut Yoice menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, termasuk dukungan dari pengembang dan masyarakat, untuk bersama-sama menjaga keberlangsungan kawasan pertanian di Kota Padang.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan kesadaran semua pihak agar lahan pertanian yang tersisa bisa tetap produktif dan tidak lagi berkurang,” pungkasnya. (cr1)
Editor : Adetio Purtama