Dari oven kecil di bagian belakang mobil, kepulan uap hangat menguar, mengundang perhatian siapa pun yang melintas.
Di balik kemudi sekaligus tungku pemanggangan itu, berdirilah Syaiful Hamdani (32), penjual ubi Cilembu yang kini menjadi salah satu ikon kuliner kaki lima unik di Kota Padang.
Sudah satu tahun ia berkeliling membawa ubi khas Desa Cilembu, Sumedang, Jawa Barat — ubi dengan rasa manis alami yang menyerupai madu saat dipanggang.
“Pertama jualan saya memang pakai mobil pick up. Dulu sering pindah-pindah, sekarang lebih sering di Ulak Karang. Kalau pakai mobil, bisa fleksibel tapi tetap harus punya tempat tetap,” ujarnya, Kamis (6/11/2025).
Mobilnya ia sulap menjadi lapak kecil yang rapi. Di bagian belakang terdapat oven pemanggang, wadah penyimpanan agar ubi tetap hangat, serta ruang untuk stok mentah.
Syaiful memanggang ubi sekitar satu jam lebih, tergantung ukurannya. “Kalau sudah matang, keluar cairan seperti caramel. Itu gula alami dari ubinya, tanpa tambahan gula sama sekali,” jelasnya.
Ubi yang ia jual dipesan langsung dari petani di Cilembu, Jawa Barat. Menurutnya, keunikan rasa manis madu hanya muncul dari tanah khas di daerah asalnya.
“Kalau ubi dari Sumatera, teksturnya beda, tidak mengeluarkan caramel. Jadi saya pesan langsung biar rasanya asli,” katanya.
Dengan harga Rp30.000 per kilogram, Syaiful bisa menjual 60 hingga 70 kilogram ubi per hari.
Namun, ia tetap membuka pembelian eceran agar lebih terjangkau.
“Banyak juga yang beli cuma Rp10.000. Murah tidak apa-apa, yang penting pelanggan senang,” ujarnya sambil tersenyum.
Beberapa waktu lalu, usahanya sempat viral di media sosial. Video yang memperlihatkan lelehan madu dari ubi panggangnya membuat penjualannya melonjak drastis.
“Pernah waktu itu viral, ubi yang saya bawa selalu habis. Sekarang sudah nggak terlalu viral, tapi pelanggan tetap ada,” tambahnya.
Salah satu pembeli, Puji (22), mengaku pertama kali mengenal ubi Cilembu lewat video tersebut.
“Awalnya lihat di media sosial, kayak madu meleleh gitu. Sekarang beli kadang-kadang saja, tapi rasanya tetap enak,” ujarnya.
Meski begitu, Syaiful harus berhadapan dengan tantangan klasik: ketahanan bahan.
“Kalau tiga hari nggak habis, biasanya udah basi. Cuaca juga pengaruh, kalau hujan cepat lembek. Jadi saya simpan di tempat kering, nggak tertutup rapat,” katanya.
Setiap sore, di bawah langit Padang yang perlahan memerah, aroma manis ubi Cilembu kembali memenuhi udara.
Di tengah deru kendaraan, mobil kecil milik Syaiful bukan sekadar lapak jualan — tapi juga wujud ketekunan seorang pedagang muda menjaga cita rasa khas dari tanah Jawa Barat.(CR6)
Editor : Hendra Efison