Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

8 Tahun Berjalan Kaki, Ratna Wilis Bertahan Hidupi Keluarga dari Jualan Pepes Ikan

Hendra Efison • Rabu, 8 Oktober 2025 | 12:55 WIB

Ratna Wilis (52), seorang penjual pepes ikan keliling. Dengan langkah sabar, ia mencari rezeki demi menghidupi keluarga.
Ratna Wilis (52), seorang penjual pepes ikan keliling. Dengan langkah sabar, ia mencari rezeki demi menghidupi keluarga.
PADEK.JAWAPOS.COM—Ratna Wilis (52), seorang penjual pepes ikan keliling. Dengan langkah sabar, ia mencari rezeki demi menghidupi keluarga.

Selama delapan tahun ini berjalan kaki menyusuri jalanan dari Pasar Lubuk Buaya, Koto Tangah, Kota Padang, hingga Pasar Usang, Kabupaten Padangpariaman.

Ditemui di Jalan Adinegoro, Koto Tangah, Ratna tampak membawa beberapa bungkus pepes ikan yang ia jajakan dari rumah ke rumah dan ke pasar. Aktivitas itu rutin ia lakukan setiap pagi tanpa kenal lelah.

“Sudah delapan tahun saya jualan pepes ikan keliling. Pepesnya saya ambil dari orang, saya beli Rp2.000 per bungkus dan dijual Rp2.500. Untungnya lima ratus perak saja,” ujar Ratna saat ditemui, Selasa (7/10/2025).

Dalam sehari, Ratna bisa menjual hingga 100 bungkus pepes ikan. Jika semua terjual habis, ia membawa pulang keuntungan sekitar Rp50.000. Namun, hasil tersebut tidak selalu didapat setiap hari, terutama saat hujan turun atau pembeli sepi.

“Kalau terjual semua, alhamdulillah bisa dapat lima puluh ribu. Tapi kalau sepi, ya kadang nggak habis. Namanya juga usaha,” ujarnya.

Ratna menjelaskan bahwa ia menjual dua jenis pepes ikan, yaitu pepes balai kelapa dan pepes balai cabe, dua varian yang paling disukai pelanggannya. Pepes itu ia ambil dari pembuat langganan yang sudah lama bekerja sama dengannya.

“Dua macam saja yang saya jual, balai kelapa sama balai cabe. Itu yang banyak disukai orang,” tambahnya.

Setiap hari, Ratna berjalan beberapa kilometer dengan membawa dagangan di tangan dan tas kecil di pundak. Ia mengaku sudah terbiasa menempuh jarak jauh, meski sering harus melawan panas dan hujan.

“Saya dari Lubuk Buaya sampai Pasar Usang jalan kaki. Kadang panas, kadang hujan. Tapi kalau nggak dijalani, nggak makan anak saya,” ucapnya lirih.

Karena keterbatasan modal, Ratna menjalankan sistem jual dulu baru setor. Ia mengambil pepes dari pembuat, lalu membayar setelah hasil penjualan masuk.

Sistem ini sudah dijalani bertahun-tahun karena ia tidak mampu membeli stok dalam jumlah besar sekaligus.

“Saya jual dulu baru nanti disetor ke orangnya. Jadi kalau nggak habis, ya besok bawa lagi. Kadang makan cukup, kadang nggak,” katanya.

Sebagai ibu dari empat anak dan nenek dari dua cucu, Ratna mengaku tetap bersyukur meski hasil yang diperoleh tidak besar. Baginya, kerja keras yang halal lebih berarti daripada hasil instan tanpa usaha.

“Yang penting halal, bisa bantu anak dan cucu,” ujarnya penuh ketulusan.

Kisah Ratna Wilis menjadi potret keteguhan dan kerja keras perempuan tangguh di tengah kerasnya kehidupan kota.

Setiap langkahnya menyusuri jalanan Padang bukan sekadar mencari rezeki, tapi juga menggambarkan ketulusan dan semangat hidup yang tidak pernah padam.

Di antara hiruk-pikuk kendaraan dan kesibukan pasar, aroma pepes ikan yang ia bawa menjadi saksi perjuangan seorang ibu yang terus berjuang demi keluarganya. Ratna adalah gambaran nyata bahwa kejujuran, kesabaran, dan kerja keras masih hidup di jalanan Padang. (andre/mg9)

Editor : Hendra Efison
#kisah inspiratif Padang #perjuangan perempuan #penjual pepes ikan Padang #usaha kecil menengah