Ia bekerja sebagai buruh mebel kayu dan kuli bangunan, dua pekerjaan yang menuntut ketekunan dan tenaga ekstra setiap hari.
Latif dikenal memiliki keahlian membuat berbagai perabot kayu. Untuk satu unit jendela, ia dibayar Rp40.000, jumlah yang menuntut kerja keras agar dapat mencukupi kebutuhan hidup.
Namun, di balik rutinitas berat itu, terselip kisah tentang keikhlasan yang jarang ditemui.
Bertempat di Jalan Ulu Gadut, Limau Manis, Latif kerap menerima pesanan dari mahasiswa yang tinggal di sekitar kampus.
Mereka biasanya membutuhkan peralatan untuk praktikum atau tugas akhir. Uniknya, Latif tak pernah mematok tarif tetap.
“Kalau mahasiswa minta tolong buat alat praktek, saya terima seikhlasnya. Kalau mereka belum bisa bayar pun tidak apa-apa,” ujarnya, Minggu (2/11/2025).
Sikap tanpa pamrih ini membuat Abdul Latif dikenal luas di kalangan mahasiswa sebagai sosok dermawan dan pekerja keras.
Ia menilai membantu mahasiswa yang tengah berjuang menuntut ilmu adalah bentuk ibadah dan kepedulian sosial.
Kisah Abdul Latif menjadi contoh nyata semangat gotong royong dan keikhlasan di tengah tekanan ekonomi.
Usaha kecilnya di Limau Manis, Padang, menjadi saksi ketulusan seorang buruh muda yang tetap bekerja keras sambil menebar manfaat bagi sesama.(Muhammad Reza Bayu Permana/cr2)
Editor : Hendra Efison