Kebijakan relokasi ini dilakukan sejak September 2023 sebagai bagian dari upaya penataan kawasan wisata agar lebih tertib, bersih, dan nyaman bagi wisatawan.
Namun, lokasi baru dinilai kurang strategis dan minim pengunjung, sehingga berdampak pada pendapatan harian pedagang.
Salah satu pedagang, Erlina (60), penjual minuman dan kerupuk kuah yang telah berjualan di Taplau sejak 2016, menyebut penghasilannya kini turun drastis.
“Dulu sebelum dipindahkan, apalagi di hari libur, omzet bisa sampai Rp500 ribu per hari. Sekarang paling Rp50 ribu sampai Rp200 ribu,” ujarnya, Rabu (5/11/2025).
Erlina berjualan dari pagi hingga malam, namun lokasi barunya jarang dikunjungi wisatawan.
Ia mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga, terlebih masih membiayai kuliah anak bungsunya di Universitas Dharma Andalas.
Keluhan serupa disampaikan Syaril (68), fotografer keliling yang sebelumnya bekerja di sepanjang Taplau. Ia mengatakan relokasi membuat pelanggannya berkurang drastis.
“Pengunjung makin sepi di tempat kami sekarang. Yang mau foto juga sudah jarang,” ujarnya.
Menurut Syaril, selain karena lokasi baru yang sepi, jasa fotografi juga semakin tergerus oleh teknologi kamera ponsel yang semakin canggih.
Relokasi ini menimbulkan dilema sosial bagi pelaku usaha kecil yang bergantung pada keramaian kawasan wisata.
Para pedagang berharap pemerintah tidak hanya menata kawasan, tetapi juga membantu menghidupkan lokasi relokasi baru dengan promosi dan kegiatan rutin agar ekonomi mereka kembali pulih.(CR3)
Editor : Hendra Efison