Kegiatan yang digelar Pemerintah Kota Padang ini bertujuan melatih kecepatan respons, pemahaman jalur evakuasi, serta kesiapan mental siswa dalam menghadapi potensi bencana.
Kepala Sekolah SD Plus Lillah, Priscilia Arzein, menjelaskan bahwa simulasi dimulai saat proses belajar mengajar berlangsung.
Ketika gempa disimulasikan, siswa diminta berlindung di bawah meja, lalu diarahkan menuju lapangan terbuka di sekolah.
“Ketika sirene kedua berbunyi, menandakan gempa berkekuatan tinggi dan potensi tsunami, para siswa segera bergerak ke titik evakuasi yang didampingi wali kelas masing-masing,” ujar Priscilia.
Sebanyak 253 pelajar berpartisipasi dalam latihan tersebut. Dari lapangan sekolah, seluruh peserta berjalan menuju gedung shelter yang berada di lantai tiga Kampus ATI Padang, sekitar beberapa ratus meter dari lokasi sekolah.
Menurut Kanit Reskrim Polsek Koto Tangah, Iptu Jamaldi S.H., M.H, kegiatan ini menggambarkan proses evakuasi sebenarnya jika bencana terjadi di wilayah Kota Padang.
“Saat sirene pertama berbunyi, semua harus menuju titik kumpul, lalu bersama majelis guru melakukan evakuasi ke shelter,” jelasnya.
Ia menambahkan, latihan seperti ini penting agar siswa memahami prosedur evakuasi tanpa harus menunggu orang tua ketika bencana terjadi di jam sekolah.
Sementara itu, Afrizal, Ketua RW 04 Kelurahan Bungo Pasang, menyebut meski hujan sempat turun, semangat siswa dan pihak sekolah tetap tinggi.
Ia menilai edukasi kebencanaan sangat penting, terutama karena wilayah tersebut termasuk zona merah tsunami.
Priscilia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan dua kali setahun agar siswa dan guru semakin tanggap menghadapi bencana.
“Semakin sering latihan, semakin kuat kesiapsiagaan kami. Kami berharap kegiatan ini lebih meluas ke sekolah-sekolah lain di zona merah,” ujarnya.(CR6)
Editor : Hendra Efison