Di balik uap panas itu, Leni (35) dengan cekatan menuang kuah lontong sayur ke mangkuk pelanggan. Tangan kirinya memegang sendok besar, sementara tangan kanan menyiapkan potongan lontong dan sayur labu yang masih mengepul.
Sudah lebih dari satu dekade, Leni menjalani rutinitas ini. Sejak 2012, ia membuka warung kecil di depan rumahnya. “Dulu di sekitar sini sangat ramai,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
“Banyak mahasiswa dari kampus UPI yang ngekos di daerah sini. Sekarang juga masih ramai, cuma tidak seramai dulu yang mahasiswanya sampai lebih dari tiga ribu.”
Leni menyadari bahwa hidup sebagai pedagang kecil berarti bergantung pada denyut ekonomi dan lingkungan sekitar.
Mahasiswa yang dulu menjadi pelanggan tetap kini tak sebanyak dulu. Beberapa kos-kosan tutup, dan geliat pagi yang dulu padat kini mulai berkurang.
Namun, bukan hanya perubahan lingkungan yang ia rasakan. Menurut Leni, penurunan daya beli masyarakat beberapa tahun terakhir juga menjadi tantangan berat.
“Sekarang pembeli banyak yang mikir dua kali mau jajan. Harga bahan pokok naik, tapi pendapatan mereka tetap,” katanya dengan nada lirih.
Meski begitu, Leni tetap membuka warung setiap hari. Pukul enam pagi ia sudah siap melayani pelanggan pertama—biasanya pegawai atau ibu-ibu yang hendak berbelanja ke pasar.
“Selama masih ada yang beli, saya akan terus berjualan,” tuturnya mantap.
Ia berharap pemerintah memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat kecil. “Kalau daya beli naik, UMKM juga ikut hidup. Kami bisa terus bertahan,” ujar Leni menutup percakapan pagi itu. (Muhammad Reza Bayu Permana/ cr2)
Editor : Hendra Efison