Sebelum berjualan telur gulung, Azwirman menghabiskan 21 tahun sebagai perantau di Jakarta dan Malaysia.
Di Jakarta, ia bekerja selama 11 tahun di perusahaan konveksi tas dan celana sekolah. Setelah itu, ia bolak-balik Malaysia selama 10 tahun untuk berjualan hijab.
“Awalnya kerja di Jakarta perusahaan konveksi… Abis itu saya bolak balik Malaysia berjualan hijab selama 10 tahun,” ujarnya pada Rabu (12/11/2025).
Hasil usaha hijabnya mampu membiayai pendidikan anak-anaknya hingga masuk perguruan tinggi. Namun, pandemi Covid-19 membuat bisnis tersebut berhenti total.
Ia kemudian mencoba usaha martabak mini sebelum akhirnya beralih ke telur gulung.
“Sebelumnya saya jualan martabak mini sejak Covid… setelah itu karena kurang laris ganti jadi telur gulung,” jelasnya.
Kini, Azwirman berjualan setiap hari di sekolah dan di sepanjang Jalan Adinegoro. Ia mampu menjual ratusan tusuk telur gulung per hari dengan omzet Rp200 ribu hingga Rp250 ribu.
Pendapatan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, meski belum memungkinkan membiayai kuliah anak lagi.
Bagi Azwirman, perubahan usaha yang ia lakukan selama hidupnya bukan kegagalan, melainkan cara bertahan.
Dari bekerja sebagai tukang jahit, berjualan hijab, martabak mini, hingga telur gulung, setiap langkahnya adalah bagian dari perjalanan panjang seorang ayah yang terus berjuang demi keluarganya.(CR6)
Editor : Hendra Efison