Namanya Egi Musmail, 16 tahun—penjual kerupuk keliling yang menjadikan jalanan Padang sebagai saksi perjuangannya.
Suara khas plastik berkeresek terdengar tiap kali ia berpindah sisi trotoar. Bagi Egi, hidup bukan sekadar tentang mencari uang jajan.
Setiap langkahnya adalah bentuk tanggung jawab yang ia pikul sejak kecil—membantu ibunya menghidupi keluarga, agar kakak dan adiknya tetap bisa bersekolah.
“Saya harus bantu orang tua, biar adik dan kakak bisa terus sekolah,” ujar Egi lirih, menatap jalanan yang mulai ramai, Kamis (6/11/2025).
Putus Sekolah, Bukan Putus Asa
Setelah menamatkan kelas 6 SD di Garut, Jawa Barat, Egi harus menghadapi kenyataan pahit.
Biaya sekolah yang tak sanggup dibayar dan sulitnya mengurus administrasi kepindahan sekolah ke Padang, membuatnya terpaksa berhenti.
Sejak di usia 12 tahun, ketika teman-teman sebayanya baru belajar menulis mimpi di halaman buku pelajaran, Egi sudah menulisnya di kerasnya kehidupan.
Ia dan keluarganya kini tinggal di sebuah rumah sederhana di Jalan Bypass KM 7, Kelurahan Pisang, Kecamatan Pauh, tak jauh dari Semen Padang Hospital.
Dari sanalah ia memulai harinya, berjalan kaki membawa dagangan yang dipasok dari tetangga.
Rutenya panjang—mulai dari Bypass, kawasan Pasar Raya, Masjid Raya, hingga ke pesisir Taplau. Panas, debu, dan angin laut menjadi teman sehari-harinya.
Kerja Keras dan Sistem Bagi Hasil
Egi menjual kerupuk seharga Rp12.000 per bungkus. Ia mendapat upah Rp2.000 untuk setiap bungkus yang terjual. Dalam sehari, jika semua dagangan habis, penghasilannya bisa mencapai Rp120.000.
Dari jumlah itu, Rp70.000 selalu ia serahkan kepada sang ibu, sementara sisanya ia tabung untuk kebutuhan kecil sehari-hari.
Ayahnya kini juga berjualan kerupuk keliling, setelah tak lagi bekerja sebagai kuli bangunan.
Sang ibu membantu tetangga memproduksi kerupuk, sementara kakaknya masih bersekolah di SMKN 8 Padang dan adiknya yang berusia enam tahun duduk di bangku TK.
Menantang Panas, Hujan, dan Rasa Malu
Menjual di jalanan tidak selalu mudah. Tapi Egi belajar bertahan.
Kadang cuaca menjadi lawan terbesar—terik yang menyengat atau hujan deras yang membuat dagangan basah.
Hari Jumat adalah waktu favoritnya. Biasanya, ia mendapat pembeli lebih banyak karena ada program Jumat Berkah.
“Awalnya saya sering diejek teman-teman, tapi lama-lama tidak malu lagi. Karena yang saya lakukan ini pekerjaan halal,” katanya mantap.
Kata-katanya sederhana, tapi di baliknya tersimpan keteguhan yang jarang dimiliki oleh remaja seusianya.
Mimpi di Balik Kerupuk
Egi tahu, pendidikan adalah jalan panjang yang tak semua orang bisa tempuh tanpa dukungan.
Karena itu, ia bertekad agar adik dan kakaknya tidak mengalami hal yang sama. “Kalau mereka bisa sekolah tinggi, saya ikut senang,” ucapnya pelan.
Di bawah langit Padang yang berubah warna dari biru ke jingga, Egi terus melangkah, menawarkan kerupuk dari satu lampu merah ke lampu merah berikutnya.
Di antara lalu lalang kendaraan, ia bukan sekadar penjual kecil di sudut kota—ia adalah simbol keteguhan dan kasih keluarga.
Kisahnya menjadi cermin bahwa di balik keterbatasan, selalu ada semangat yang tak pernah padam. (CR3)
Editor : Hendra Efison