Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mengikat Rezeki, Menyapu Sepi: Kisah Kakek Paril Pengrajin Sapu Lidi

Mengki Kurniawan • Sabtu, 1 November 2025 | 15:03 WIB

Lokasi Kakek Paril meraut lidi di Jl Batang Marau, Padang. (Foto: Mengki Kurniawan/Padeks)
Lokasi Kakek Paril meraut lidi di Jl Batang Marau, Padang. (Foto: Mengki Kurniawan/Padeks)
PADEK.JAWAPOS.COM—Di tepi Jalan Batang Marao, di bawah rindang pohon dekat kantor PT Telkom Akses Padang, seorang pria lanjut usia tampak tekun menata sapu lidi di atas gerobaknya.

Jemarinya yang mulai renta masih lincah merapikan ikatan lidi satu per satu. Dialah Efrizal, akrab disapa Kakek Paril, pengrajin sapu lidi berusia 70 tahun yang masih gigih bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup bersama istrinya.

Setiap hari, kecuali Minggu, Kakek Paril menjalani rutinitas yang sama—merakit, mengikat, dan menjual sapu hasil karyanya. “Saya bekerja ini hanya untuk makan saja,” ujarnya dengan nada tenang, Sabtu (31/10/2025).

Meskipun keempat anaknya kini telah bekerja, ia menolak bergantung sepenuhnya pada mereka. “Saya masih ingin cari sendiri,” tambahnya.

Dari Kuli Bangunan ke Pengrajin Lidi

Tiga tahun terakhir, hidup Kakek Paril berputar di antara lidi, tali rafia, dan potongan kayu gagang sapu. Sebelumnya, ia bekerja sebagai kuli bangunan, pekerjaan yang menuntut tenaga besar dan ketahanan fisik. Namun, seiring bertambahnya usia, ia tak lagi sanggup mengangkat semen dan batu seperti dulu.

“Kalau dulu bisa kerja dari pagi sampai sore di proyek, sekarang sudah tidak kuat lagi. Jadi saya buat sapu saja, masih bisa dilakukan pelan-pelan,” katanya.

Setiap Minggu, ia menempuh perjalanan dari rumahnya di Ulak Karang, Kecamatan Padang Utara, menuju Nagari Pauah Kamba, Kecamatan Nan Sabaris, Padangpariaman, untuk membeli bahan baku.

Tangkal sapu dari kayu keras dibelinya seharga Rp3.000 per batang, sedangkan lidi ia peroleh dari Lubuk Buaya, Padang. Semua ia angkut sendiri dengan sepeda tuanya.

Mengikat Harapan di Setiap Sapu

Sapu buatan Kakek Paril dijual dengan harga Rp15.000 untuk ukuran kecil dan Rp25.000 untuk ukuran besar. Dari satu sapu, keuntungan bersih yang didapatnya hanya sekitar Rp5.000. Namun dari situlah ia dan istrinya bertahan hidup.

“Kalau dapat jual lima sapu saja sudah senang. Kadang laku, kadang tidak. Tapi tetap saya bawa, siapa tahu rezeki datang,” ucapnya sambil tersenyum.

Pelanggannya datang dari berbagai kalangan. Beberapa instansi seperti Yayasan Azdkia, RSUD dr. Rasidin, dan Hotel Ibis bahkan menjadi langganan tetap. Meski begitu, perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Ia mengaku beberapa kali ditipu oleh pembeli.

“Pernah ada yang pesan banyak, tapi setelah barang diantar, tidak dibayar. Ada juga yang pinjam uang, sampai sekarang tidak kembali,” keluhnya pelan.

Mandiri di Usia Senja

Kakek Paril tinggal bersama istrinya di rumah sederhana. Anak sulungnya, lahir tahun 1980, kini bekerja sebagai sopir travel. Dua anak kembarnya berjualan tisu, dan anak bungsunya menjadi perawat di Jakarta. Namun bagi Paril, bekerja bukan sekadar mencari uang, melainkan menjaga martabat diri.

“Selagi bisa bergerak, saya tidak mau diam saja. Rezeki itu datang kalau kita berusaha,” ujarnya penuh keyakinan.

Setiap lidi yang ia rangkai, setiap ikatan yang ia simpul, menjadi simbol keteguhan hidup di tengah usia senja. Di balik sapu-sapu sederhana yang dijajakan di pinggir jalan, tersimpan cerita tentang ketekunan, harga diri, dan cinta yang tak pernah lekang oleh waktu.(cr3)

Editor : Hendra Efison
#kisah inspiratif Padang #perjuangan di usia senja #Kakek Paril #pengrajin sapu lidi