Darmawati, 59, pedagang baju seken, mengaku penjualan semakin sulit dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, sejak pandemi Covid-19 melanda, keadaan pasar tidak pernah pulih seperti sedia kala. “Sekarang sepi sekali. Kadang sehari tidak ada yang beli sama sekali,” ucap Darmawati, Kamis (25/9).
Ia mengenang, sebelum pandemi, meski persaingan cukup ketat, pembeli tetap ramai mendatangi kios-kios baju seken. Namun, situasi itu berubah drastis. “Sejak Covid-19, orang makin jarang datang. Sampai sekarang belum pulih,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Asni, 71, pedagang baju seken yang sudah lebih dari 40 tahun menggantungkan hidupnya di Pasar Raya. Ia menyebut kondisi saat ini sebagai salah satu masa tersulit sepanjang pengalamannya berdagang. “Sejak setahun itu lah saya mulai jualan. Dulu ramai sekali, beda dengan sekarang. Sekarang, benar-benar sepi,” ujarnya.
Asni bercerita, dulu ada strategi yang kerap dipakai pedagang, yakni menjual baju “bandi” atau pakaian bekas murah untuk menarik perhatian pembeli. Namun kini, cara itu tak lagi efektif. “Sekarang orang banyak belanja lewat online. Mau kita turunkan harga pun, tetap susah menarik pembeli,” ungkapnya.
Ia menambahkan, persaingan dengan penjualan online menjadi tantangan besar bagi pedagang baju seken. “Kami tidak mengerti teknologi. Jadi tidak bisa ikut jualan di online,” kata Darmawati.
Selain keterbatasan teknologi, ia juga menyoroti kondisi pasar yang dinilai kurang mendapat perhatian. Menurut mereka, tidak ada pembaruan berarti yang dapat menghidupkan kembali suasana pasar. “Kalau pasarnya bagus, orang tentu mau datang. Tapi sekarang ya apa adanya saja,” tutur Asni.
Meski menghadapi situasi sulit, para pedagang tetap berusaha bertahan. Mereka menjual pakaian sesuai dengan kondisi barang dengan harga yang bisa dinegosiasikan.
Beberapa pedagang juga membuka jasa jahit sederhana untuk menambah penghasilan. “Kalau ada orang minta jahit baju, kami terima. Supaya bisa ada tambahan uang,” kata Darmawati.
Harga baju seken yang ditawarkan bervariasi, tergantung kualitas dan kondisi barang. Jika pakaian masih layak dan terlihat baru, harga bisa lebih tinggi. Namun, jika kualitas menurun, biasanya dijual lebih murah. “Tergantung barangnya, kalau bagus bisa mahal, kalau biasa ya harga seadanya,” jelas Asni.
Para pedagang juga menyadari bahwa daya beli masyarakat saat ini memang menurun. Selain faktor persaingan dengan penjualan online, kenaikan harga kebutuhan pokok membuat pembeli semakin berhitung sebelum mengeluarkan uang. “Orang sekarang lebih memilih beli kebutuhan dapur. Baju bukan lagi prioritas,” ujar Darmawati.
Kendati demikian, ia berharap suatu saat nanti pasar kembali ramai seperti dulu, meskipun mereka tidak tahu kapan kondisi itu akan terwujud. “Kalau bisa, pasar ramai lagi, pembeli banyak lagi. Itu harapan kami,” kata Asni dengan nada penuh harap. (mg7)
Editor : Adetio Purtama