Muhammad Aldo, 22, salah seorang pedagang beras, menyebut penurunan daya beli masyarakat cukup terasa sejak beberapa waktu lalu. Menurutnya, jika sebelumnya ia bisa memperoleh omzet hingga Rp 10 juta per minggu, kini hanya berkisar Rp 2 juta sampai Rp 5 juta.
“Untuk sekarang daya beli masyarakat sedang mengalami penurunan. Dulu tidak sesepi sekarang. Biasanya bisa sampai Rp 10 juta per minggu, sekarang hanya Rp 2 juta sampai Rp 5 juta,” ujar Aldo saat ditemui, Rabu (24/9).
Aldo menjelaskan, penyebab turunnya penjualan tidak hanya karena harga beras yang semakin tinggi, tetapi juga harga bahan pokok lain yang ikut naik. Sementara itu, banyak konsumen beralih membeli beras SPHP karena lebih terjangkau.
“Beras SPHP itu lebih murah dibanding harga pasar. Kalau di pasar sekitar Rp 62 ribu, beras SPHP hanya Rp 60 ribu. Jadi kemungkinan masyarakat lebih banyak pindah ke sana,” jelasnya.
Ia menambahkan, beras yang paling banyak diminati saat ini tetap jenis beras standar dengan harga terjangkau, seperti beras 42, Bukittinggi, Solok, dan Sokan. Namun, beras 42 menjadi pilihan utama pembeli.
“Tapi yang lebih banyak ke 42. Dulu harganya Rp 23 ribu per gantang, sekarang paling murah Rp 25 ribu per gantang,” ungkapnya.
Aldo berharap harga beras bisa kembali stabil agar pedagang maupun masyarakat tidak semakin terbebani. “Harapannya harga beras kembali normal. Jangan terlalu tinggi seperti sekarang. Karena keadaan masyarakat tidak stabil, pedagang pun ikut merasakan dampaknya,” ucapnya.
Hal serupa disampaikan oleh pedagang beras lainnya, Devo Loista, 27. Ia menilai harga beras jenis 42 cukup sering mengalami kenaikan, meski jumlahnya tidak terlalu besar. “Beras 42 itu sering naik. Kayak 42 Pariaman, Solok. Naiknya paling Rp 500 sampai Rp 1.000 per kilo,” katanya.
Devo mengaku kini semakin merasakan penurunan daya beli masyarakat. Jika sebelumnya beras jenis 42 bisa habis hingga empat karung besar per hari, saat ini penjualannya jauh menurun.
“Biasanya beras 42 ini bisa habis sampai empat karung besar per hari. Kalau sekarang, satu atau dua karung saja susah habisnya,” ungkapnya.
Menurutnya, kebanyakan pembeli kini lebih selektif dan mencari beras dengan harga yang lebih murah. “Sekarang yang banyak dicari itu beras Bulog atau beras 42. Rata-rata masyarakat mencari yang murah-murah,” jelas Devo. (mg7)
Editor : Adetio Purtama