Mengki Kurniawan, Batang Arau—
PRIA itu bernama Ibrahim, atau yang akrab disapa Pak Bram. Di usianya yang telah mencapai 68 tahun, ia masih setia melayani jasa permak levis (jeans) di lokasi yang kini menjadi semacam “kantor tetap” baginya sejak tahun 2015.
Di tengah hiruk-pikuk kendaraan dan wisatawan yang melintas di bawah ikon legendaris Kota Padang itu, semangat kerja Pak Bram seperti tidak pernah padam.
“Sudah dari tahun 2015 saya di sini. Tempat ini ramai, jadi pelanggan nggak susah nyari saya,” ujar Pak Bram saat ditemui Padang Ekspres.
Setiap hari, dari pukul 09.00 hingga 16.00 WIB, Pak Bram membuka lapaknya di tepi jalan. Ia memilih tidak berkeliling seperti kebanyakan penjahit keliling lainnya. Keputusan itu bukan tanpa alasan.
Selain mempertimbangkan lalu lintas yang ramai di kawasan wisata Batang Arau, ia juga berusaha menghemat tenaga dan bahan bakar becak motor yang digunakannya.
“Kalau keliling, capek dan boros bensin. Di sini aja sudah cukup. Orang lewat banyak, wisatawan juga sering mampir,” tuturnya.
Dari lapak sederhana berukuran tak lebih dari dua meter itu, Pak Bram menjemput rezeki setiap hari. Suara mesin jahitnya berpadu dengan deru kendaraan dan desir angin dari arah muara, menjadi irama keseharian yang menandakan kegigihan.
Pak Bram adalah warga asli Padang, tepatnya dari Kelurahan Seberangpalinggam, Kecamatan Padang Selatan. Namun, sebagian besar hidupnya dihabiskan di tanah rantau. Sebelum kembali ke kampung halaman pada tahun 2008, ia menetap selama hampir empat dekade di Jakarta Utara, dan sempat berpindah-pindah ke berbagai daerah lain seperti Jawa, Bali, dan Kalimantan.
Beragam profesi telah ia lakoni, mulai dari buruh konveksi hingga pedagang pakaian. Namun tekanan kerja dari atasan di industri konveksi mendorongnya untuk keluar dan mencari jalan hidup sendiri. Dari sanalah benih kemandirian tumbuh.
Menariknya, keahlian menjahit yang kini menjadi sumber penghidupannya tidak diperoleh dari kursus atau pendidikan formal. Ia belajar menjahit secara otodidak, hanya bermodalkan tekad dan rasa ingin tahu.
“Saya belajar sendiri. Saya punya prinsip, segala sesuatu yang kita pelajari itu pasti membawa rezeki untuk kita. Beda sama anak sekarang, apa-apa mintanya ke orangtua,” ungkapnya dengan nada tegas namun hangat.
Pendidikan formalnya sendiri hanya sampai kelas dua Sekolah Rakyat (SR) di Padang. Namun, keterbatasan itu tidak menjadi penghalang untuk terus belajar dari kehidupan.
Kini, Pak Bram tinggal bersama istrinya di Kelurahan Matoaie, Kecamatan Padang Selatan. Ia dikaruniai dua orang anak, keduanya lahir di tanah rantau. Anak pertamanya yang kini berusia 40 tahun sudah berumah tangga, sementara anak keduanya, 35 tahun, bekerja sebagai kurir paket.
Dari hasil permak celana jeans dan pakaian lainnya, Pak Bram mampu menopang kebutuhan keluarga. Tarif jasanya bervariasi, tergantung jenis permintaan dan tingkat kesulitan pekerjaan. Meski tidak tetap, penghasilannya cukup untuk kebutuhan harian.
“Alhamdulillah, pelanggan yang datang lumayan ramai. Bahkan ada yang dari Lubukbuaya. Penghasilan saya per hari bisa sekitar Rp200 ribu sampai Rp300 ribu,” jelasnya.
Pelanggan Pak Bram datang dari berbagai kalangan, mulai dari warga sekitar, pegawai, hingga wisatawan yang kebetulan melintas. Reputasinya tersebar dari mulut ke mulut karena hasil jahitannya rapi dan cepat selesai.
Meski usia tak lagi muda, Pak Bram menolak untuk berpangku tangan. Ia percaya, selama tubuh masih mampu bergerak, bekerja adalah bentuk syukur. Baginya, setiap tusukan jarum adalah doa dan upaya untuk hidup mandiri tanpa membebani orang lain.
Bagi banyak orang yang lalu-lalang di bawah Jembatan Siti Nurbaya, Pak Bram mungkin hanya seorang penjahit biasa. Namun, bagi yang mengenalnya lebih dekat, ia adalah simbol keteguhan hati yang terus berjuang di tengah derasnya arus kehidupan. (*)
Editor : Adetio Purtama