Usaha yang baru dijalankannya sekitar satu setengah tahun itu kini menjadi sumber penghidupan utama sekaligus kebanggaan bagi keluarganya.
Meski tergolong baru, berkat ketekunan dan kerja keras, sapu buatan Jek kini dikenal luas hingga luar daerah. “Saya membuat sekaligus menjual sendiri sapu lidi ini,” tutur Jek, Selasa (7/10).
Ia tak hanya berperan sebagai perajin, tetapi juga pemasar produknya sendiri. Bahan baku sapu lidi buatan Jek diperolehnya dari penjual sarang ketupat di berbagai pasar di Kota Padang. Lidi-lidi itu kebanyakan didatangkan dari Kepulauan Mentawai. Namun, Jek punya standar khusus dalam memilih bahan.
“Saya pakai lidi dari daun kelapa yang kuning karena lebih kuat dan lentur. Sebelum dibuat, dijemur dulu seharian biar kering. Jadi kualitasnya lebih bagus dan tahan lama,” katanya.
Berbekal ketelatenan dalam memilih bahan, banyak pembeli yang mengaku puas dengan kualitas sapu buatan Jek. “Kata pembeli, sapu ini kuat, nggak gampang patah, dan bisa dipakai lama,” tambahnya.
Dalam sehari, Jek dan istrinya mampu menghasilkan sekitar 10 kodi sapu lidi. Bila dibantu dua karyawan tetapnya, produksi bisa meningkat hingga 15–20 kodi per hari. “Kalau berdua sama bapak bisa 15 atau 20 kodi,” ujar istrinya. Aktivitas mereka dimulai sejak subuh.
“Saya mulai kerja dari Subuh, karyawan mulai jam sembilan. Kadang saya baru selesai lima sapu, mereka sudah sepuluh,” tambahnya.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam membuat sapu lidi adalah pada bagian ikatan antara lidi dan tangkai. Untuk memperkuat ikatan, Jek menggunakan lem dari tutup botol plastik yang dipanaskan.
“Tantangannya itu di bagian ikatan. Saya pakai tutup botol plastik yang dipanaskan supaya sapu nggak mudah lepas dari tangkainya,” jelasnya.
Sebagian besar sapu yang diproduksi Jek merupakan pesanan tetap dari pelanggan, namun ia juga melayani pembeli yang datang langsung ke tempat produksinya di tepi jalan.
“Biasanya sapu-sapu ini sudah pesanan orang, tapi kalau ada yang mau beli satuan bisa juga langsung ke toko kami,” ujarnya.
Kini, pesanan sapu lidi Jek sudah menjangkau luar daerah, termasuk Pekanbaru, Jambi, Kerinci, Solok, dan Silungkang. “Kadang orang lihat di TikTok atau Facebook, terus langsung pesan lewat WhatsApp,” ujarnya.
Untuk memperluas pasar, Jek aktif memanfaatkan media sosial seperti Facebook, WhatsApp, dan TikTok. Namun, ia mengaku produksi masih terkendala oleh terbatasnya modal. “Kalau ada modal, saya mau nambah dua karyawan lagi dan juga alat perapinya,” ujarnya.
Harga sapu lidi buatan Jek bervariasi tergantung jenis dan ukuran. “Kalau yang tangkainya kuning dijual Rp 120 ribu per kodi, sedangkan yang cat merah Rp 100 ribu per kodi. Kalau beli satuan Rp 5 ribu,” jelasnya.
Perbedaan harga ini karena jumlah lidi dan ukuran sapu. Jenis simpai kuning menjadi yang paling diminati karena ukurannya besar dan jumlah lidinya lebih banyak.
Selain itu, Jek juga memberikan harga khusus untuk petugas kebersihan jalan di wilayah Kototangah hingga Kataping. “Kalau ke mereka saya jual harga tetangga aja, lebih murah, karena mereka pakainya untuk kebersihan jalan,” ujarnya.
Setiap hari, Jek bekerja dari dini hari hingga sekitar pukul 10 malam. Dalam satu kali produksi besar, dibutuhkan waktu sekitar delapan hari sebelum sapu siap dikirim ke pelanggan.
Pengiriman pun ia lakukan sendiri menggunakan mobil pick-up. “Kalau ke Pekanbaru atau ke Jambi, saya sendiri yang antar,” katanya.
Meskipun sederhana, cara ini membuat pelanggan merasa lebih percaya karena barang dikirim langsung oleh pembuatnya. Ke depan, Jek berharap usahanya dapat terus berkembang dan membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
“Kalau usaha ini berkembang, saya ingin menambah karyawan. Kalau ada lima orang, saya bisa fokus ngatur bahan dan kasih arahan,” tuturnya.
Ia juga terbuka bagi siapa pun yang ingin ikut bekerja di usahanya. “Kalau ada warga sekitar yang mau kerja di sini, saya sangat terima. Lumayan kan buat tambahan penghasilan,” ujarnya sambil melanjutkan pekerjaannya, mengikat lidi satu per satu, membuat sapu lidi yang lahir dari ketekunan dan kerja keras. (cc6)
Editor : Adetio Purtama