Mengki Kurniawan, Padang—
Sejak tahun 1981, Man telah mengabdikan dirinya di kawasan tersebut. Ia tidak hanya menjahit pakaian, tetapi juga “menjahit” kenangan masa keemasan Permindo yang kini perlahan tergantikan oleh wajah modern kota.
Pria asal Nagari Balingka, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam ini memulai perjalanan usahanya dengan penuh ketekunan. Sebelum membuka kios di Padang, ia menghabiskan sembilan tahun masa belajar menjahit di Medan.
Berbekal pengalaman itu, ia mendirikan usaha jahit bernama Balingka Taylor yang kelak dikenal luas oleh masyarakat Padang dan sekitarnya.
Usahanya mencapai puncak kejayaan pada era 1980-an hingga 1990-an. Saat itu, kawasan Permindo begitu hidup. Anak muda menjadikannya tempat nongkrong favorit, sementara wisatawan lokal maupun luar kota selalu menyempatkan diri berkunjung ke kawasan tersebut.
“Dulu, Permindo itu tempat nongkrong wajib anak-anak muda. Saya sudah ada di sini bahkan ketika jalanan masih kecil, belum ada trotoar, dan ruko-ruko baru dibangun,” kenang Pak Man ketika ditemui di kiosnya pada Rabu (12/11).
Saking ramainya aktivitas di kawasan itu, Man sempat merangkap pekerjaan sebagai tukang ojek sambil tetap menerima jahitan dari pelanggan tetapnya. Pendapatannya pada masa itu cukup untuk menghidupi keluarga dan menggaji tiga orang karyawan yang bekerja di Balingka Taylor.
Bagi warga Padang yang hidup di era 80-an dan 90-an, Permindo bukan sekadar jalan, melainkan simbol kehidupan urban yang penuh warna.
Di sana berdiri deretan usaha legendaris seperti Rumah Makan Semalam Suntuk yang dikenal dengan masakannya yang nikmat, Toko Buku Sari Anggrek yang menjadi surga bagi pencinta bacaan, hingga Toko Citra Busana yang populer di kalangan remaja.
“Waktu itu pelanggan saya datang dari mana-mana, sampai ke Sangir Solok Selatan, Bukit Tinggi, bahkan Payakumbuh,” tutur Man dengan mata berbinar, mengenang masa kejayaannya.
Namun, kejayaan itu mulai memudar setelah memasuki tahun 2000-an. Munculnya pusat perbelanjaan baru seperti Plaza Andalas perlahan menggeser posisi Permindo sebagai kawasan unggulan. Aktivitas perdagangan menurun, pengunjung berkurang, dan banyak toko legendaris akhirnya tutup.
Perubahan itu turut dirasakan langsung oleh Man. Kini, kios Balingka Taylor hanya berukuran 1 x 3 meter. Ia bertahan di ruang kecil itu tanpa harus membayar sewa, berkat kemurahan hati pemilik tanah yang memahami perjuangannya.
Man juga menjadi saksi tumbangnya berbagai usaha di sekitarnya. Menurutnya, banyak usaha keluarga yang gagal bertahan karena generasi penerus tak memiliki semangat yang sama seperti para perintis dahulu.
“Banyak toko-toko dulu yang tutup setelah pemiliknya meninggal. Anak-anaknya tidak mau lanjut, akhirnya hilang begitu saja,” ujarnya.
Keseharian Man kini terbagi antara Padang dan Solok. Ia hanya membuka kios di Permindo setiap Jumat hingga Minggu. Selebihnya, Senin sampai Kamis, ia berada di Alahanpanjang, Kabupaten Solok, menemani istrinya yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar.
“Pemasukan sekarang tidak menentu, kadang ada, kadang tidak. Tapi saya sudah betah di sini,” ucapnya.
Pak Man tinggal di kawasan Siteba, Kototangah, bersama anaknya. Dari dua kali pernikahannya, ia dikaruniai 9 anak. Istri pertamanya telah berpulang, sementara istrinya yang sekarang berasal dari Alahanpanjang. (*)
Editor : Adetio Purtama